Mimpi Kita

mimpi kita

Kamu tak akan mengerti betapa hidup itu tidak adil ketika kamu belum merasakannya sendiri. Kamu juga tak akan mengerti betapa hidup itu amat adil ketika kamu belum memasrahkan hidupmu sendiri. Aku pernah mengalami semuanya. Dan sekarang aku mengerti betapa kehidupan itu amat…. Ah, coba simpulkan sendiri dari ceritaku ini.

Bandara Soekarno-Hatta belum terlalu ramai dini hari itu. Aku sendiri datang berdua ditemani seseorang. Kami pamit di halaman depan terminal 2D pintu 2. Ia tersenyum di mobilnya, melambaikan tangannya ke arahku. Matanya memandangku penuh rasa sedih. Aku mendekat lagi ke jendela mobilnya.

“Beneran nggak mau nemenin sampai dalem?”

“Aku nggak mau jadi cowok rapuh di depan kamu.” katanya sambil tersenyum.

“Rapuh gimana? Dengan kamu tidak berani menghadapi kenyataan, itu artinya kamu…”

“Hai sudahlah, bagaimana pun kamu harus pergi. Jaga diri baik-baik, ya.” Dia tersenyum lagi.

“Aih kamu nggak ada romantis-romantisnya. Temenin lah, setidaknya sampai boarding.

“No! Aku tahu kamu gadis yang amat mandiri.”

“Aih, parah.” Mataku mulai berkaca-kaca, bukan karena kata-katanya, melainkan karena menyadari kehidupan yang harus berjalan seperti ini.

“Kita udah janji nggak akan pernah ada air mata ya?” ia mengingatkan, “lima belas menit lagi, check in udah ditutup. Buruan lariiii.”

“Hei?” aku merajuk, ingin sekali memeluknya.

“Cepat lari! You’ve decided it, so you must do it! No matter how it will be. Believe me I can, and you can.”

Dia tersenyum sekali lagi sebelum ia tancap gas meninggalkanku berdiri sendirian. Selain karena memang satpam bandara sudah berkali-kali mengingatkan supaya ia tidak parkir di sana, aku tahu ia tidak pernah sanggup melihatku menangis. Aih, mengapa perpisahan terkadang harus seperti ini? Bukankah perjalanan impian ini harusnya kita jalani berdua?

***

Continue reading

Catatan Siang Seorang Pejuang Passion

Ketika kita sudah memutuskan untuk tidak mengambil jalan yang diambil oleh orang lain pada umumnya, artinya kita pun harus siap menanggung diri untuk meningkatkan kapabilitas kita dalam melewati jalan yang kita pilih sendiri. Jangan pernah lelah, mungkin mereka sudah menikmati jalan mereka. Dan kita, masih mencari kendaraan yang tepat agar tetap berada di jalan kita. Jangan merasa kecil, apalagi menyerah. Setidaknya kita hanya perlu terus berjalan. Walaupun tersandung. Walaupun mungkin harus berbelok dulu. Walaupun mungkin lebih terjal dari jalan lainnya. Jangan pernah menyerah. Para pejuang passion akan tetap bahagia di jalan ini untuk meraih kebahagiaan hakiki. Selagi kita terus berjalan, dan tidak keluar dari jalan yang telah kita pilih, insyaAllah petunjuk akan terus terbuka. Ya, selama kita pun percaya Dia.

image

Continue reading

Melompat Lebih Tinggi

“Tidak apa mundur beberapa langkah dulu, karena dari sana kamu bersiap untuk melompat jauh lebih tinggi. Dari pada kamu terus melangkah dalam langkah yang itu-itu saja.” –abah

Bukankah kamu sudah berjanji, Himsa?

Bukankah kamu sudah berjanji, Himsa? 🙂

Kegalauan pasca kampus memang hal yang sangat wajar terjadi pada setiap orang. Belum, saat saya menulis ini jadwal sidang saya bahkan belum keluar. Saya tidak tahu apakah saya sudah dapat dikatakan masuk ranah pasca kampus atau belum. Tetapi, benar kata orang-orang, kegalauan sudah merayapi sudut-sudut hati. Pertanyaan wajar, mau ke mana saya setelah ini?

