Cerita Hamil #2: Terima Kasih, Ibu

 

“Bu, ternyata begini ya hamil. Dulu Ibu begini juga ya pas hamil aku?”

Itulah yang saya sampaikan kepada ibu saya beberapa hari yang lalu ketika perut saya didera sakit. SayDSCF1263a sampaikan pertanyaan itu dengan mata berkaca-kaca dan hati yang tulus. Sepaket simbol permintaan maaf dan terima kasih sudah mengandung dan melahirkanku.

Ibu hanya tersenyum lalu menjawab, “Ya begitulah kodratnya wanita. Jalani dengan ikhlas, nanti kamu mengerti sendiri kebahagiaannya ketika anakmu sudah lahir.”

Saya diam-diam menitikkan air mata. Ada rasa yang saya tidak bisa mendefinisikan bagaimana. Ada pertanyaan berulang di kepala saya. “Saya akan menjadi ibu?”

Ya, rasa sakit yang saya alami beberapa hari lalu mengingatkan saya pada masa trimester pertama kehamilan. Saya akui, trimester pertama adalah masa terberat. Bisa dipastikan setiap hari didera mual atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘morning sickness’. Walaupun istilahnya begitu, yang saya alami adalah ‘all day sickness’. Nggak hanya menunggu morning, siang malam pun rasa mual bisa datang kapan saja. Setiap habis makan, pasti langsung muntah. Capek sedikit, pasti muntah. Belum ditambah peningnya. Tapi saya masih bersyukur, berdasar pengalaman teman-teman bumil lainnya, ternyata banyak yang lebih parah dari saya. Ada yang sampai tidak doyan nasi dan masakan yang mengandung bawang sehingga harus dipaksa makan buah. Bahkan ada yang sering pingsan, mengalami lemah kandungan, dan lain-lain. Saya yakin setiap calon ibu diberi cobaan demikian sepaket dengan kekuatannya masing-masing. Sakit memang, tapi entah ini rasa apa namanya, saya tulus bahagia merasakan semua sakitnya. Saya yakin setiap calon ibu merasakan apa yang saya rasakan. Ah, begitu pulakah yang dulu ibu saya rasakan ketika mengandungku? Continue reading

Advertisements

Cerita Hamil #1: Garis Satu

IMG_20150718_133831

Medan waktu itu tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Namun untuk saya yang beradaptasi dari Bandung ke Medan, tetap saja kota itu terasa panas. Ah, bagaimanapun selama membersamai suami, kota manapun akan selalu terasa menenteramkan. Ya, seperti sekarang, walaupun kota kelahiran selalu menenteramkan dari dulu, tetap saja ada yang tidak mengutuhkan jiwa. Ah, maaf saya membelok ke mana-mana, mari kita kembali ke Medan beberapa waktu itu. Sekitar akhir Februari hingga Maret 2015.

Walaupun udara tidak terlalu mengganggu, entah kenapa tubuhku tetiba mudah sekali lelah. Lemas. Pening. Berhari-hari. Yang lebih aneh, saya tetiba mual parah apalagi jika melihat tempat jorok. Dan yang di luar nalar adalah sedih jika ditinggal suami. Suami kerja saja bisa nangis. Maunya ditemenin terus. Aneh.

Namun keanehan demi keanehan itu tidak kami hiraukan. Kami masih santai. Jalan-jalan seperti biasa. Hingga suatu ketika kami akan pergi menghadiri pernikahan teman kantor, keanehan terjadi lagi. Awalnya masih biasa saja. Walaupun badan terasa lemas, tapi saya masih ceria. Tetiba, ketika mau berangkat, perut terasa sakit sekali. Kram, seperti ditarik-tarik. Nyeri, seperti akan tiba periode haid. Tapi kami nekat pergi.

“Kamu nggak apa-apa?” Suami saya tampak khawatir melihat saya kesakitan sambil terkapar memegangi perut.

“Nggak papa, Mas. Kita berangkatnya agak telat ya. Biasa, paling mau haid.” Jawabku menepis keanehan.

“Beneran nggak apa kan? Kalau nggak kita pamit aja nggak jadi berangkat.”

“Jangan, kita berangkat aja pelan-pelan. Kan udah janji mau datang.”

Akhirnya kami pun tetap berangkat walaupun esok harinya harus saya bayar dengan tepar tidak kuat bangun. Saya masih ingat, di pagi yang cerah itu, saat saya terbangun, suami saya sudah siap dengan baju kantornya. Ah, saya bahkan tidak menyiapkan apapun. Yang lebih kaget, saya melihat jemuran sudah penuh dengan baju-baju yang sudah dicuci. Ah, suamiku. Tahukah kamu? Saat itu aku makin nggak mau ditinggal, walaupun cuma sebentar. Tapi pekerjaan mana bisa ditinggalkan dengan alasan istrinya manja, hehehe.

Usai suami berangkat, seperti biasa, hp mulai berdering, mulai dari Mbah, orang tua, mertua, dan saudara-saudara. Jeng-jeng, akhirnya ketahuan lah saya sakit. Dan semua berkomentar sama. “Wah, udah isi itu.” Saya hanya tersenyum dan masih mengelak, “Nggak, mau saatnya haid aja, biasa.” Yah, walaupun mau tidak mau akhirnya saya kepikiran juga. Memang benar ya saya hamil? Continue reading