Menulis dan Ketulusan

“Mas, aku ngerasa jadi manusia nggak bermanfaat. Dulu, aku bisa nulis banyak. Udah beberapa hari kayak mandeg. Susah banget tiap mau nulis. Padahal kalau misalnya ngobrol gini bisa menyampaikan. Tapi kok kalau mau nulis susah ya?”
Keluhku melalui telepon.
“Aku punya ide, Mas.” Lanjutku.
“Hmm, apa?”
“Bikin perjanjian ya, jangan telepon aku sampai minimal aku bisa beresin satu tulisan atau satu bab novelku.”
Aku sedikit berat mengatakannya. Untuk pasangan LDR seperti kita, itu namanya bukan hukuman untukku, tapi hukuman untuk kita berdua.
“Nggak mau, ah.” Katanya cepat menanggapi usulku. Continue reading

Definisi Bahagia

bahagia

Saya teringat tulisan saya tentang kisah ibu rumah tangga inspiratif. Tentu saja, di balik banyaknya  tanggapan positif tentang kisah itu, banyak juga yang mempertanyakan kisah tersebut. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading

Inspirative Housewife Story

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, that’s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife. Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah daftar mimpi besar saya nomor 1-4. Rasanya terbahas semua sore itu. (No offense nomor 2, gue juga kagak tahu kalau urusan itu :p ) Baiklah, mukadimah ini akan terlalu panjang kalau saya lanjutkan.
image

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Continue reading

#GamusStory Menjadi Muslimah Bersyukur di SBC

“Sebenar-benar nikmat adalah nikmat iman dan Islam..”

 

Sabtu, 4 Mei 2013, menjadi hari yang berbeda untuknya. Rambutnya yang biasanya terurai, hari itu tertutup dengan rapi oleh jilbab merah. Sahabat-sahabat Kemuslimahan yang lain langsung menghambur memeluknya. Kejutan pertama di acara Smart and Beauty Class, sebuah program kerja dari Divisi Kreasi dan Olahraga Departemen Kemuslimahan, Divisi yang dipimpinnya. Masih ada kejutan lain yang akhirnya membuat seluruh pasang air mata para muslimah tak tertahan untuk keluar dari lakrimalnya. Cerita yang semoga membuat kita semakin bersyukur atas iman dan Islam yang kita punya. Cerita itu semakin lengkap disertai dengan kisah motivasi dan keceriaan para muslimah yang hadir. Untuk sahabat yang berhalangan hadir, semoga cerita berikut ini bisa mengabadikan kisah inspiratif itu.

Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom

Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom

***


“Himsa, boleh keluar sebentar?” panggilnya usai rapat rutin Kemuslimahan Selasa lalu.

Aku keluar mengikutinya.

“Untuk SBC nanti, aku boleh cerita kisahku yang itu?”

Sejujurnya aku terkejut. Kisah yang mungkin hanya diketahui oleh segelintir orang, yang sebelumnya selalu dia minta padaku untuk benar-benar menjaganya, akan diceritakannya kepada banyak orang.

Aku tersenyum, “Kalau kamu siap tak apa. Menceritakan masa lalu itu memang tak pernah mudah. Tapi insyaAllah kisahmu menginspirasi banyak orang.”

Dia mengangguk sambil tersenyum.

Kurang lebih begitu sekilas pembicaraan kami minggu lalu. Tidak persis, tapi insyaAllah tidak mengubah maksud. Pembicaraan itu menjadi pengantar yang bagiku sendiri, meskipun tidak mengalaminya secara langsung kisahnya, turut merasa lega atas keberanian yang dimilikinya. Kepala Divisi yang satu ini, diam-diam memang menginspirasiku. Membuatku tak sabar menunggu hari Sabtu tiba. Continue reading

Sekotak Jendela Impian

Bismillah, saya post lagi, semoga bermanfaat. Ini cerpen yang membawa banyak cerita buat saya, mengantarkan saya untuk jadi Mapres Bidang Kepenulisan tahun lalu. Selamat membaca.

***

langit pagi

Pagi. Bingkai jendela kamarku masih memotret lukisan itu lagi. Aku menyebutnya lukisan langit. Kamar ini pun kusebut sebagai Tetangga Langit. Biarlah, aku memang selalu jatuh cinta pada keindahan langit, apalagi yang terbingkai dalam jendela kamarku ini, yang tiap pagi menyapaku dengan kuning cahayanya atau terkadang bau genteng sisa hujan jika semalam rintik hujan menyapa bumi. Lihatlah, bingkai lukisan itu terlalu indah untuk kulewatkan setiap paginya. Kau boleh menyebutnya biasa saja, tapi bagiku selalu istimewa. Karena di sana, aku pernah berjanji pada langit. Pagi ini, langit menagihnya lagi. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Kepala masjid, dipadu dengan ‘pengantin’ hijau daun-daun kelapa yang menjuntai, dengan latar biru disertai gradasi langit dan mega-meganya.