Dan saya yakin sekali setiap diri kita punya jawaban untuk pertanyaan itu. Begitu pun saya pribadi. Tapi kadang, keyakinan pada hati kecil kita goyah oleh berbagai hal, terguncang angin sepoi yang seakan ingin memberhentikan atau membelokkan kita dari tujuan kita, dari mimpi-mimpi kita. Ya, ini soal mimpi. Tapi juga benar kata orang bahwa dalam keberjalanannya nanti idealisme mimpi kita sering terbentur dengan realitas.

Well, mau apa saya setelah kuliah? Walaupun saya menulis mimpi-mimpi dalam buku, mencari jalan mewujudkannya, mendoakannya, namun tetap saja kadang keraguan itu muncul begitu saja. Apa saya bisa hidup dari mimpi-mimpi itu? Sementara terkadang posisi menjadi anak pertama begitu hmm entahlah, mungkin kalian yang anak pertama tahu rasanya. Continue reading

Turkey Story #1 (Before Istanbul)

Aaah, sudah sebulan lebih ternyata sejak kepulangan dari Istanbul, tapi cerita indah itu tak sempat tertuang. Maka, sebelum cerita ini akan semakin usang, izinkanlah penaku kembali mengukir apa yang terkenang. Tak ada kata terlambat. Suatu saat nanti, kalau anak saya tanya, “Mama gimana ceritanya pas di Istanbul?”. Aku akan bilang, “Ini, Nak.” *ngekhayal* Lupakan, cerita ini adalah oleh-oleh yang semoga membuat siapapun yang membacanya jadi makin semangat untuk menggapai impian 🙂

Baiklah, saya kebiasaan bermukadimah lama-lama, maafkan. Yuk terbang ke Istanbul sama Himsa.. Sebelumnya, boleh baca dulu cerita sebelum Himsa terbang di kisah mimpi no. 20. Mari terbaaaaang.. ^^

***

Bandung, 22 Oktober 2013

Bandung siang hari itu tidak panas, tidak juga hujan. Mendung. Suasana yang cukup bersahabat untuk aku dan Haning menyusuri setiap sudut kota guna mempersiapkan segala persiapan keberangkatan. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, perjalanan ke Turki ini merupakan perjalanan pertama ke luar negeri baik untuk saya maupun Haning. Kami sibuk belanja perlengkapan logistik, mulai dari Indomie, cemilan, susu, sampai perlengkapan mandi serta keperluan pribadi lainnya. Kami sengaja membawa banyak perlengkapan mengingat cerita teman bahwa lidah orang Indonesia tidak suka makanan luar negeri. Haha. Selanjutnya kami tahu, pergi ke Turki tak perlu bawa banyak makanan. Aduh bagaimana lah, makanan Turki ternyata enak-enak dan porsi besar lagi. Serunya, makanan yang kami bawa dari Indonesia ternyata bermanfaat sekali untuk mahasiswa Indonesia yang tinggal di sana. Melepas rindu, kata mereka. Aah, masih kebayang wajah bahagia seorang teman ketika melihat kami membawa Teh Kotak. 😀

Setelah segala perlengkapan kami rasa cukup, kami beralih ke daerah Sukajadi untuk menukarkan uang dari rupiah ke Lira. Susah sekali ternyata mencari mata uang TL (Turkish Lira) di Money Changer. Tidak semuanya punya. Karena terlalu bersemangat, sisa uang yang kami punya kami tukarkan semua ke Lira, takut di sana kehabisan uang. Haha. Satu pelajaran penting. Kalau mau ke luar negeri yang mata uangnya susah ditemukan seperti Lira, sebaiknya bawa uang Dollar atau Euro saja. Nanti di sana, semua money changer menerima penukaran mata uang tersebut. Selain itu, nilai tukar kembali ke rupiahnya pun tidak terlalu jatuh. Santai aja, untuk negara dengan pesona pariwisata macam Turki, money changer tersebar di mana-mana.

