#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? 😀
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe. Continue reading

Men Sini in Women Sono

Berhubung kemarin saya sempat bawa-bawa gender di tulisan ini , saya rasa saya perlu bertanggung jawab untuk memberikan jawabannya. Apakah benar wanita ingin dimengerti? Bagaimana cara mengerti? Alhamdulillah, kemarin langsung dapat jawaban dari video ini. Mangga, selamat menikmati. Selamat tersenyum, Muslimah! 🙂

Notes: IKHWAN WAJIB NONTON 😛

 

Dongeng Sebelum Tidur (Seharusnya Perempuan Itu..)

Sejak Ipank meninggal, saya sering berbicara sendiri pada ruang kosong bernama line. Di sana, saya asyik berbicara dengan seseorang yang saya tahu pasti tak akan mengaktifkan akun line miliknya. Well, sometimes, that’s so interesting. 😀 Kadang, saya juga mendongeng tidak jelas kepada Upin, Pinu, atau kepada diri saya sendiri. Malam ini, saya ingin mendongengi diri sendiri. Tentang rangkuman nasihat dari Abah, Ibu, dan lainnya. Nasihat untuk perempuan. Akan kubagi untukmu, Cantik. 🙂
Tadi sore, Abah menelepon santai seperti biasanya. Tapi pembicaraan beliau, bagiku sangat serius. Berikut percakapan kami.
Abah: Lagi ngapain, Vi? Libur asyik nih tidur seharian.
Continue reading

Berawal dari “Selesai” (Takdir Tuhan Tak Akan Pernah Tertukar)

-Selesai-

Aku pamit.

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.

Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis.

Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Continue reading