Senja Memerah

image

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.
Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini.
Tapi aku takut. Aku takut. Bahkan aku pun tak berani menjelaskan pada senja tentang rasa takut itu. Kecuali kamu datang, membawa malam yang dijanjikan langit.
Continue reading

Dalam Gerimis Senja

Dalam Gerimis Senja

Tertatih melambai-lambai

tiba-tiba aku seperti daun

jatuh

tidak ada angin

hanya saja suara rintik ini

ah, aduhai syahdu sekali

aku jatuh seperti daun

bertemu dengan bumiku

tapi jauh sekali di sana anginnya

rintik-rintik ini apakah membawa angin?

Gerimis senja

tidak ada biru langit

apalagi senja memerah

tapi aku daun tetap jatuh

mencium bumiku

mencari angin yang menjadikanku jatuh Continue reading