Foto

quote kenangan 

Ada kebisingan yang memekaki telingaku di ruang ini. Ruang kosong, berdinding putih kusam, dengan cahaya temaram. Tidak ada siapa-siapa di ruang itu, selain aku dan kamu. Oh, bukan,lebih tepatnya, aku dan foto masa kecilmu. Gigimu belum ada di foto itu, karena jika sudah ada, aku yakin mereka pasti akan berjajar rapi menghiasi wajah ceriamu, sebagaimana ciri khas semua fotomu saat kamu tersenyum. Aku lupa usiamu berapa di foto itu—mungkin enam bulan. Aku lupa. Yang aku ingat, kita terakhir bertemu tepat enam tahun yang lalu. Saat setiap cerita berakhir dengan jalan cerita yang sama sekali tak kuinginkan. Hari itu, semua tentangmu sudah tak ada. Kecuali foto ini, yang terselip di bawah pintu, yang mungkin jatuh ketika aku mengemasi semua barangku.

Maka, demi menemukan foto ini lagi, semua hal tentangmu bernyanyi dan bercerita bersahutan, memekaki telingaku. Semua. Dari suaramu yang menenangkan hingga suara serakmu ketika pamit.

Dulu, di ruangan kecil ini, aku menghabiskan masa kuliahku. Tiga tahun. Ruangan ini adalah saksi saat rinduku membuncah dengan pasrah. Atau saat suaramu menyapaku melalui telepon—yang sangat singkat. Tiga tahun kita bersahabat dengan hubungan tanpa pertemuan, yang bahkan hanya diikat dengan sekali dua perbincangan di yahoo messenger atau telepon. Selebihnya, kita berbicara lewat karya. Aku yang kaubaca dari tulisanku di tumblr. Dan kamu, yang kubaca dari gambar abstrakmu yang kauunggah di deviantart. Seindah dan semagis itulah hubungan tiga tahun yang kita jalani. Tiga tahun yang kita jaga demi masa depan. Walau nyatanya masa depan tak berpihak pada kita.

Kalau boleh mengenang, aku sering tak percaya bahwa cerita kita diawali dengan perpisahan dan diakhiri dengan pertemuan. Ingatkah kamu? Saat itu, kita sedang merayakan kelulusan sebagai siswa SMA—sekaligus keberhasilanmu memperoleh beasiswa untuk kuliah Ilmu Fisika di Inggris. Hari yang antah berantah buatku. Antara bahagia karena kita lulus, aku diterima di universitas impianku di negeri ini, dan kamu. Iya, kamu yang akan pergi jauh ke negeri orang.

“Zhira, nanti kalau aku udah berangkat, tunggu aku ya di masa depan.”

Fiuh! Aku masih ingat tulisanmu di sebuah sticker post it yang kamu tempel di buku tulisku. Yang bahkan sudah kusimpan rapi dalam kardus—harusnya kubuang, tapi entahlah. Tulisan yang terdengar konyol untuk remaja 18 tahun seperti kita. Tapi itulah janjimu yang kuterima dengan anggukan. Hari itu terakhir kita bertemu, karena setelahnya kamu sudah sibuk persiapan di Jakarta dan langsung berangkat ke Inggris. Aku sendiri melabuhkan cerita di kota ini, kota yang tak terasa sudah delapan tahun kutinggali. Kota yang menjadi saksi pertemuan yang mengakhiri hubungan kita. Tapi juga kota yang masih saja kucintai. Bandung.

Aku masih duduk lemas di lantai, belum selesai mengenang cerita kita. Nafasku masih naik turun tak beraturan. Aku sudah hampir menangis (entah karena apa) kalau saja handphone-ku tidak berdering. Ibu.

“Zhira, kamu di mana? Ini sudah jam tiga. Jam empat persis kamu udah harus siap di Selasar Sunaryo ya?”

“Iya, Bu. Dari Dipati Ukur ke Dago Pakar nggak lama kok.”

“Ya udah, yang penting cepet siap-siap ya? Takut macet. Kan weekend. Jangan kelamaan di kosan lama. Keluarga Hardi udah mau keluar tol Pasteur.

Aku belum sempat menjawab dan Ibu sudah menutup teleponnya. Hari ini datang juga. Hari pertemuan yang sangat kuhindari. Aku memutuskan untuk menyimpan foto masa kecilmu di dalam tasku. Kuputuskan untuk menunda mengenang tentang pertemuan kita yang menjadi akhir cerita. Aku paling benci bagian itu. Bagian yang membuatku cukup takut menghadapi pertemuan hari ini.

***

“Bagaimana jika suatu saat kamu justru berjodoh dengannya?”

Aku terngiang pertanyaan Nuffy yang sering sekali ditanyakan padaku ketika aku mulai mengeluh tentangmu. Tentang sakit yang kamu tinggalkan pasca kepergianmu.

“Fy, aku selalu berharap bisa hidup bahagia dengan laki-laki lain.”

“Kalau dia jodohmu?”

“Aku mau yang lain.”

“Tapi kalau tetap dia jodohmu?” begitu terus tanyanya berulang dan aku tetap menjawab dengan “aku mau yang lain”.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin sepenuhnya melepaskannya.”

Nuffy tertawa. Katanya, aku sama sekali sedang tidak melepaskanmu. Katanya, aku sama sekali belum ikhlas melepas kepergianmu. Tapi bagaimanalah, aku bahkan sudah menjauhimu bukan? Aku sungguh tak mengerti. Dan mungkin, Tuhan menjawab semua ketidakmengertianku itu melalui pertemuan yang dirancang Ibu ini. Entahlah, aku masih belum sampai di Selasar Sunaryo. Tapi mungkin saja, Tuhan punya jawaban di sana.

