Pertemuan

bukankah setiap puncak harus kaucapai dengan jalan menanjak penuh perjuangan?

bukankah setiap puncak harus kaucapai dengan jalan menanjak penuh perjuangan?

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti.  Continue reading

Advertisements

Terbiarkan

Mendiam aku dibuat kamu
Untaian abjad sunyi yang teramu
Hanya mengonggok dalam ruang semu
Yakin, aku yakin waktu pun jemu
Intip segala rindu tanpa temu
Nuranikan segala kecamuk logika
Uraikan cerita penuh terka
Rapikan kenangan tercabik luka
Fluktuasikan rasa berlatar harap
Ironis dalam diam tanpa tatap
Terbiarkan oleh tawa yang lebih kerap
Rautan pena pun terkesiap
Aku lalu menyerah berselimut senyap
Hendak terbang tapi tak bersayap
Ada pula roncean tanya belum terucap
Nalarku barang kali tak berani menjawab
Entahlah, biar abjad-abjad ini menguap
Firasat-firasat membersamai harap
Ikatan rasa toh terlanjur mengendap

Continue reading

Pergilah, Rindu

Pada tampias hujan, kamu datang sebagai percikan. Pada sisa-sisa parutan keju, kamu menyisip di sela lubang-lubang parut. Pada suara decit pintu kamarku yang rusak, terdengar suaramu ikut berdecit. Kamu membersamai ruas-ruas jariku. Juga mengalir di sepanjang arteriku. Kamu datang walau isi kepalaku menghalang. Mampir di sela apapun yang tak kuduga. Aku bisa apa? Hei, Kamu! Namamu rindu bukan? Jika iya, jangan datang lagi. Sebab namaku sepi. Sesepi layar putih temuan Bill Gates yang sudah 47 menit kutatap. Aku mencoba mengeja huruf di sana, tapi kesusahan memadunya menjadi kata. Sebab lagi-lagi cuma kamu yang tereja. Rindu. Bagaimanalah.. Logikaku mulai kewalahan memenjarakanmu. Ah, rindu, berdamailah sedikit dengan rasa.

Pojok Biru 2,
19 Januari 2013
18.57 WHH

Untuk rindu, Ibu, Abah, Farkha, Nidul, Amiq, mbah, sc8.. Bebaskanlah rindu dari penjaranya. Izinkanlah dia meramu rasa dalam cangkir hangatmu.. Biarkanlah hangatnya seduhan itu mengaliri cawan penuh asa.

Untuk Squalus, temukanlah sebungkus cerita dari Sephia. Berjudul rindu, sebungkus cerita itu mengapung di laut mati. Maka kejarlah. Urailah tali bungkusan itu. Sebab Sephia kehilangan ceritanya. Ia bahkan tak bisa mengeja rindunya. Sementara bongkahan huruf menyesakkannya. Aih, bagaimanalah, maafkanlah cumi-cumi kecil itu, Squalus. Ia cuma rindu. Itu saja..

secuil bongkahan yang akhirnya runtuh dalam beberapa baris kata, semoga bongkahan lainnya segera roboh.

Bukit Bintang (Membuang Benci)

image

Kubuang amarah pada lampu-lampu yang tampak titik di kejauhan sana
Kulempar dimensi benci yang pagi ini membuatku sesak, pada bintik bintang  di timur kakiku berpijak
Kupecahkan emosi di temaram oranye yang disaksikan banyak orang di hamparan ini
Kuteriakkan segala kesal pada rerumputan yang oleh mereka dinamai bukit bintang.
Biar semua benci mengudara bersama asap jagung bakar atau percik kembang api
Biar sesaknya berpilin bersama aliran bayu malam ini
Semoga amarah sirna seperti titik lampu yang redupnya menipis oleh matahari pagi

Biar malam ini aku berbicara pada langit yang menyimpan sekelabat siluetmu
Bukankah sejatinya langit tetap biru walau gelap malam membuatnya hitam?
Begitupun seharusnya hati.
Dan jika pembentuk warna biru itu adalah atmosfer, biarlah Tuhan satu-satunya yang berhak menghilangkan birunya hati.

Di bukit ini,
Cerita sepertiga akhir tahun yang menyesakkan kutinggalkan
Benar hanya rindu yang kubawa
Kubuang benciku padanya
Kukembalikan setengah kamu yang kubenci pada seutuhnya kamu yang kurindu

Bukit bintang
24 Desember 2012
22.07 WHH

Hujan, Dingin, dan Jendela yang Menutup

Entah kenapa, aku masih suka bermain dengan lima huruf ini. Menikmati sore sambil memainkan jemari mempersoalkan hujan.

Hujan, entah kali ini siapa yang berhasil menebak maknanya. Aku tidak menunggu puisi balasan. Tapi, jika ada, tentu akan sangat mengejutkan. hehe.

Dan sore ini, bisa jadi kenangan tentang hujan menutup seiring dinginnya sela yang dihadirkannya dan jendela kamarku yang juga menutup perlahan. Aih, aku terlalu banyak berkata. Ini puisiku ke sekian tentang hujan.

Hujan, Dingin, dan Jendela yang Menutup

 

Continue reading

Puisi Balasan- Jika Hujan itu Masih Miliknya

Baru pertama kali aku memperoleh puisi balasan, tanpa kuminta. Ia menebak-nebak makna puisi “Hujan” yang sebenarnya terangkai begitu saja dari tuts-tuts hitamku. Ya, dia benar, setiap kata menyimpan makna, begitupun hujan sore itu yang kutulis. Tak pernah kusangka dia benar-benar mencari dan menyelami maknanya, berkali-kali bertanya padaku benar demikian atau tidak, berkali-kali kukatakan “bukan begitu”. Lalu terakhir saat aku mengatakan “iya benar” , melalui ruang maya bernama whatsapp, dia memberikan sebuah link. Puisi balasan darinya. “Spesial buat kamu, Himsa.” katanya. Aku tahu ini bentuk sayangnya untukku. :’)

 

Jika Hujan itu Masih Miliknya

  Continue reading

Hujan

Sore ini hujan milikmu lagi..
Ketika rintik-rintiknya menyanyikan nada cerita magis
Sore ini hujan milikmu lagi..
Sebagaimana sisa baunya yang masih terasa bahkan ketika kamu pergi
Sore ini hujan tidak deras..
Tapi masih milikmu.
Kamu bersembunyi di ujung sana
Di sela rintik yang menggerimis, kamu berikan ruang untuk siapapun menerobosnya
Dan kamu susah payah membuat ruang itu tak ada lagi.
Sore ini hujan masih milikmu..
Sambil berbisik angin melerai raguku
Ruang itu akan tetap ada.
Walau ia tahu di sini aku berteduh.

Tapi hujan masih selalu milikmu
Di mana teduh adalah saat kamu benar-benar menerabas hujan ke arahku, meninggalkan ruang di sela-selanya.

Sore ini hujan masih milikmu..
Aku menatapnya di balik jendela kamarku
Berdamai pada angin yang terus melerai kecamuk dada
Sore ini hujan masih milikmu..
Walaupun menatapnya adalah sakit luar biasa yang kubunuh atas namamu.

Pojok Biru 2,
30 Oktober 2012
19.03