Novembered #2 : Himsa, Plis Jangan Bego!

2010. Tahun yang bisa saya bilang menyakitkan. Saat saya harus menyadari sakitnya ditinggal pergi oleh impian. Saat saya memberontak dengan perasaan dan logika saya. Saat saya benar-benar ditantang untuk menjadi lebih dewasa. Tapi juga saat saya jatuh, tidak menjadi Himsa yang konyol. Justru jadi Himsa yang nyebelin. Himsa tanpa mereka, juga tanpa kamu. Beruntung saya punya mereka. Ya, mereka. Mereka yang masih bisa membuat saya tetap menjadi Himsa yang melankonyolis. Namanya RAMPES.

RAMPES: nina, desi, himsa, kak lia, puput, lisa (dari kiri)

Ada enam orang dengan proporsi tiga dari Pulau Jawa, dan tiga dari Pulau Sumatera. Lisa, Desi, Puput, Nina, Kak Lia, dan saya. Kami enam penghuni kosan yang heboh. Tidak mau diam. Cerita sana-sini. Masak bareng, curhat bareng, jalan-jalan (nyasar) bareng bahkan pernah pula tidur berenam di kamar berukuran 3×4 meter persegi. Banyak sekali kekonyolan yang terjadi bersama mereka. Ya, RAMPES. Sebuah keluarga yang menjadikan saya sebagai Himsa sebagaimana mestinya saat yang lain mengatakan Himsa itu nyebelin etsitera. Mereka pula, yang membuat kejutan konyol di Novemberku yang ke-18, November pertamaku di Bandung. Kejutan konyol yang selalu membuat saya tertawa sendiri ketika mengingatnya, antara malu dan menyadari ke-bego-an saya.

Continue reading

Advertisements

Novembered #1 : Mengenang Kekonyolan Kalian

2009. Saya akan memulainya dari tiga tahun lalu. Mengapa 2009?

Sebenarnya setiap November selalu punya kenangan sendiri, selalu ada cerita sendiri dengan orang-orang yang berbeda. Yang hanya mampu kusenyumi untuk mengenangnya. 2007 misalnya, ada tiga orang yang berebut menjadi yang pertama untuk sekadar menggetarkan handphoneku dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun”. Haha, aku juga memperoleh suatu bingkisan istimewa. Aku tertawa mengingatnya. Tidak usah kuceritakan. Lalu cepat waktu berjalan, 365 hari menggelinding tanpa terasa. 2008, aih aku ingat sekali aku sedang sakit dan ulangan Fisika, Matematika, dan Kimia di hari yang sama. Di kelas SC8 yang terletak di pojok bawah samping Ruang Ava aku mengenang semuanya. Wajah kuyu, memaksa berpikir, dikelilingi teman keluarga yang membangun banyak cerita. Tidak akan kuceritakan banyak. Satu-satunya hal yang sangat kukenang adalah bahwa aku sakit dan ulangan 3 mapel di hari novemberku 2008 silam.

2009. Ini akan panjang. Tahun di mana banyak hal berubah. Tahun di mana seorang Himsa mengenal mimpi, berani menulis lebih banyak, mengenal cemburu, sakit hati, persahabatan yang mengeluarga, pilihan-pilihan, juga senyum bahagia. 2009, November yang ke-17 dalam hidup, dengan mozaik cerita yang menjadi latar hidupku selanjutnya, sampai sekarang. Saya yakin siapapun punya mozaik indah, dan berbagilah, siapa tahu ada yang tersenyum membacanya. Ini sebagian mozaik dari Ahimsa. Continue reading

Langit Tetap Memerah Senja Ini

Sebuah dialog antara dua perempuan yang sedang berbicara layaknya seorang perempuan bicara. Tanpa pikiran-pikiran lain yang membuat penat, hanya ada mereka dan imajinasi mereka saja.

H: Air danau tenang. Padahal ada rintik hujan. Menurutmu gimana?

L: …

H: Kok lama??

L: yang pasti dengan melihatnya aku jadi ikut tenang.

H: aku juga. Lihat deh, orang-orang main bola, nggak peduli hujan. Kita juga harus begitu, tetap “berjibaku” walaupun sering nangis ya? 😀

L: hujan akan berhenti kan? Sama seperti kemarin yang kita rasakan panas yang sangat terik tiba-tiba hujan lebat begitu saja. Menurutmu? (air hujan malah netes di pipi deh)

H: Pasti. Karena rasa tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bukankah Langit itu susah ditebak? Tapi yang pasti, walaupun langit tidak memerah lagi senja ini, malam pasti akan datang kok. Juga esok pagi.

L: semoga tentunya membawa kebaikan untuk kita semua ya. Kamu punya harapan? Continue reading