Sekadar Kata tentang Hurufku (kini)

Bersama huruf, aku selalu mendapat pembenaran atas absurditas yang kuimajikan. Walaupun kamu menyangkal bahwa ini semua tak penting. Tapi bagiku selalu penting. Karena bersamaan dengan aku menyeduh huruf demi huruf dalam cangkir yang kamu genggam sekarang ini, ada banyak simpul yang terlepas dan membuat segala terasa bebas. Cerita yang tak sempat tertata. Kata-kata yang terbata-bata. Cita-cita yang masih bernegosiasi dengan fakta. Atau sekadar tentang kamu yang belum sempat menjadi kita.

Bersama huruf, aku menjelajahi sejarah, menginjeksi kapabilitas diri dalam berimaji dengan cairan-cairan kata, yang mungkin cukup dimengerti dengan nurani.  Aku ingin memetaforakan segala hal menjadi bermakna, yang kata mereka, bahkan juga katamu gombal, geje, tidak bermakna, tapi aku mencintai itu semua. Aku ingin membahasakan langit—yang memang selalu jadi metafora terindah—juga angkasanya. Aku bahkan ingin membahasakan baju seragam, lantai, sapu, sendok, tangga bahkan sampah sekali pun, seperti Dee yang membahasakan sikat gigi atau kopi menjadi begitu bermakna (kalau mau mengambil maknanya).

Tapi entah, akhir-akhir ini, aku selalu merasa huruf-huruf yang terangkai dibredel oleh arus globalisasi yang memaknakan huruf dengan berbagai hal yang terdengar seperti olokan. Rangkaian huruf sering terbantaikan dengan huruf masa kini. Continue reading

Lewat Seduhan Alfabet

 Kadang, kita harus menyadari, bahwa kita hanya diizinkan mengenal melalui alfabet.

Ingin sekali aku memanggilmu. Sok kenal bahasa kerennya. Biarlah. Tapi sorot mata orang-orang di ruangan ini membuat nyaliku kembali menciut. Bukankah ruangan ini sama sekali asing bagiku? Orang-orangnya pun asing. Lihatlah, langit-langitnya yang khas dengan warna hitam dan putih ini begitu menakjubkan. Semenakjubkan pidatomu dalam menyambut kehadiran kami, peserta “Blogging Camp” yang diadakan oleh kampusmu.

“Saya bahagia kalian ada di sini. Saya begitu antusias untuk mengetahui bahwa ada 500 blogger yang akan tinggal tiga hari di kampus ini untuk saling berbagi. Ah, pasti setelah ini, huruf-huruf akan bercengkerama lagi dalam teras-teras indah blog kalian. Dan berbagilah tentang kenikmatan menyeduhnya sehingga menjadi secangkir karya yang menghangatkan banyak orang.”

Kamu masih saja puitis, bahkan dalam berpidato sekalipun.

Gemuruh tepuk tangan terdengar riuh. Hatiku juga berdebar riuh. Ingin aku memanggilmu, ada yang ingin kusampaikan.
Continue reading

Huruf-Huruf

Tentang huruf-huruf yang memperpanjang malam itu, biar hanya aku yang tahu. Biar waktu tidak memperpanjang juga semuanya.

Tentang simpul demi simpul yang kaurangkai dengan indah dalam berpilin-pilin frase itu, biar hanya aku yang tahu. Biar aku belajar dari pola-pola yang kaugunakan.

Tentang energi antah berantah yang kaucipta dari huruf-huruf itu, biar hanya aku yang tahu. Rasanya ini menyesakkan pula, seperti ingin kumuntahkan dalam simpul-simpul yang sama, tetapi huruf-huruf yang berbeda.

Biarkan, sekali ini saja, aku membagi cerita-cerita tentang huruf-huruf yang kaupenakan itu. Biarkan sekali saja, untuk cerita ini, aku menjadikan huruf-hurufmu tidak hanya kutahui. Biarkan sekali saja, malam lebih panjang dari yang biasa telah kauperpanjang dengan huruf-hurufmu. Hanya satu saja.

Huruf-huruf itu akan terikat dalam simpul-simpul berpola indah, yang menggetarkan hati ketika dibaca, yang menggempakan jiwa ketika merasakannya. Karena engkau melahirkan huruf-huruf itu dari rahim kejujuran yang terpilin dalam plasenta ilmu yang kaupunya.

Maka, sejenak saja, setelah dari tadi tentang huruf-huruf memenuhi kepalaku dan meluapkan energi dahsyatku, aku ingin mengatakan, “Jangan salahkan aku, jika aku semakin mencintai huruf-huruf, karena huruf-hurufmu.”

Pojok Biru 2

13-02-2012

00.12 WHH

untuk huruf-huruf yang berjajar menginspirasi.