#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? 😀
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe. Continue reading

Advertisements

Langit (cerpen)

Ahimzz(819)

Toko buku ini masih sepi. Salah seorang petugasnya masih tampak menata buku di rak tengah, rak buku best sellers yang ditata sedemikian rupa untuk menarik perhatian pengunjung. Aku sengaja datang pagi-pagi, mencari diskon 25% yang ditawarkan toko ini untuk seratus pelanggan pertama. Aih, dasar manusia diskon! Tapi biarlah, untuk seorang penggila buku sepertiku, empat kali diskon 25% bisa menambah satu koleksi buku, itu penting. Hehe.

Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak langsung menuju ke rak pojok depan tempat novel-novel tertata rapi. Sengaja. Aku melangkah lebih jauh menuju rak belakang untuk mencari buku tentang filsafat komunikasi yang menjadi bahan dasar skripsiku. Skripsi? Ah, makhluk yang satu itu mau tidak mau mengurangi jatahku menulis dan membaca kisah-kisah fiksi. Sesampainya di area buku komunikasi, langsung saja kubuka buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” karangan Elvinaro yang kebetulan sudah dibuka sampulnya. Barangkali buku ini bisa menjawab pikiran kacauku tentang paradigma penelitian.

“Aisa.” Seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari sang pemilik suara. Seketika kutemukan seorang lelaki melambaikan tangannya sambil tersenyum di balik rak buku di seberang tempatku berdiri.

Astaga. Sekejap kecamuk pikiranku tentang paradigma penelitian, data-data latar belakang, teori-teori filsafat komunikasi yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku, enyah begitu saja. Aku tidak tahu molekul apa yang mampu menerbangkan mereka dari pikiranku. Seketika itu pula, mataku tertuju pada baju cokelat muda sesiku yang tampak dari sela-sela buku daaaan.. sepasang sesuatu yang mencirikhaskan dirinya. Itu dia. Kacamata itu. Kacamata itu mencirikhaskan seseorang yang… ah, tidak salah lagi. Itu dia.

“Eh, Bang Izar?” Aku menutup buku yang dari tadi kubaca. Hatiku memuji diriku yang bisa mengendalikan setrum yang tiba-tiba saja serasa mengaliri seluruh pembuluh darahku. Dia tersenyum lagi.

“Sudah pulang ke Indonesia, Bang?” kali ini aku mengutuk diriku. Pertanyaan bodoh. Jelas-jelas ia kini di depanku—tentu saja di Indonesia.

“Iya, kangen buku-buku berbahasa Indonesia.” Katanya sambil menyodorkan sebuah buku yang judulnya tak sempat terbaca olehku.

“Oh, thesisnya sudah selesai ya? Wah, keren..” pembicaraan ini mulai kaku, aku tidak tahu harus berbicara apa. Bertemu dengannya di pertemuan yang amat tak terduga seperti ini adalah kejutan yang tak pernah kusiapkan bagaimana cara mengatasinya.

“Belum kok, Abang ke Indonesia cuma seminggu karena kebetulan dapat tiket sponsor. Sebentar lagi selesai insyaAllah, Sa. Doanya.”

“Aamiin. Sukses selalu, Bang.”

“Rumah Langit apa kabar?”

“Masih biru seperti langit, Bang. Maksudku, adik-adiknya masih ceria dan semangat. Kalau ada waktu senggang, main saja, Bang.”

Dia tersenyum. Ingin sekali kutanyakan banyak hal, tapi semua terkunci bisu di tenggorokan. Kapan ia akan mengunjungi Rumah Langit? Masihkah ia ingat pada junior macam aku yang hobi sekali bikin heboh di komunitas itu? Masihkah ia rindu hari-hari tertawa ketika merangkai permainan untuk adik-adik? Ah, tapi tak ada satu pun pertanyaan-pertanyaan itu yang terlontar . Hanya itu pembicaraan kami di pagi yang sepi di toko buku. Aku pamit sesaat setelah ia tersenyum. Kuambil saja buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” yang dari tadi kubuka-buka dan kuserahkan ke kasir. Bang Izar masih menyusuri rak-rak buku itu. Aku menelan ludah sambil meninggalkannya. Kalau saja aku bisa berbicara padanya lebih lama… Kalau saja tenggorokanku tidak kering seketika.. Kalau saja tanganku tidak gemetar. Tapi entahlah perasaan apa ini namanya. Aku sudah lama sekali tak merasakannya sejak urusan patah hati menoreh luka di dasar hati. Aku seperti menyentuh langit. Melayang.

