Mencemburui Masa Lalu

image

Suatu kali saya pernah memiliki pertanyaan, “apakah setiap orang pernah mencemburui masa lalu pasangannya?”. Saya, jujur saja, pernah. Lalu, pikiran saya terbang menuju berbagai situasi lampau di mana seandainya pada masa lalu itu, saya lah yang ada di sebelah pasangan saya, bukan orang lain. Tapi pikiran saya yang lain seperti membunyikan alarm sendiri. Hei, bukankah di masa yang sama yang telah lampau itu, saya pun juga memiliki kisah sendiri? Adil. Bukankah kita dibersamakan sepaket dengan masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan? Saya terdiam lagi.

Continue reading

Advertisements

Menulis Masa Lalu

Di tengah serunya diskusi dengan Rhein Fathia di Nulis Buku Club kemarin (13/ 7), aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan tentang sesuatu yang paling sering menggangguku dalam proses menulis.
“Dalam setiap proses menulis, saya yakin, selalu saja ada kenangan atau masa lalu yang menjadi inspirasi. Nah masalahnya, ketika hendak menuliskan cerita itu, rasanya ada setrum yang bikin lemes gitu. Walaupun sudah berdamai dan memaafkan masa lalu, tetap saja mengingatnya itu seperti membuka ingatan menyakitkan. Bagaimana caranya tetap menulis suatu kisah masa lalu yang menyakitkan dengan kendala-kendala seperti itu?”, tanyaku panjang lebar.
Teh Rhein menjawab dengan ‘pedas’ namun sangat kusukai.
Continue reading