Langit (cerpen)

Ahimzz(819)

Toko buku ini masih sepi. Salah seorang petugasnya masih tampak menata buku di rak tengah, rak buku best sellers yang ditata sedemikian rupa untuk menarik perhatian pengunjung. Aku sengaja datang pagi-pagi, mencari diskon 25% yang ditawarkan toko ini untuk seratus pelanggan pertama. Aih, dasar manusia diskon! Tapi biarlah, untuk seorang penggila buku sepertiku, empat kali diskon 25% bisa menambah satu koleksi buku, itu penting. Hehe.

Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak langsung menuju ke rak pojok depan tempat novel-novel tertata rapi. Sengaja. Aku melangkah lebih jauh menuju rak belakang untuk mencari buku tentang filsafat komunikasi yang menjadi bahan dasar skripsiku. Skripsi? Ah, makhluk yang satu itu mau tidak mau mengurangi jatahku menulis dan membaca kisah-kisah fiksi. Sesampainya di area buku komunikasi, langsung saja kubuka buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” karangan Elvinaro yang kebetulan sudah dibuka sampulnya. Barangkali buku ini bisa menjawab pikiran kacauku tentang paradigma penelitian.

“Aisa.” Seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari sang pemilik suara. Seketika kutemukan seorang lelaki melambaikan tangannya sambil tersenyum di balik rak buku di seberang tempatku berdiri.

Astaga. Sekejap kecamuk pikiranku tentang paradigma penelitian, data-data latar belakang, teori-teori filsafat komunikasi yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku, enyah begitu saja. Aku tidak tahu molekul apa yang mampu menerbangkan mereka dari pikiranku. Seketika itu pula, mataku tertuju pada baju cokelat muda sesiku yang tampak dari sela-sela buku daaaan.. sepasang sesuatu yang mencirikhaskan dirinya. Itu dia. Kacamata itu. Kacamata itu mencirikhaskan seseorang yang… ah, tidak salah lagi. Itu dia.

“Eh, Bang Izar?” Aku menutup buku yang dari tadi kubaca. Hatiku memuji diriku yang bisa mengendalikan setrum yang tiba-tiba saja serasa mengaliri seluruh pembuluh darahku. Dia tersenyum lagi.

“Sudah pulang ke Indonesia, Bang?” kali ini aku mengutuk diriku. Pertanyaan bodoh. Jelas-jelas ia kini di depanku—tentu saja di Indonesia.

“Iya, kangen buku-buku berbahasa Indonesia.” Katanya sambil menyodorkan sebuah buku yang judulnya tak sempat terbaca olehku.

“Oh, thesisnya sudah selesai ya? Wah, keren..” pembicaraan ini mulai kaku, aku tidak tahu harus berbicara apa. Bertemu dengannya di pertemuan yang amat tak terduga seperti ini adalah kejutan yang tak pernah kusiapkan bagaimana cara mengatasinya.

“Belum kok, Abang ke Indonesia cuma seminggu karena kebetulan dapat tiket sponsor. Sebentar lagi selesai insyaAllah, Sa. Doanya.”

“Aamiin. Sukses selalu, Bang.”

“Rumah Langit apa kabar?”

“Masih biru seperti langit, Bang. Maksudku, adik-adiknya masih ceria dan semangat. Kalau ada waktu senggang, main saja, Bang.”

Dia tersenyum. Ingin sekali kutanyakan banyak hal, tapi semua terkunci bisu di tenggorokan. Kapan ia akan mengunjungi Rumah Langit? Masihkah ia ingat pada junior macam aku yang hobi sekali bikin heboh di komunitas itu? Masihkah ia rindu hari-hari tertawa ketika merangkai permainan untuk adik-adik? Ah, tapi tak ada satu pun pertanyaan-pertanyaan itu yang terlontar . Hanya itu pembicaraan kami di pagi yang sepi di toko buku. Aku pamit sesaat setelah ia tersenyum. Kuambil saja buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” yang dari tadi kubuka-buka dan kuserahkan ke kasir. Bang Izar masih menyusuri rak-rak buku itu. Aku menelan ludah sambil meninggalkannya. Kalau saja aku bisa berbicara padanya lebih lama… Kalau saja tenggorokanku tidak kering seketika.. Kalau saja tanganku tidak gemetar. Tapi entahlah perasaan apa ini namanya. Aku sudah lama sekali tak merasakannya sejak urusan patah hati menoreh luka di dasar hati. Aku seperti menyentuh langit. Melayang.

***

Nina tertawa mendengar ceritaku pagi ini, sepulang dari toko buku. Aku cepat mengetuk pintu kamarnya. Masih pukul 09.00, ia masih mengantuk. Aku yakin dia baru tidur pukul 07.00 mengingat kebiasaannya begadang semalaman. Ah, tapi demi mendengar ceritaku pagi ini, matanya terbuka lebar. Ia asyik menertawakanku. Aku cemberut.

It is a crazy little thing called love, Baby.” Katanya santai sambil menarik ciput jilbabku, membuat dahiku tertutup kain jilbab.

“Iya, terakhir aku melayang-layang di langit kayak gini ituuuu, lima tahun lalu, pas masih SMA. Kamu tahu persis ceritanya. Ah, kamu tahu aku hampir tak percaya pada hal kecil gila yang kamu sebut love. Bagaimana pun aku menjaga dan menghargai cinta, toh akhirnya cinta hanya berujung sakit kan? Sakit sekali, Nin. Melayang di langit, menunggu dijemput di singgasana bulan, lalu dijatuhkan begitu saja ketika senja menjelang.” Aku berbicara panjang sambil berfilosofi tidak jelas—kebiasaanku.