***

Nina tertawa mendengar ceritaku pagi ini, sepulang dari toko buku. Aku cepat mengetuk pintu kamarnya. Masih pukul 09.00, ia masih mengantuk. Aku yakin dia baru tidur pukul 07.00 mengingat kebiasaannya begadang semalaman. Ah, tapi demi mendengar ceritaku pagi ini, matanya terbuka lebar. Ia asyik menertawakanku. Aku cemberut.

It is a crazy little thing called love, Baby.” Katanya santai sambil menarik ciput jilbabku, membuat dahiku tertutup kain jilbab.

“Iya, terakhir aku melayang-layang di langit kayak gini ituuuu, lima tahun lalu, pas masih SMA. Kamu tahu persis ceritanya. Ah, kamu tahu aku hampir tak percaya pada hal kecil gila yang kamu sebut love. Bagaimana pun aku menjaga dan menghargai cinta, toh akhirnya cinta hanya berujung sakit kan? Sakit sekali, Nin. Melayang di langit, menunggu dijemput di singgasana bulan, lalu dijatuhkan begitu saja ketika senja menjelang.” Aku berbicara panjang sambil berfilosofi tidak jelas—kebiasaanku.

“Siapa yang bilang kalau cinta itu harus melayang-layang di langit? Itu salahmu sendiri, Aisa.” Continue reading

Menerka Takdir

sumber gambar: catatan-harian-auni.blogspot.com

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan. Continue reading

(masih)

Burung kecil di pintu rumahku baru saja memberi tahu bahwa kamu datang. Dua kali kamu mengetuk pintu. Pukul 13.09. Tak ada jawaban. Satu menit kemudian, kamu mencoba mengetuknya lagi. Masih tak ada jawaban. Tentu saja tak ada, pintu rumah yang kamu ketuk itu ditinggal penghuninya.
Sekarang pukul 13.24. Burung kecil di depan rumah berkicau ketika aku sampai, mengatakan bahwa kamu datang. Aku hanya bisa terpatung dalam senyap. Kakiku mendadak kaku. Sudah lama sekali burung kecil itu tidak pernah memberi kabar tentang kamu. Siang ini, tanpa kuduga, dia mengatakan kamu datang. Bukan suratmu. Tapi kamu.
Ada apa? Aku hanya bertanya pelan dalam ruang sunyi kalbuku. Ingin bertanya pada burung yang memberitahuku, tapi urung. Kuhelakan nafas, ber-hmmmm panjang, mengikhlaskan waktu yang belum mempertemukan kita. Tak apa, aku selalu percaya, ada skenario yang lebih indah dari sekadar pertemuan. Mungkin, memang belum waktunya kita bicara.
Tok tok tok. Ada suara yang mengetuk pintuku lagi, kupikir itu kamu. Bukan.

090812
13.–

~bahwa tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan kita. Kadang ada yang meleset, tetapi skenario yang ada pasti lebih indah dari sekadar keinginan kita.

Tanya yang Tak Tertanyakan

“Apa kabar?”

bahkan untuk bertanya itupun kukatupkan mulutku

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya Dia menjagamu

“Sedang apa?”

bahkan untuk bertanya itupun kuurungkan niatku

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya engkau sedang berjuang

untuk tanggung jawabmu yang agung

“Bagaimana dengan kita?”

apalagi untuk bertanya itu

sekadar menulis pun aku gemetar

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya engkau mengerti

ada harapan yang hanya berani terlampiaskan dalam doa-doa

Maka biarlah tanya-tanya itu ada

dan terkungkung saja dalam rangkaian sarafku

aku akan tetap diam

karena ada doa dalam diamku

dan sekali lagi

biarlah Tuhan menuliskan jawabnya

di masa yang tepat

Pojok Biru 2,

23 Januari 2012

10.10

Melanglanglah Jauh

Sesekali ini pikirku merayap pada sesosok ciptaan-Nya

sudah lama tak kutahui bagaimana

sudah lama tak kutemui raganya

tapi sesosok ciptaan Tuhan itu ada dalam ketiadaannya

katanya angin masih akan setia

katanya harap masih akan terpilin dalam doa

katanya ia akan selalu mempersiapkan diri

katanya yang tersirat dan bahkan tidak pernah diungkapkan padaku

jika berharap pada ciptaan-Nya hanya akan menanggung luka

maka tentang ini, kupasrahkan harap pada sang Pencipta

melanglanglah jauh

jangan ragu bersauh

tetaplah berjuang dengan segenap peluh

aku hanya akan diam, mengucap doa yang utuh

untuk perjuanganmu yang hebat

melanglanglah jauh

jemput aku jika janjimu telah penuh

aku akan diam di sini

berharap hatimu akan berlabuh

Pojok Biru 2

23 Januari 2012

22.00