Surat (Terakhir) untuk Bulan

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala jenak-jenak rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas segala rindu bertumpuk yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bersyukurlah, rindu tak sempat memberdirikan kita di koordinat bernama pertemuan. Mungkin, itulah bentuk penjagaan-Nya. Continue reading

Surat Cinta: Melepaskan

Apalagi yang harus dipertahankan dari apa yang sudah tak ada? Apalagi yang harus dipertahankan dari kamu yang hanya mampu mengendap diam di sana? Apalagi? Selain air mataku yang mengalir menatapmu di balik kaca. Maaf, hari ini, dengan segala kerelaan yang kuupayakan, akhirnya aku melepaskanmu. Sebenar-benarnya melepaskanmu. Melarungmu dalam aliran yang aku tak tahu muaranya.

Hai, aku tak pernah rela sebenarnya. Sejak kamu mendiam seperti itu, cerita-ceritaku kembali luruh dibawa angin. Tak ada kamu yang mendengarkan. Atau jangan-jangan selama ini kamu mendengarkan dalam diam seperti itu?

Hai, kamu. Aku rindu bercerita. Aku rindu menatap birumu. Aku rindu menyapamu pagi hari lalu memberi butir-butir cinta yang bagimu adalah kehidupan. Aku rindu menangis, dan kamu menatapku sambil…entah tersenyum, tertawa, atau ikut bersedih. Aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti, kamu selalu ada dan mendengarkanku baik-baik.

Dan hari ini, aku harus melepaskanmu. Me-le-pas-kan. Kuulangi lagi, sebenar-benar melepaskan. Tak akan bisa lagi menatapmu, tak akan bisa lagi bercerita sesuatu yang mungkin menurutmu tidak jelas, tak akan bisa lagi berceracau malam-malam atau menjelang senja. Aku harus membiarkanmu pergi. Kata mereka, itu lebih bagimu. Walaupun bagiku, aaargghhh…

Apa kabar kamu? Apakah bakteri-bakteri itu sudah menguraikan jasadmu? 😦 Continue reading

KAMU!

Ajarkanku menjadi naif, senaif rasa ragu dan yakin yang kaubungkus dengan rapi di depanku. Senaif rindumu dan rinduku yang pura-pura tak tahu semua ketidakberdayaanku. Senaif harapan yang masih saja ada di ujung logika cinta. Senaif ketegaranmu yang tinggal menunggu waktu saja untuk lapuk. Ajarkanku menghadapi hatiku. Bagaimanalah? Jika penyebab sakit dan obatnya berada dalam wujud yang sama: KAMU. Iya, Kamu. Sesosok manusia dalam imaji futuristik yang kupunya.

Sepenggal paragraf dalam surat yang menunggu sampai.
Di atas bus.
19 November 2012

Sepenggal kalimat dalam cerpen

Aku harus berlari menjauhi langkahmu, bukan karena aku ingin pergi, tapi aku harus menunggumu di sana, di ujung jalan itu.. Dan kamu mungkin akan sampai di sana terlebih dahulu, maka tunggulah aku jika itu terjadi.. Aku ingin menyandarkan lelahku di bahumu..

Aku tahu, aku akan berada dalam lelah yang luar biasa berlari menjauhimu. Aku tahu, aku akan banyak terengah-engah karena merindukanmu. Aku tahu, aku mungkin akan menyerah dan ingin kembali, tapi aku akan terus berlari.

Sesak aku berada dalam lena ini, mungkin akan lebih baik jika aku menjauh dari pikirmu. Kumohon, biarkan aku berlari, atau hentikan lariku sekarang juga dan genggam tanganku di depan janjimu pada-Nya. Aku tahu kadang kita masih harus takluk dengan waktu. Maka karena itulah, aku ingin berlari, karena kadang waktu terlalu kejam untuk kita. 

 

_lupa kapan nulisnya_

😀

udah laaamaa