“Siapa yang bilang kalau cinta itu harus melayang-layang di langit? Itu salahmu sendiri, Aisa.” Continue reading

Advertisements

Biru

sama-sama biru namun memiliki cerita yang berbeda

sama-sama biru namun memiliki cerita yang berbeda

Bukan aku.

Bukan begitu? Ah, kamu bahkan berpura-pura tidak tahu. Bukankah seperti itu cara kerja rindu: diam-diam, lalu angin mengalirkannya ke dalam sanubari Sang Pemilik Rindu. Dan aku tahu, bukan aku pemilik sanubari itu. Ya, aku tahu dalam ketidaktahuanku. Rindu diam-diam itu senantiasa dialirkan angin secara perlahan, sedang aku hanya menyaksikannya lewat. Sementara rinduku pun meronta mengejar laju angin. Tak mampu.

Seperti malam ini, buku maya milikmu kembali menggoreskan lagi cerita-cerita birumu yang penuh metafora itu. Tentang angin yang lagi-lagi kausebut sebagai sahabat terbaikmu. Tentang air matamu yang kubaca dari baris-baris hurufmu. Tentang rindumu yang masih menyimpan sendu. Ah, kamu tidak tahu, di sini ada tentang aku yang diam-diam mengamati setiap sendumu, yang ingin sekadar mengatakan “Hei, jangan sedih, aku punya ratusan puisi balasan untuk setiap surat yang kautitipkan pada angin”, tapi tak pernah mampu. Bagaimana bisa? Bukan aku. Maka menyeduh kopi, menelan kembali semua puisi yang tercurah, adalah pilihan yang lagi-lagi kulakukan. Mungkin akan selamanya begitu, kalau saja malam ini kamu tidak menyebut namaku dalam akun twitter yang kamu punya. Continue reading

Ayat-Ayat Langit

Biru langit itu laksana simbol kesejatian biru. Refleksi keindahan yang nyata. Kadang mendung, kadang hitam, kadang cerah, kadang bergradasi, kadang berawan, dan semua fase itu teramat indah. Terlalu romantis terkadang untuk dijadikan metafora bagi para penyair, pujangga, juga penulis novel. Langit bisa jadi simbol apa saja. Tapi tetap, menginspirasi.

Aku selalu mengagumi langit.

Jangan berpikir tulisan ini akan berisi novel atau kisah fiksi karena judulnya mirip dengan novel fenomenal itu. Lebih dari itu, ini tentang surat cinta Tuhan, tentang penciptaan simbol biru yang-jika boleh berlebihan-adalah atap seluruh penduduk bumi. Juga tempat diturunkannya berbagai wahyu, termasuk hujan yang kamu dan kamu sangat sukai itu, yang menyebabkan bau tanah menjadi khas setelah diturunkannya, yang menjadikan tanaman dan tumbuh-tumbuhan menjadi subur.

Dengan segala takzim atas kalimat-kalimat indah yang saya kutip di bawah ini, saya ucapkan selamat berdecak kagum juga atas kuasa-Nya, sang Raja Langit. Continue reading

Jika Tak Lagi Biru..

Mengapa? Aku tak tahu mengapa aku justru bertanya mengapa. Jika pada langit aku sudah jatuh cinta, maka bagaimana bila aku mengenal biru yang lain? Maka bagaimana jika aku berhenti menjadi bulan? Lalu aku menjadi pantai untuk birunya laut. Atau menjadi lebah untuk kelopak birunya mawar. Maka bagaimana pula bila bahkan aku mengenal selain biru? Yang menenteramkan hatiku. Yang menenangkan intuisi-intuisi negatifku tentang sebuah perjalanan. Continue reading

Selarik Cahaya Bulan untuk Langit

Apa yang terjadi?

Mengapa engkau tampak begitu resah, langit?

Adakah yang mengusik tarian awanmu?

Ataukah berbagai ujian membuatmu merasa berat?

Ah, engkau, kutahu engkau selalu kuat

dalam diam, walaupun hujan mungkin akan kau turunkan

ah, aku selalu ingin di sampingmu

mendengarkan keluh setiap mendungmu

menjadi cahaya atas tarian awan hitammu

tapi haruskah aku menyinari

sementara malam belum waktunya datang

wahai langit,

tetaplah membentang biru

izinkan aku mengumpulkan cahaya menanti malam

dan izinkan pula aku berguru pada mentari di siangmu

aku ingin mencahayai gelapmu dengan sempurna

tetaplah membentang biru

karena bulan ingin selalu setia untuk malam

Pojok Biru 2,

23 Januari 2012

10.35

Dialog Langit (Jangan Pernah Cemburu pada Bintang, Bulan!)

Bedebaaamm, bedebuuumm. Suara itu terdengar keras sekali. Di mana? Di mana? Kau tidak akan menemukannya. Bedebaaaamm, bedebummm, kemudian bergoyang. Ah, ini tidak hanya bergoyang, tapi berguncang. Dddaamm ddduuummm. Di mana sumber suara itu?

Mungkinkah langit tahu jawabannya? Malam belum kunjung datang ketika itu. Cahaya matahari masih sangat terangnya hingga kilau bulan dan percikan bintang-bintang tiada terasa oleh langit. Bulan hanya sedang gelisah. Menanti malam yang dijanjikan indah oleh langit.

*** Continue reading