Kepada Pagi

image

Aku pernah duduk sengaja menikmati bulan, seakan menghambat pagi yang sudah ditandai fajar. Aku pernah duduk berlama bernegosiasi pada matahari agar terlambat terbit. Demi romansa malam. Aku pernah duduk menangisi malam yang berlalu. Tapi tolonglah, setelah aku mengenal pagi, aku selalu menunggunya lagi. Menunggu burung-burung berkicau, embun-embun mengenyahkan dahaga, adzan subuh yang menenteramkan, hingga segelas teh hangat yang mencairkan cinta.
Maka kepadamu pagi yang harus kutunggu lagi, aku tetap di sini. Menantimu dengan senyum berbalut air mata rindu. Menunggumu dengan semangat mengapi untuk menyalakan kobar kehidupan yang penuh makna. Semoga.
Maka kepadamu pagi, kutitipkan rindu yang menggantung di langit-langit malam. Kuucapkan doa yang mengerjap di antara kerlip bintang. Kunadakan cinta di antara senyap yang menyiksaku. Kepadamu pagi. Dengan mataharimu. Dengan cintamu yang tak hanya membuatku berani berjalan menatap siang, tapi juga senyuman menikmati malam yang senyap.
Maka kepadamu pagi, kubiarkan rindu menjadi jalan untuk ridlo-Nya.

Continue reading

Advertisements

Bulan, katakan padanya..

Aku janji dalam ceritaku malam ini tak akan ada air mata. Maka bersiaplah untuk tersenyum. Aku mau minta tolong padamu.
Bulan, kalau malam ini dia menatapmu, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, tersenyum ceria menikmati hikmah demi hikmah yang dijejakkan Allah di hidupku.
Kalau malam ini ia tengah tertawa lepas, bisikkan padanya, aku bahagia mengetahuinya.
Kalau malam ini dia mengeluh, katakan maafku padanya, aku tak akan ada untuk sekadar mendengar keluhnya, tapi Allah selalu ada untuk meluaskan hatinya.
Kalau malam ini ia tengah gundah oleh masalah-masalah duniawi, tegaskan padanya, pertolongan Allah itu amat dekat.
Kalau ia diam, cukup tatap ia. Tampakkan cahayamu, temani ia, sebagaimana cahaya menemaninya dalam namanya. Biarkan dia berpikir banyak sebagaimana sekarang aku tiba-tiba berpikir.
Kalau ia tak mengingatku atau tertawa oleh senyum selain senyumku, jangan marah, Bulan. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Katakan saja padanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Continue reading

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban. Continue reading

Bum Bum Bum Kamuforgonesia

Di antara raja malam yang seharusnya mengantarkanku pada penyelesaian exersia ini itu yang ingin kuselesaikan, aku malah terdiam lagi pada huruf-huruf penuh arti yang menunggu untuk dilanjutkan. Tiba-tiba semua terasa kopong. Tiba-tiba semua serasa meminta untuk dihentikan. Entah sampai kapan otak meminta hibernasi dari ini itu terus? Seharusnya, barang satu atau dua jam exercias ini dapat terselesaikan. Tapi, otakku memilih untuk melamun dulu.

Continue reading

Iya, Saya Rindu!! Lantas Kenapa??!

Wah langit mendung. Padahal saya ingin sekali menatap wajah bulan sendu malam ini. Ini akhir bulan bukan? Iya. Ia pasti malu-malu, tidak menampakkan purnamanya yang indah. Sayang sekali, awan tebal menghitam bahkan menutupi wajahnya yang tak utuh. Hei, apakah bulan di kotamu juga tertutup awan? Atau malah berbeda?

“Kamu rindu?”

Ptak!! Robokop itu menanyakan pertanyaan yang tidak ingin saya jawab. Harusnya memang tidak perlu ditanyakan. Itu retoris bukan? Hei, robokop, aku tahu kamu tidak bodoh. Bahkan bulan yang bersembunyi itu pun mengerti sekali.

“Kamu rindu?”

Ptak! Ptak! Kembang api seperti bermain di sudut hatiku. Pertanyaan tanpa suara itu kudengar lagi. Ribuan mil. Entah berapa pal kotamu dari tempatku berpijak. Menyebrangi lautan, atau jika mau mengarungi udara, bersahabat dengan bulan di sana. Jauh sekali, bukan? Bahkan mungkin ketika aku mengenal matahari di pagi hari, engkau mengenal salju. Jauh sekali, bukan? Bahkan saat ini di kotamu sudah larut sekali karena tiba waktu tengah malam.

“Kamu rindu?” Continue reading

Marmutnya Lepas, Payah..

Ada ‘ehem’ yang sedikit mengganggu malam ini. Harusnya dua marmut itu sudah bisa terpenjara dengan baik di kandangnya. Tapi malam ini aneh. Rasanya sudah lama sekali nggak merasakan sensasi aneh ini. Sensasi aneh yang sempat bikin jantungku tiba-tiba berdetak begitu cepat. Aneh. Aneh. Aneh. Aku menggumam sendiri, untuk beberapa detik terasa sulit sekali mengembalikan diri ke alam ‘sadar’. Marmut-marmut itu begitu menyebalkan.

Harusnya mereka sudah terkungkung rapi dalam kandangnya. Hanya perlu kuintip beberapa saat. Tapi malam ini seperti ada yang membuka kandangnya. Salah satu marmut itu keluar dari kandangnya, menggangguku. Bodoh, harusnya ini bukan masalah besar. Harusnya aku lebih bisa mengontrol diri dengan baik. Tapi zzz, jlebeb begitu saja, tanpa perlu koordinasi dengan mataku, hatiku sudah terasa aneh saja Continue reading