Lelaki dan Pembuktian

image

Aku tidak pernah jatuh cinta padanya sebelumnya. Bagaimanalah, untuk aku yang pernah jatuh terlalu dalam lalu terperosok hingga patah oleh cinta, definisi cinta menjadi begitu lain bagiku. Cinta yang sebelumnya kudefinisikan sebagai seseorang yang begini begitu, kini tak lagi begitu. Cinta bukan sekadar tentang siapa, tapi bagaimana. Yang kemudian aku percaya pasti, cinta itu adalah pembuktian, keyakinan, serta restu semua pihak. Maka, ketika dia datang, menawarkan pembuktian, aku mulai bertanya-tanya. Lalu Dia menjawab lewat restu-Nya yang begitu terasa dari hati yang yakin, diikuti keyakinan semua orang terdekat. Apakah aku jatuh cinta saat itu? Aku tidak tahu. Sungguh. Bagaimanalah, aku bahkan baru saja mengenalnya. Aku hanya yakin, dialah lelaki yang dijanjikan Tuhan. Continue reading

Kamu dan Keberuntungan

image

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.
Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.
“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”
Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.
Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”
Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”
Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.
“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading

Kepada Pagi

image

Aku pernah duduk sengaja menikmati bulan, seakan menghambat pagi yang sudah ditandai fajar. Aku pernah duduk berlama bernegosiasi pada matahari agar terlambat terbit. Demi romansa malam. Aku pernah duduk menangisi malam yang berlalu. Tapi tolonglah, setelah aku mengenal pagi, aku selalu menunggunya lagi. Menunggu burung-burung berkicau, embun-embun mengenyahkan dahaga, adzan subuh yang menenteramkan, hingga segelas teh hangat yang mencairkan cinta.
Maka kepadamu pagi yang harus kutunggu lagi, aku tetap di sini. Menantimu dengan senyum berbalut air mata rindu. Menunggumu dengan semangat mengapi untuk menyalakan kobar kehidupan yang penuh makna. Semoga.
Maka kepadamu pagi, kutitipkan rindu yang menggantung di langit-langit malam. Kuucapkan doa yang mengerjap di antara kerlip bintang. Kunadakan cinta di antara senyap yang menyiksaku. Kepadamu pagi. Dengan mataharimu. Dengan cintamu yang tak hanya membuatku berani berjalan menatap siang, tapi juga senyuman menikmati malam yang senyap.
Maka kepadamu pagi, kubiarkan rindu menjadi jalan untuk ridlo-Nya.

Continue reading

Mengenalmu

imageKamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridlonya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kaunahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.

Continue reading

Sakura Gugur di Musim Semi

sakura

Kalaulah muara cinta bukan Sang Maha Pemilik Cinta, kegilaan macam apa yang akan dialami oleh para pencinta? Mati seperti Qais dan Laila? Menegak racun seperti Romeo dan Juliet?

Kalaulah muara cinta adalah manusia, seperti apalagi bentuk hati yang koyak oleh prasangka? Bahkan jawaban-jawaban atas segala sangka pun tak cukup untuk menyulam luka. Kita mau menata hati itu kembali, tapi manusia bahkan tak punya daya untuk merapikan hatinya sendiri kan? Selalu ada Tangan Dia yang menata puzzle hatimu yang sudah terkoyak. Entah dengan cara apa. Hingga sebentuk kejujuran tak mampu lagi mengembalikan hati yang lukanya sembuh sekalipun. Kita tak punya daya apa-apa lagi. Tangan Dia sudah bekerja. Sedang tugas kita hanya menerima. Continue reading

Undeniable

hakikat-pernikahan

Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ketika kamu mengucap janji di depan ayahku dan tentu saja di depan Tuhan. Sangat syahdu. Aku menangis ketika bersalaman denganmu. Kamu mengecup keningku lembut untuk pertama kalinya. Hari yang sepuluh tahun lalu pernah kubayangkan dalam mimpiku. Tapi juga hari yang sejak empat tahun lalu tak pernah lagi kuinginkan terjadi.

“Hal apa yang paling kamu hindari di dunia ini?” aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari seorang sahabatku.

“Menikah dengan satu-satunya mantanku,” jawabku mantap saat itu.

“Kenapa?”

“Kita masih bisa bahagia dengan orang lain kan?”

