Meluaskan Hati

Ada kalanya, kita lelah, “mengapa si ini nggak bisa mengerti kita?”. Dan kita menjadi kesal dengan orang tersebut. Ya, kita memang tidak bisa mengendalikan orang lain sebagaimana mau kita. Karena hanya Allah yang berhak menggerakkan hati manusia. Tapi kita, diberi kesempatan untuk dapat mengendalikan diri sendiri. Kalaupun orang lain itu terus membuat sakit, kita bisa membuat hati kita tidak sakit. Mmm, aku menyebutnya ‘meluaskan hati’.
Bayangkan, hati kita adalah sebuah kolam yang diisi air. Kita tidak punya cara untuk mematikan kran yang terus mengalirkan air, sampai kolam itu luber airnya. Maka, sebelum itu terjadi, luaskanlah kolam itu. Jika hampir luber lagi, luaskanlah terus. Begitulah, jadikanlah hati kita terus meluas hingga bahkan ketika orang lain ingin menyakiti kita, kita masih bisa mengatasinya. Tidak ada rasa sakit yang meluber ke mana-mana.

Jadi, mari lapangkanlah hati.

Continue reading

Advertisements

Presipitasi #7

Suara tegap sang pemimpin upacara mungkin terdengar sengau bagimu. Kamu hanya menunduk di balik topi abu-abu yang kamu kenakan. Aku melirikmu sebentar. Sebentar kemudian melirik ke barisan kelas sebelah, perempuan itu sama menunduknya sepertimu. Siapa yang peduli dengan dua manusia yang menunduk di antara barisan itu, upacara tetap berlangsung begitu khidmat.

Senin yang sendu. Begitu aku mengingat hari Senin itu, entah sudah berapa ratus hari yang lalu Senin itu kini sudah berlalu. Selepas pemimpin upacara membubarkan pasukannya, aku melihatmu memasuki kelas dengan wajah yang tak biasanya.

Hanya ada hening yang tersisa dalam 50 cm jarak tempat dudukku dan tempat dudukmu. Teman-teman masih di depan kelas, membicarakan segala yang berlalu selama weekend, membicarakan tugas-tugas akhir semester genap yang mulai menumpuk. Kamu menunduk, sesekali membaca sesuatu di ponselmu. Aku hanya diam membaca halaman-halaman terakhir novel karya penulis favoritku. Membiarkan novel itu menutupi sebagian wajahku.

Sebuah tangan mengangkat novel itu, membuat wajahku yang tertutupi jadi terlihat. Kamu. Diam. Hanya menyetorkan ekspresi murung. Aku mengerti. Continue reading

Hati yang Dipinjam

“Aku tidak menggambar apapun.” katamu padaku saat wajahku tampak merajuk, sementara bibirmu berusaha melengkungkan senyum terbaikmu untukku.

Tidak mungkin kamu tidak menggoreskan apa-apa. Aku melihat jelas ada goresan dari spidol birumu. Ya, biru. Warna yang sudah setahun ini jarang sekali ada di gambarmu.

“Rosi, untuk kali ini, aku ingin menyimpan gambarku sendiri.” Akhirnya kamu menyadari bahwa aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan menyembunyikan selembar kertas—yang katamu tidak ada gambarnya—di balik saku celanamu.

“Seharusnya kamu tidak perlu menyembunyikan apa-apa. Itu hanya sebuah gambar, hanya kamu yang mengerti artinya,” kataku lirih.

“Miss Rosi yang ceria, plis jangan menangis hanya karena sebuah gambar. Ini gambarnya,” kamu menyodorkann kertas itu dari saku celanamu, aku menolaknya. Kamu mungkin mengira aku merajuk bercanda. Tapi penolakanku membuatmu terkejut.

Kamu menunduk diam. Mungkin hari ini kamu harus menyadari sesuatu. Kursi kayu di depan ruang perkuliahan ini kuyakin sebal diduduki dua manusia yang tiba-tiba saling berdiam. Mungkin bukan hanya kamu, hari ini aku juga harus menyadari sesuatu.

“Warna biru,” kataku akhirnya.

“Iya, warna biru itu menenangkan.”

“Hanya itu?”

Kamu diam lagi.

