A Little Thing Called “KEPO”

Ceritanya baru aja nonton film “A Little Thing Called Love” makanya jadi agak terpengaruh gitu ke judul tulisan ini. Haha. Ke mane aje lu, Hims, hari gini baru nonton tuh film? Santai aja kelees (gaya Feni), gue kan nggak hobi film kecuali disodorin atau ada novel kesukaan yang difilm-in. Hehe. Nah, apa hubungan antara film itu dan tulisan ini? Nggak ada sih, biar keren aja (Gubrak!). Ya intinya saya nggak ngobrolin tentang “love” tapi “kepo” walaupun “kepo” dan “love” sebenarnya saling berhubungan. Nah lho? Sabar. Baca dulu ocehan tidak jelas saya ini sampai selesai 😀 Walaupun–lagi-lagi–tulisan ini akan jadi random sekali. Otak saya masih dalam posisi randomisasi tingkat tinggi yang artinya nggak bisa diajak skripsian. Jadi, daripada saya nggak produktif, saya ngerandom aja di sini ya 😛

Hmm, sudah pernah saya singgung sebelumnya sih, saya sering merasa orang zaman sekarang malas peduli karena malas dibilang kepo. Mungkin juga saya. Jadi, ketika kita ketahuan kepo-in seseorang jadinya malu. Padahal mah nggak apa-apa. Bukan semua yang kepo berarti ada apa-apa kan? Kepo itu tanda sayang. Tapi kalau dikepoin juga nggak usah kegeeran macam-macam dan mengartikan sayang yang gimana-gimana. Apalagi perempuan, saya sudah bilang berkali-kali, nggak usah melayang-layang, nanti jatuh kalau sakit. Tapi juga nggak usah kepo-in yang nggak penting juga, nanti sakit hati. Pengalaman ya, Hims? 

keep-calm-and-stay-kepo

Keep calm aja Bro Sist. Keep kepo! Karena menurut saya kepo itu perlu. Continue reading

Berkunjung Lagi ke Castra Jayecwara

Akan selalu ada sebuah masa yang sangat indah dan kita tidak akan pernah bisa mengulanginya.

-azaleav-

 

Mengunjungi SMA N 1 Pati selalu menyisakan cerita tersendiri. Selalu saja, semua cerita itu seperti tergambar lagi. Ada tawa mereka, canda mereka, bahkan desah nafas bapak ibu guru tiba-tiba memenuhi pikirku. Maka jangan heran, jika dalam langkah kaki saya di sekolah itu, kadang-kadang saya tertawa sendiri. Continue reading

Sebuah Cerita Tentang Roti Unyil dan Kota Impian

Kota ini kota impianku. Kota yang kuharapkan menjadi tempat berlabuhnya mimpi-mimpiku. Kota ini sungguh kota impianku. Dan hari ini aku sampai di sini. Aku berpijak di kota impian.

 

Bogor, 27 Januari 2012

Stasiun Bojonggede

21.03 WIB

 

Kutuliskan cerita ini sebagai bingkisan untuk anak-anak kita kelak bahwa kita pernah bersama..

Kutintakan pena tentang goresan perjalanan ini agar kita bisa membaca setiap hikmah yang ditorehkannya..

🙂

 

——————————————————————————————————————–

Lima wajah perempuan yang baru saja turun dari kereta nampak lusuh. Aku satu di antaranya. Namun, di balik wajah lusuh itu, ada semangat yang memancar. Ada rona bahagia. Bayangan roti unyil menari di kepalaku.

Perjalanan menuju kota impian ini memang cukup amazing. Berawal dari adanya informasi tentang sebuah konferensi nasional yang akan berlangsung di Jakarta Pusat, kami kemudian memutar ide. Yap, muncullah ide untuk berpetualang terlebih dahulu di Bogor, sambil menjemput Ayin ceritanya (Tidak, ini ide gila Himsa!). Dan tentu saja, untuk memuaskan rasa penasaran tentang oleh-oleh yang sangat terkenal dari Bogor, ROTI UNYIL. Sayang sekali, roti itu belum mau kita dapatkan. 😦 Continue reading

Iri?

“Aku iri sama kalian. Aku iri sama semangat kalian. Aku iri pada apa yang kalian dapatkan di tempat kalian berada. Aku iri pada cara kalian menikmati bangku kuliah.” kataku pelan, ketika mengunjungi sahabatku di UGM, Jogja, beberapa waktu lalu. Saat aku mengatakannya, aku sudah hendak berpamitan pulang.

“Ah, kamu salah. Kita yang iri sama kamu. Kita yang iri sama prestasi kamu di sana. Kita yang iri pada bagaimana cara kamu mengambil kesempatan dan memanfaatkannya.” jawab temanku dengan penuh senyum. Jawaban itu, menemani seluruh perjalanan pulangku ke rumah. Continue reading