Halte (cerpen)

Aku sudah duduk di sini sejak empat jam yang lalu. Sudah puluhan bus yang lewat. Sudah ratusan langkah kaki yang lalu lalang. Mereka bertanya, “apa yang kutunggu?”
“Bus kuning,” jawabku.
“Sudah berlalu banyak sedari tadi. Tapi tak kau hiraukan. Apa yang masih kamu tunggu?” kata mereka.
Kamu. Hanya hatiku yang menjawab. Mulutku diam. Mereka lelah menungguku tak kunjung berbicara. Aku menunggu bus kuning berisi kamu, tersenyum juga menungguku di dalamnya. Tapi tak ada.

Empat menit kemudian, kamu datang. Bukan naik bus kuning. Roda sepedamu berputar. Seorang gadis duduk di boncengannya. Bus kuning datang lagi. Aku pergi dan kamu mengikutiku. Bus kuning berlalu. Sepedamu sudah terjatuh sejak kamu mengejarku. Gadis itu terdiam sendu menemani halte. Kami diam memeluk tanya.

Di halte, orang-orang menunggu. Aku juga.
Continue reading

Advertisements

Nymphaea Alba

nymphaea_albaKamu kehilangan kata. Cerita hanya mampu membeku. Sementara 149.599.000 kilometer dari titikmu berpijak, cahaya itu menyilaukan mata. Harusnya panasnya mencairkan cerita. Tapi tidak. Kamu menatapnya sambil mengatupkan tangan kananmu ke sebagian wajahmu. Mata kirimu mulai memicing. Nafasmu setengah terhambat. Ada yang kamu tahan. Ada yang kamu simpan. Jelas kamu tidak rela ada fluida lagi mengalir dari mata beningnya. Itulah mengapa kamu berlari menjauhinya. Menerima telak semua keputusannya. Lalu berhenti di sini. Di pinggir danau dengan Nymphaea alba  yang bunganya menunggu mekar. Kamu tahu persis itu impian kamu dan dia.

“Kamu sayang sama aku atau impian kamu?” pertanyaan itu mengiang begitu saja.

“Hei, itu pertanyaan konyol!” jawabmu.

Dia tersenyum. “Pernahkah kamu bertanya mengapa kita bertahan dengan semua kondisi ini? Dengan cerita luka yang magis, dengan kepercayaanku yang menipis, tapi dengan rindu yang masih saja berlapis?”

“Karena kita masih punya tujuan yang sama,” tegas kamu menjawabnya.

“Apa? Jangan-jangan kita hanya terlalu sayang jika impian kita tidak tercapai, maka kita memilih untuk bertahan, senano-nano apapun rasanya perjalanan ini.”

“Aku mau membangun danau dengan beragam Nymphaea yang indah. Dan kamu akan menjadi yang paling anggun di sana. Menjadi Nymphaea alba.”

Dia tertawa kecil, lalu berdiri, membelakangimu. “Itu impian kamu.”

“Lalu impian kamu?” kamu mulai gemetar. Jantungmu menunggu sebuah jawaban agar ia tidak berdegup lebih kencang dari ini. Continue reading

Apakah waktu bertanggung jawab?

Aku tahu ini terlalu klasik. Menjauh, menyerahkan pada waktu sebagai satu-satunya aktor untuk sebuah perjumpaan atau sekadar pembicaraan. Dan kita sama-sama tidak tahu kapan waktu itu ada. “Suatu waktu.” katamu. Bagaimana jika suatu waktu itu tidak ada? Apakah waktu juga yang akan bertanggung jawab pada sakit yang ditinggalkannya? Itu terlalu abstrak. Tapi, aku kemudian tahu, Tuhan pula yang memegang kendali pada waktu. Termasuk waktuku dan waktumu, jika memang benar ada dalam satu dimensi yang sama. Lalu kalau tidak?
Jeda. Itu yang kupilih. Sementara banyak yang lain memilih mendekat, mengurangi jeda denganmu. Dan aku justru setia pada jeda, tersenyum menikmatinya. Seperti kataku tadi, memasrahkan urusan ini pada waktu. Menunggu di balik alfabet. Merindu tanpa berkata. Terkadang menangis di sela hujan. Lalu bagaimana jika mereka berhasil merapat membuang jeda, sementara aku masih diam menagih janji waktu yang jelas-jelas kita tak tahu?
Biarkan udara pagi ini kuhela sedikit lebih panjang, untuk meyakinkan lagi bahwa Tuhan adalah Event Organizer Maha Dahsyat. Aku tahu menunggu apa yang bahkan kita tidak tahu itu menyesakkan, tapi aku bahkan tak tahu kenapa masih saja menunggu.

“Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.”

Pojok biru 2
24 September 2012
7.07 whh