Dialog Langit (Jangan Pernah Cemburu pada Bintang, Bulan!)

Bedebaaamm, bedebuuumm. Suara itu terdengar keras sekali. Di mana? Di mana? Kau tidak akan menemukannya. Bedebaaaamm, bedebummm, kemudian bergoyang. Ah, ini tidak hanya bergoyang, tapi berguncang. Dddaamm ddduuummm. Di mana sumber suara itu?

Mungkinkah langit tahu jawabannya? Malam belum kunjung datang ketika itu. Cahaya matahari masih sangat terangnya hingga kilau bulan dan percikan bintang-bintang tiada terasa oleh langit. Bulan hanya sedang gelisah. Menanti malam yang dijanjikan indah oleh langit.

*** Continue reading

Sempurna di Pucuk Horison Biru

Luas. Membentang indah. Untuk pertama kalinya setelah langit diwarnai dengan romantisme mendung dan gerimis, malam ini langit ‘berdandan’ dengan begitu eloknya. Gelapnya sempurna indah diterangi bulan yang juga melingkar sempurna. Bintang pun untuk pertama kalinya–lagi–kulihat menampakkan wajah-wajahnya, berkerlip manja, aduhai tergoda hatiku. Lampu-lampu tower pemancar juga takkalah bersaing, walaupun jumlahnya pun bisa dihitung jari, juga sebuah menara masjid yang tak megah di depan pandanganku. Malam ini sempurna megah bagiku.

Aku duduk di atas hamparan luas di lantai tiga. Bukan sebuah tempat istimewa, hanya lantai semen 10×8 meter, tempat terbuka yang akan ‘ditumbuhi’ kamar-kamar kontrakan lagi. Temanku antena televisi, juga beberapa baju jemuran yang belum diangkat oleh sang empunya. Tempat ini sungguh biasa-biasa saja. Bahkan beberapa rumah kosan di sudut Bandung ini hampir semua mempunyai tempat seperti ini. Tapi bagiku tempat ini indah. Di sinilah aku bercengkerama dengan romantisnya langit, atau terkadang melambai ketika pesawat lewat seperti kawanan burung. Aku menyebut tempat ini Horison Biru. Bagiku tempat ini selalu biru, hingga birunya tinta penaku menggores halaman kosong dengan sangat lancarnya. Continue reading