Sore hari, Bandung ternyata bersahabat dengan langit untuk menurunkan hujan. Baiklah, mau tidak mau hujan harus kami terjang mengingat pukul 19.30 kami sudah harus siap di pool travel untuk menuju Bekasi. Alhamdulillah, walaupun sedikit kehujanan dan buru-buru, kami berangkat ke Bekasi dengan selamat. Terima kasih Winda dan Feni yang mengantar, yang super tangguh bawa koper-koper kami 😀

Cengkareng, 23 Oktober 2013

Sore hari, sekitar pukul 16.00, kami sudah siap. Diantar oleh orang tua Haning, dan dengan mengucap bismillah, kami berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah, setelah melewati macet, sekitar pukul 19.30 kami sampai di Terminal 2D. Yeah, waktu semakin dekat.

1-Turkey

Oh ya, perjalanan kami tidak berdua saja. Kami berangkat berempat: saya, haning, Kak Sukma dan Anpio. Kak Sukma juga satu dari enam undangan yang diundang untuk mempresentasikan paper di acara DEYS 2013, ia merupakan seorang fresh graduate dari FISIP UI. Seorang lagi, Anpio, adalah siswa tangguh kelas XII dari sebuah SMA di Lampung, ia juga diudang karena abstract-nya terpilih sehingga ia diundang untuk menjadi bagian dari konferensi ini. Ada kejadian menarik antara saya dan Anpio. Karena sebelumnya kami hanya berkomunikasi via message fb, maka kami saling tidak tahu wajah kami. Nah, ceritanya Anpio telepon saya pas udah di bandara. Continue reading

Tentang Mimpi No. 20

Seringkali, kita justru mendapatkan sesuatu yang kita inginkan setelah kita melepaskannya.

***

 

Pertolongan Allah itu amat dekat :)

Pertolongan Allah itu amat dekat 🙂

“Loh Mbak, bukannya kamu pingin ke Turki ya?” kata adekku ketika kita ngobrol dan aku menyeletuk ingin menjejakkan kaki di Perancis. Beberapa bulan lalu, saat libur semester.

“Eh iya ya?” kataku.

Aku teringat sebuah pembicaraan setahun sebelum hari itu. Usai buka puasa, meja makan adalah tempat favorit keluarga kami untuk membicarakan apapun. Saat itu iseng aja aku bilang, “Bah, aku mau ke Turki.” gara-gara nonton acara TV Ramadhan yang banyak menawarkan keindahan dan pesona sejarah kota Istanbul. Abah tersenyum lalu memberikan banyak khutbah sambil bercanda seperti biasanya, intinya “tidak ada yang tidak mungkin, Vi.”

Ya, bagi keluarga sederhana kami, melakukan perjalanan ke luar negeri bukan sesuatu yang tinggal merem, mengingat budget yang lumayan tidak sedikit juga. Aku juga sadar kesempatan itu harus kuperjuangkan, bukan sekadar kutunggu. Dan lihatlah, rentetan mimpi itu seperti domino. Aku sepakat dengan falsafah Andrea Hirata, bahwa Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Continue reading

3 Hal tentang Impian

Setidaknya, sampai detik ini, sudah ada 3 hal besar tentang impian yang kucatat. Tiga hal yang merupakan buah kontemplasi panjang, setelah sempat merasakan apa yang orang-orang rasakan tentang impian. Tiga hal setelah pernah berkhayal tentang mimpi, berjuang, terjatuh, terpuruk, menangis, lalu lunglai. Lalu, kemudian juga bangkit lagi. Tiga hal ini, nanti mungkin akan bertambah dan jumlahnya akan ekuivalen dengan hari ditambah cobaan dan pengalaman yang kurasakan. Continue reading