Continue reading

Advertisements

Komunikasi Digital dan Kenangan yang Tak Terlupakan

sumber gambar: dvanol.blogspot.com

sumber gambar: dvanol.blogspot.com

Bagi orang-orang melankolis, perkembangan komunikasi digital tentu sangat menyenangkan untuk bernostalgia. Melihat foto-foto masa lalu, lagu kenangan, atau video rekaman di suatu masa terkadang bisa membuat kita tersenyum bahkan menangis tergerus rindu pada masa yang telah lewat itu. Apalagi, adanya data dalam bentuk digital semakin memudahkan proses penyebaran data tersebut. Hal tersebut didukung pula dengan perkembangan new media. Mau tidak mau, kenangan yang ter-digitalisasi pun juga turut tersebar dalam media yang disebut new media ini. Tidak hanya menyenangkan, fenomena ini ternyata juga memiliki dampak psikologis terhadap pemilik kenangan itu sendiri.

Seperti kita tahu, dalam komunikasi digital digunakan teknologi berbasis sinyal elektrik komputer dan menggunakan sistem bilangan biner. Bilangan biner inilah yang akan membentuk kode-kode yang mempresentasikan suatu informasi tertentu, sehingga menyebabkan data digital memiliki beberapa sifat, seperti: mudah diubah dan diadaptasi, dapat disimpan dalam ruang fisik yang kecil, dapat dikompres saat diperlukan, dan tentu saja mudah dibagi dan dipertukarkan antara sejumlah besar pengguna secara simultan lintas batas ruang dan waktu.

Lalu, apa hubungannya dengan new media? New media atau yang bisa diartikan media baru, pada dasarnya merupakan sebuah istilah yang menggambarkan media yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan internet. Termasuk di dalamnya blog, social forum, social media, website, dan sebagainya. New media inilah yang kini menjadi media utama dalam penyebaran informasi digital.

Lihat saja, sharing atau sekadar bertukar informasi digital di era ini sudah lazim dilakukan. Foto-foto diunggah di facebook, twitter, instagram, bahkan juga blog seperti tumblr dan wordpress serta banyak akun sosial media lainnya. Siapa pun bisa melakukannya selama ia memiliki koneksi internet dan akun media tersebut. Menyenangkan memang ketika bisa berbagi foto, lagu, atau video di media-media yang disaksikan oleh orang banyak.

Tidak hanya itu, perkembangan komunikasi digital pelan-pelan juga bisa membuat manusia seakan berada dalam mesin waktu. Adanya fasilitas baru facebook yang disebut timeline semakin membuat orang-orang melankolis betah berlama-lama di depan gadget masing-masing untuk mengenang foto, video, atau sekadar status update di masa yang lalu. Cukup mengetik tahun dan bulan yang ingin dilihat, para pengguna facebook bisa menikmati koleksi foto, video, status, atau aktivitas lain di facebook yang diunggah di masa yang lalu. Sekali lagi, hal ini memang sering menyenangkan. Bahkan, secara singkat bisa disimpulkan bahwa perkembangan komunikasi digital ini sangat asyik untuk berbagi dan bernostalgia.

Namun, sayangnya, adanya hal ini juga bisa menjadikan kita bersedih bahkan dalam level yang cukup parah bisa menyebabkan trauma. Sadarkah kita penyebaran informasi digital di new media ini semakin berkembang dan semakin susah untuk dikendalikan? Continue reading

Mengenang Minang

peserta ACCOUNTS 2013

peserta ACCOUNTS 2013

Dalam setiap pertemuan, selalu ada cerita terkenang. Barangkali mengendap di ranah minang. Barangkali membisu dalam denting jam gadang. Namun, selalu ada masa saat kita semua harus pulang.

Akan ada rindu mengerjap, menanti obrolan bersama seduhan teh talua, menggumpal dalam sajian nasi kapau. Lalu di telinga kita, saling mengiang kosakata pemecah gelak tawa. Ingatkah kau? Baralek. Tabolok. Mantiak. Dan masih banyak kata lagi yang kujadikan oleh-oleh. Cerita singkat bermakna padat.  Terlalu cepat sampai kita ingin membuat laju waktu tersendat.

Tak apa. Ada lengkung senyum setiap mengingat tawamu, Kawan. Walaupun gelar juara tak mampu kita raih, bertemu denganmu saja sudah menjejakkah hikmah. Bahwa kemenangan tak selalu berarti menjadi yang terunggul. Barangkali berhasilnya hati menerima semua hasil akhir dengan perasaan tenteram adalah kemenangan sesungguhnya. Tak apa. Ada ide-ide kita yang pernah saling bertukar. Juga menjadi oleh-oleh yang melengkungkan bibir dan kerut dahiku. Continue reading

Hapus

image

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.
Continue reading

Berkunjung Lagi ke Castra Jayecwara

Akan selalu ada sebuah masa yang sangat indah dan kita tidak akan pernah bisa mengulanginya.

-azaleav-

 

Mengunjungi SMA N 1 Pati selalu menyisakan cerita tersendiri. Selalu saja, semua cerita itu seperti tergambar lagi. Ada tawa mereka, canda mereka, bahkan desah nafas bapak ibu guru tiba-tiba memenuhi pikirku. Maka jangan heran, jika dalam langkah kaki saya di sekolah itu, kadang-kadang saya tertawa sendiri. Continue reading