Doa Diam-Diam

Tidak semua mereka yang diam itu tidak peduli, bisa jadi selama ini mereka diam-diam mendoakanmu. Bukankah doa seorang sahabat secara diam-diam untuk sahabatnya yang lain itu tidak tertolak?

Suatu kali engkau termenung di batas senja. Duduk menikmati cakrawala yang bagimu seperti rona hatimu. Mendung kala itu. Ada yang menggelapkan harimu. Kamu baru ingat, tujuh hari lagi engkau kembali menunaikan lagi kewajibanmu, kali ini bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai seorang konsultan public relations di kota metropolitan bernama Jakarta. Desa kecil di pesisir utara Pulau Jawa, tempatmu biasa menatap matahari terbenam selama dua bulan terakhir akan kamu tinggalkan–lagi.

Apa susahnya mengucapkan selamat tinggal atau sekadar mengantar ke terminal? Atau sekadar ucapan selamat mimpiku telah tercapai.

Gerutumu dalam hati.

Kamu sebal karena seseorang yang kamu anggap paling mengerti kamu, sahabat baikmu sejak kanak-kanak, dua bulan terakhir justru menghilang. Tepat di hari kepulanganmu. Dia tak pernah lagi tampak seperti sebelumnya. Menyambangi rumahmu untuk berbagi pisang goreng, membuat cerita berantai, atau sekadar ikut Ibumu menata kain-kain yang baru datang dari Bandung untuk kembali dijual. Ah, cerita berantai yang kalian susun bahkan belum mencapai ending. Bukankah kalian sama-sama suka menulis?

Kamu menangis. Sebal memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tiba-tiba membuatnya berubah. Semua kekalutanmu hanya membawamu pada satu premis tentangnya, dia tak peduli, bukan sahabat yang baik.

***

Kamu sudah siap duduk di atas bus. Orang tuamu baru saja pulang. Entah kenapa pula kamu menjadi kesal ketika dia tak datang melepas keberangkatanmu. Kamu memutuskan untuk mengirim sebuah pesan untuknya. Nihil. Bus berangkat perlahan meninggalkan terminal. Kamu sempat berharap ini semua seperti sinetron dan tiba-tiba ada sesosok manusia yang membuatmu kesal itu datang melambaikan tangannya sambil berteriak meminta sopir bus berhenti. Arrrgghhh. Kamu memejamkan matamu, mengucapkan selamat tinggal pada kota kecilmu, berjanji akan kembali dengan segudang impian yang menjadi nyata. Tanpa dia, dia yang sama sekali tak peduli. Continue reading

Advertisements

Tentang Mimpi No. 20

Seringkali, kita justru mendapatkan sesuatu yang kita inginkan setelah kita melepaskannya.

***

 

Pertolongan Allah itu amat dekat :)

Pertolongan Allah itu amat dekat 🙂

“Loh Mbak, bukannya kamu pingin ke Turki ya?” kata adekku ketika kita ngobrol dan aku menyeletuk ingin menjejakkan kaki di Perancis. Beberapa bulan lalu, saat libur semester.

“Eh iya ya?” kataku.

Aku teringat sebuah pembicaraan setahun sebelum hari itu. Usai buka puasa, meja makan adalah tempat favorit keluarga kami untuk membicarakan apapun. Saat itu iseng aja aku bilang, “Bah, aku mau ke Turki.” gara-gara nonton acara TV Ramadhan yang banyak menawarkan keindahan dan pesona sejarah kota Istanbul. Abah tersenyum lalu memberikan banyak khutbah sambil bercanda seperti biasanya, intinya “tidak ada yang tidak mungkin, Vi.”

Ya, bagi keluarga sederhana kami, melakukan perjalanan ke luar negeri bukan sesuatu yang tinggal merem, mengingat budget yang lumayan tidak sedikit juga. Aku juga sadar kesempatan itu harus kuperjuangkan, bukan sekadar kutunggu. Dan lihatlah, rentetan mimpi itu seperti domino. Aku sepakat dengan falsafah Andrea Hirata, bahwa Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Continue reading

Menerka Takdir

sumber gambar: catatan-harian-auni.blogspot.com

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan. Continue reading

Tanya yang Tak Tertanyakan

“Apa kabar?”

bahkan untuk bertanya itupun kukatupkan mulutku

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya Dia menjagamu

“Sedang apa?”

bahkan untuk bertanya itupun kuurungkan niatku

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya engkau sedang berjuang

untuk tanggung jawabmu yang agung

“Bagaimana dengan kita?”

apalagi untuk bertanya itu

sekadar menulis pun aku gemetar

bukan aku tidak ingin tahu

tapi aku percaya engkau mengerti

ada harapan yang hanya berani terlampiaskan dalam doa-doa

Maka biarlah tanya-tanya itu ada

dan terkungkung saja dalam rangkaian sarafku

aku akan tetap diam

karena ada doa dalam diamku

dan sekali lagi

biarlah Tuhan menuliskan jawabnya

di masa yang tepat

Pojok Biru 2,

23 Januari 2012

10.10

Biarkan Angin Berhembus Sebagaimana Mestinya

Malam sudah melarut. Tapi hati yang gelisah tetap terjaga walau mata terpejam. Ada yang dipikirkannya. Ada yang membuatnya gelisah. Ada 5 huruf. C-I-N-T-A.

Ah, soal ini harusnya memang sudah basi ya untuk dibahas? Aku juga sedikit malas untuk menuliskannya. Tapi, melalui deretan huruf ini, hati boleh berharap sedikit kegelisahan itu sirna. Yaa, ini tentang cinta. Sesuatu yang klise, absurd, bahkan ada yang menafikkannya mengatakan bahwa itu tak penting, basi, gombal, apa pun lah itu. Ya karena sejatinya memang masih banyak hal yang bisa dipikirkan selain urusan cinta kan? Yaaa, aku tahu pasti, karena urusan itu pun sering kali aku ‘sirna’kan terlebih dahulu. Mungkin kalian juga. Tapi selalu, aku tidak bisa berlari dari satu waktu yang aku yakin, siapapun engkau pasti pernah mengalaminya. Satu waktu di mana kita memikirkan hal bernama ‘cinta’. Continue reading