Tapi Tuhan berkata lain. Hari ini, seseorang yang baru saja mengecup keningku itu adalah kamu, sang mantanku satu-satunya. Kamu masih laki-laki yang kusimpan dalam khayalan futuristikku, satu-satunya yang kubiarkan mengobrak-abrik hatiku, termasuk menyakitinya. Parahnya, karena hanya kamulah obat atas sakit yang juga kamu sebabkan itu. Entah bagaimana cerita Tuhan mengatur hati, kita bertemu setelah saling melepaskan. Bertemu untuk berjanji di hadapan-Nya.

It’s undeniable.. that we should be together.

Continue reading

Lupa

lupa

Gadis kecil berusia delapan tahun itu terduduk menangis di mejanya. Beberapa teman perempuannya menatapnya sambil berbisik-bisik. Sementara teman laki-lakinya mengejeknya, “Anak pintar kok nggak ngerjain PR?”. Ia benci tatapan dan ejekan itu. Ia ingin pulang memeluk sang mama. Dengan bahasanya, ia merutuki dirinya sendiri, “kenapa aku harus lupa dan teman-temanku ingat?”, begitu keluhnya.

Ia masih duduk di kursinya ketika teman-temannya istirahat. Tadi ibu gurunya memberi hukuman untuk menulis 1000 kalimat “Aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” di buku tulis. Entahlah, ia bahkan tak menghitung sudah berapa kalimat yang ia tulis. Pensilnya sudah menumpul dan ia raut berkali-kali. Air matanya ia tahan agar tak melunturi tulisannya. Itu hukuman pertama baginya. Bukankah ia gadis penurut yang selalu patuh pada peraturan? Tapi salahkah kalau hari ini ia lupa? Ia hanya lupa, bukan menyengaja.

Ia benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tujuh  tahun kemudian.

Gadis kecil yang dulu amat benci pada kata “lupa” itu kini sudah meremaja. Usianya lima belas tahun. Ia sudah pindah bersekolah di sebuah SMA favorit di kota besar. Berlari jauh meninggalkan SD-nya yang pernah amat menyakitinya. Prestasinya kini cemerlang. Ia menjuarai berbagai kompetisi akademik hingga tingkat nasional. Ia pun aktif di berbagai aktivitas organisasi. Jangan tanya berapa jumlah laki-laki yang menyukainya. Banyak sekali.

Lihatlah, hari ini ia tampil mempesona ketika menjadi dirigen pemandu paduan suara pada upacara peringatan hari Kemerdekaan RI di depan walikota. Semua hadirin memuji kepiawaiannya. Sayang sekali, hari ini, lagi-lagi ia harus bermasalah dengan kata “lupa”. Ia lupa memberi tanda pada gerakan tangannya. Nyanyian “Indonesia Raya” yang seharusnya sudah berhenti masih menggema padahal bendera sudah mencapai ujung tiang. Para peserta paduan suara memberi kode supaya ia memperbaiki gerakan tangannya, tapi ia tak paham. Terjadilah keributan kecil akibat kesalahpahaman itu. Upacara di depan walikota itu pun tak berlangsung mulus. Pelatihnya memarahinya. Teman-temannya menyalahkannya.

Menulis 1000 kalimat “aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” membuatnya pandai meminimalisir diri supaya tidak mudah lupa. Tapi nyatanya, ia harus mengalami “lupa” itu pada hari yang amat penting baginya. Ia semakin benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tiga tahun kemudian. Gadis itu sudah mulai kuliah. Sampai usianya delapan belas tahun, ia masih tidak mengerti mengapa Tuhan harus menciptakan lupa untuk manusia. Merepotkan.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu.” Seorang laki-laki yang seusia dengannya memanggilnya ketika ia tengah berdiri di halte menunggu bus kampus.

“Iya?” gadis itu mencoba mengamati wajah sang lelaki dengan seksama. Ia belum mengingat siapa dia, tapi hatinya berdesir tidak karuan. Laki-laki itu berbeda dengan laki-laki mana pun yang pernah ia temui. Oh Tuhan, apa gadis itu jatuh cinta?

“Kamu lupa ya?” kata lelaki itu.

Gadis itu benci dengan pertanyaan itu, “tidak, tidak, aku sudah berjanji tidak akan menjadi pelupa sejak usiaku delapan tahun.”

“Sejak hukuman menulis 1000 kalimat itu ya?” kata sang laki-laki sambil tersenyum.

Gadis itu terkejut.

Continue reading