Aku hari ini sudah membayangkan akan menjadi Rosi Lainnya. Bukan Rosi ceria yang kamu banggakan. Bukan Rosi yang bisa meledakkan tawamu dan tawa manusia lainnya. Bukan pula Rosi yang membuatmu bercerita. Sejak beberapa menit lalu ketika aku melihat gambar itu, aku entah kenapa sudah tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang lama kuikat rapat. Dan kamu paham betul akan hal ini. Continue reading

Episode yang Terlewat

“Mamaaaaaa…” laki-laki kecil berusia 3 tahunan itu berlari kecil mengarah kepadaku. Aku membenarkan jilbab, lalu menyandarkan lutut di tanah, menunggu pelukannya. Ya, seperti kuduga, dia memelukku erat sekali.

“Lizhal tadi ketemu sama Om-om, dibikinin pesawat ini, Ma.” katanya kemudian setelah melepaskan pelukanku. Aku mengerutkan dahi. Menunggu kejutan apalagi yang dibawa oleh pangeran kecilku. Sebelas hari ini, sepulang sekolah, dia selalu bercerita tentang ibu gurunya, hampir cerita yang sama. Tapi, di beranda sekolah bermain ini, aku  selalu menunggu cerita-ceritanya dengan perasaan bahagia, tak peduli cerita yang sama itu terus berulang. Sama bahagianya seperti sebelas hari lalu ketika dia mengenakan seragam sekolah pertamanya.

“Mama, Ibu gulu nyuluh Lizhal nyanyi lagi, tapi Lizhal nggak mau, Lizhal kan sukanya nggambar.” Begitu biasanya ia bercerita. Tapi entah kenapa ceritanya hari ini berbeda. Tentang “om-om” katanya. Entah siapa yang dimaksud.

“Pesawat apaan , Rizhar sayang?”

“Jet mini, Ma.”

Tanganku tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya.

“Ini, Ma.” Si kecil Rizhar mengeluarkan pesawat kertas dari sakunya.

Aku mengaburkan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Kuusap lagi rambutnya, kali ini lebih keras.

“Ah, Mama juga bis..”

Aku belum selesai berbicara ketika tiba-tiba Rizhar berteriak dan menunjuk seseorang yang berada di luar pagar sekolah. “Mamaaa, itu Omnyaaaaaaaaaa..” Tangan kecilnya kemudian menyeretku ke depan, membuatku tidak bisa menolak lagi. Rizhar benar-benar menggambar ceritanya hari ini. Sungguh, ini benar-benar kejutan.

Continue reading

Aku, Kamu, dan Sebait Masa Depan

Kalau kamu mengerti

ada sejuta pikir yang kudiamkan

kubiarkan dalam baris-baris pertanyaanku pada waktu

aku bertanya

juga merajut sebanyak mungkin harapan

juga meniadakan takut yang terus mengumpat di celah bulir mimpi

kalau kamu mengerti

terlalu banyak kenangan terbangun

terlalu banyak rindu-rindu mengendap

hingga sebait masa depan memaksa untuk kuintip

hingga selarik kenangan kutulis untuk sebuah masa depan aku

masa depan kamu

masa depan kita

kalau kamu mengerti

ada kamu di setiap kenangan, cerita, dan sebait masa depan

sesosok ciptaan Tuhan yang dikenal hatiku

ada kamu dalam sepilin doa

ada kamu yang tidak kutahui bagaimana

ada kamu yang tidak kutahui mengapa

jadi, biarkan kamu

biarkan aku

biarkan kita

biarkan masa depan berpelukan dengan semua kenangan

semoga saja.

semoga saja. Karena tetap..

Tetap Tangan Tuhan yang menuliskan kisah

aku, kamu, dan masa depan

 

Bandung,

23 Januari 2012

01.11 WIB

Berbicara Hanya dengan Hati

Pernahkah kalian mendengar namun tak ada suara? Pernahkah kalian diam tapi didengarkan? Pernahkah kalian melihat padahal yang kau lihat berkilo-kilo meter nan jauh di sana? Semua diam, hening. Hanya hati yang berbicara.

Hati-hati yang dekat berhimpun dalam cinta kepada-Nya tentu pernah merasakan ini. Sebuah energi luar biasa yang dikeluarkan oleh elemen terlembut manusia bernama hati. Masihkah kau tidak mengerti? Aku pun sebenarnya tak mengerti, sinyal apa yang terpancar, transmiter apa yang digunakan. Tak ada jumpa, tak ada dering handphone, namun suara hati berbicara dengan hebatnya. Continue reading