#NulisRandom2015 (1): Didikan Ibu

image

Uhuuuk.. Hatchiim.. Banyak sekali debunya di sini, udah berapa bulan tidak ditengok yang punya. Kayanya mesti elap-elap maksimal deh ini, hehe. Sambil elap-elap Pojok Biru biar tetap membiru, saya tetiba kepikiran untuk mulai nulis lagi setelah baca postingan Nulis Buku di FB tentang #NulisRandom2015. Yeaaah, saya akui produktivitas menulis saya menurun drastis. Malu sendiri disebut sebagai penulis karena belum ada karya baru lagi. Sebenarnya saya ada project besar yang sebentar lagi deadline, tapi beginilah, lama nggak diasah, ternyata mau mulai nulis lagi itu ada saja halangannya. Nah, karena itulah saya tertarik ikutan #NulisRandom2015. Saya mau mulai lagi menulis. Itu sih niat utamanya. Saya kangen sekali dengan dunia ini, tapi selama ini terlalu lama diam. Lebih benarnya, saya keasyikan dengan aktivitas lain (baca: memasak dan eksperimen masakan) sampai saya tidak sadar, ada rindu yang mengendap dalam dan perlu dicairkan pada dunia ini, dunia yang membuatku selalu hidup. Menulis.

Daaaan. Sama seperti 2010 lalu ketika saya mulai menulis blog, saya berlatih menulis dari menulis random. Lama-lama dari randomisasi ini (apa deh), jadi banyak ide yang tertuang. Saya menyebutnya metode otak kanan. Karena keseringan nulis random, saya jadi merasa aneh sendiri kalau sehari aja nggak menulis. Aneh pokoknya. Continue reading

Advertisements

Sebait Rindu, Kado Ulang Tahun Ibu

Rasanya, baru kemarin aku mempersembahkan rindu melalui tulisan ini untukmu, Ibu. Rindu itu hadiahku untuk ulang tahunmu yang ke-43. Aku sakit hari itu. Seminggu kemudian Abah menjemputku, pulang. Sudah setahun. Cepat sekali waktu berlalu, Ibu. Hari ini, masih dengan rindu yang sangat membuncah, aku menangis. Usiamu sudah 44.

Masih rindu sebagai kado untuk usiamu yang resmi bertambah hari ini. Kukirimkan rindu itu dalam video berdurasi 1 menit lebih 1 detik. Kukirim via whatsapp. Hanya sebait doa juga pancaran wajah sulungmu yang penuh rindu, yang menurutmu masih saja seperti anak kecilmu. Biarlah, Ibu. Ibu, aku lebih terharu lagi menerima video kiriman balik dari Adik-adik di rumah. Kami memberimu surprise. Hei, bukankah di keluarga kami tidak ada tradisi surprise ulang tahun? Iya, kami sengaja, Ibu. Sekali-kali membuatmu terkejut. Membuatmu terharu. Sukses, engkau menangis. Adik-adik juga. Aku juga. Walaupun Bandung-Pati terbentang ratusan ribu meter. Melihat senyummu, juga suaramu di telepon yang bercampur kesal–merasa kami kerjain–juga haru.

Semoga waktu segera mengizinkanku pulang, untuk sekadar memelukmu, atau bergelayut manja di pundakmu. Terima kasih untuk doamu, Ibu.

Ulang tahun memang bukan segalanya, tetapi ia, sering kali, menjadi momen yang tepat untuk membahagiakan orang yang kita sayang. Meski aku tahu, Ibu, engkau bisa saja berulang tahun setiap hari, karena engkau bahagia setiap hari.

Salam rindu amat sangat,

Anakmu yang tengah mencoba menjalani hidup di sebuah ruang yang kuberi nama “Pojok Biru 3”

17 Februari 2013

“Selamat Ulang Tahun, Ibu”

“Selamat ulang tahun, Ibu.”

Aku sedikit terbata-bata mengatakannya. Aku tahu, itu terdengar aneh bagimu. Mana pernah ada tradisi ulang tahun di keluarga kita, walaupun hanya sekadar sebuah ucapan. Aku tahu, tidak ada pula tradisi itu dalam ajaran agama yang kauajarkan. Tapi, biarkan. Sekali ini saja, Ibu, di usiamu yang ke-43, aku mengucapkan kalimat itu. Bukan tentang tradisi, bukan tentang esensi kalimat ‘selamat ulang tahun’ itu sendiri, semata-mata hanya karena aku ingin engkau merasakan seperti yang ibu-ibu lain rasakan dari anaknya, sebuah ucapan selamat dari anaknya yang jauh darinya karena sedang menuntut ilmu.

“Aaalah, inget aja.” suara Ibu tersipu malu di balik telepon. Ada nada bahagia yang juga terbata di sana. Sejenak, ada perasaan canggung merambati hati kami. Continue reading