  “Apa yang masih kaulihat dari sekotak jendela itu?” perempuan dua puluh tiga tahun masuk ke kamarku. Ia meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kecil yang kayunya hampir lapuk.

 Aku diam saja, setelah tadi sempat meliriknya.

 “Kau masih menganggap langit menagih janjimu?”

 Lagi-lagi, aku hanya diam. Perempuan ini selalu bertanya itu tiap pagi. Dan aku juga selalu menjawabnya dengan diam. Ia tak pernah menyerah. Sampai secangkir teh hangat itu dingin pun, ia tetap berdiri di belakangku, dan akan beranjak jika aku bersedia duduk dan meminum secangkir teh hangatnya (yang entah masih hangat atau tidak). Pagi ini, entah mengapa, aku tidak ingin melakukan itu. Aku ingin bicara. Ya, b-i-c-a-r-a. Bukankah itu yang dinantikan oleh perempuan ini selama delapan bulan aku hanya diam? Continue reading

Telah Lahir Anak Saya Bernama…

“Karyamu itu anakmu. Ketika kamu menelurkan sebuah karya artinya kamu sedang melahirkan seorang anak. Rawat karyamu baik-baik. Dan teruslah berkarya.”

Saya jadi ingat, salah satu guru Bahasa Indonesia saya sewaktu SMP pernah mengatakan demikian. Kurang lebih begitu yang beliau katakan saat itu. Tentu saja kalimat di atas tidak persis, saya belum punya inisiatif untuk merekam di hp waktu SMP (belum punya hape yang bisa ngrekam lebih tepatnya). Hehe. Tapi otak saya merekam, sampai sekarang.

Namanya Pak Haryono, seorang guru yang setahun mengajarku di kelas dan hampir tiga tahun membimbing di tim redaksi majalah sekolah “Eksis” serta buletin “INFO 3”. Dulu, ketika beliau mengatakannya, saya cuma manggut-manggut saja. Sekarang, saya merasakan susahnya melahirkan seorang ‘anak‘ tersebut. Ya, analogi anak dan karya itu rasanya tepat sekali setelah saya mengalami cerita ini. Continue reading

Blog Walking

Membaca adalah salah satu jurus ampuh untuk meningkatkan energi menulis.

Hari ini saya melakukan blog walking. Membaca blog teman-teman. Membaca tulisan-tulisan mereka. Kadang tertawa sendiri, kadang juga merenung. Ya, melalui tulisan mereka, saya bisa melihat mereka dari sisi yang berbeda. Dan itu sungguh menyenangkan.

Menulis memang sesuatu yang sangat unik ya. Terkadang seseorang hanya ingin menulis, melepaskan logika dalam akalnya, menyampaikan rasa dalam hatinya. Kadang tidak peduli akan sebuah makna. Tapi tanpa mereka sadar, saat itulah justru para pembaca mendapat makna dari apa yang mereka tuliskan. Entah makna yang seperti apa. Aku selalu menyebutnya, undefinedthings. Sungguh, menulis seperti itu sangat menyenangkan.

Kalau boleh mengkopi tulisan salah seorang teman dalam blognya, ia menulis seperti ini:

“Merasa lepas saat menulis, tak berpikir logika ini menolak atau menerima. Langkahkan jari diatas tuts2 hitam dengan label putih. Layar pun terisi dengan bongkahan bongkahan huruf yang tak bermakna. Entah menyampaikan pesan atau tidak, tapi inilah rasanya lepas. Tak perlu banyak pertimbangan. Just go ahead, hidup ini pun terasa lebih ringan.” cahmaths.wordpress.com

Ahaa, terima kasih, Kawan. Tulisanmu itu mengingatkanku untuk terus menulis selepas mungkin, apapun isinya, tak perlu banyak pertimbangan. Benar pula kata Bang Tere. Tuliskan saja, karena siapa tahu, di ujung sana, atau di belahan sana, ada seseorang yang bangkit dari sedihnya karena membaca tulisan kita. Tuliskan saja, walaupun bagimu itu tidak penting, sungguh sangat mungkin akan ada seseorang yang tersenyum ketika membaca kalimat demi kalimat yang kita tulis. Tuliskan saja. Tak usah pedulikan jumlah pengunjung, pembaca, like, komentar, dan teman-temannya. Tuliskan saja. Just go ahead..

Tetangga Langit,

7 Februari 2012

7.59 WHH (Waktu Hape Himsa)