Definisi Bahagia

bahagia

Saya teringat tulisan saya tentang kisah ibu rumah tangga inspiratif. Tentu saja, di balik banyaknya  tanggapan positif tentang kisah itu, banyak juga yang mempertanyakan kisah tersebut. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading

Advertisements

Lupa

lupa

Gadis kecil berusia delapan tahun itu terduduk menangis di mejanya. Beberapa teman perempuannya menatapnya sambil berbisik-bisik. Sementara teman laki-lakinya mengejeknya, “Anak pintar kok nggak ngerjain PR?”. Ia benci tatapan dan ejekan itu. Ia ingin pulang memeluk sang mama. Dengan bahasanya, ia merutuki dirinya sendiri, “kenapa aku harus lupa dan teman-temanku ingat?”, begitu keluhnya.

Ia masih duduk di kursinya ketika teman-temannya istirahat. Tadi ibu gurunya memberi hukuman untuk menulis 1000 kalimat “Aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” di buku tulis. Entahlah, ia bahkan tak menghitung sudah berapa kalimat yang ia tulis. Pensilnya sudah menumpul dan ia raut berkali-kali. Air matanya ia tahan agar tak melunturi tulisannya. Itu hukuman pertama baginya. Bukankah ia gadis penurut yang selalu patuh pada peraturan? Tapi salahkah kalau hari ini ia lupa? Ia hanya lupa, bukan menyengaja.

Ia benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tujuh  tahun kemudian.

Gadis kecil yang dulu amat benci pada kata “lupa” itu kini sudah meremaja. Usianya lima belas tahun. Ia sudah pindah bersekolah di sebuah SMA favorit di kota besar. Berlari jauh meninggalkan SD-nya yang pernah amat menyakitinya. Prestasinya kini cemerlang. Ia menjuarai berbagai kompetisi akademik hingga tingkat nasional. Ia pun aktif di berbagai aktivitas organisasi. Jangan tanya berapa jumlah laki-laki yang menyukainya. Banyak sekali.

Lihatlah, hari ini ia tampil mempesona ketika menjadi dirigen pemandu paduan suara pada upacara peringatan hari Kemerdekaan RI di depan walikota. Semua hadirin memuji kepiawaiannya. Sayang sekali, hari ini, lagi-lagi ia harus bermasalah dengan kata “lupa”. Ia lupa memberi tanda pada gerakan tangannya. Nyanyian “Indonesia Raya” yang seharusnya sudah berhenti masih menggema padahal bendera sudah mencapai ujung tiang. Para peserta paduan suara memberi kode supaya ia memperbaiki gerakan tangannya, tapi ia tak paham. Terjadilah keributan kecil akibat kesalahpahaman itu. Upacara di depan walikota itu pun tak berlangsung mulus. Pelatihnya memarahinya. Teman-temannya menyalahkannya.

Menulis 1000 kalimat “aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” membuatnya pandai meminimalisir diri supaya tidak mudah lupa. Tapi nyatanya, ia harus mengalami “lupa” itu pada hari yang amat penting baginya. Ia semakin benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tiga tahun kemudian. Gadis itu sudah mulai kuliah. Sampai usianya delapan belas tahun, ia masih tidak mengerti mengapa Tuhan harus menciptakan lupa untuk manusia. Merepotkan.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu.” Seorang laki-laki yang seusia dengannya memanggilnya ketika ia tengah berdiri di halte menunggu bus kampus.

“Iya?” gadis itu mencoba mengamati wajah sang lelaki dengan seksama. Ia belum mengingat siapa dia, tapi hatinya berdesir tidak karuan. Laki-laki itu berbeda dengan laki-laki mana pun yang pernah ia temui. Oh Tuhan, apa gadis itu jatuh cinta?

“Kamu lupa ya?” kata lelaki itu.

Gadis itu benci dengan pertanyaan itu, “tidak, tidak, aku sudah berjanji tidak akan menjadi pelupa sejak usiaku delapan tahun.”

“Sejak hukuman menulis 1000 kalimat itu ya?” kata sang laki-laki sambil tersenyum.

Gadis itu terkejut.

Continue reading

Jogjakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

-Kla Project

Aku selalu suka kota ini. Selalu suka kesantunan masyarakatnya. Selalu suka ciri khas budayanya. Dan.. selalu suka saat-saat takdir mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan di kampusmu. Namun rupanya sore ini takdir tidak ditulis Tuhan untuk membuatku menatapmu diam-diam di balik pohon saat kamu lewat. Atau ketika tidak sengaja kulihat kamu sedang duduk di kantin sambil membaca buku. Ya, pertemuan singkat tanpa sapa tapi selalu kuingat. Kamu tak pernah tahu. Tapi hari ini, hari ketika aku sekadar ingin mengatakan “selamat” atas gelar sarjana kedokteran yang kauraih, takdir bercerita lain. Sudah pukul 17.00. Dan kamu tak kulihat berlalu. Sementara wisudawan yang lain sudah pulang. Kampus ini sudah sepi dari hiruk pikuk perayaan kelulusan. Dan aku masih di sini, menanti punggungmu untuk sekadar kutatap. Continue reading

Langit Jakarta (Memaafkan Kenangan)

sahabat dan cinta

“Dia sama sekali nggak nyapa, Jek.” kataku setelah dari tadi kamu tak berhenti membuat lelucon supaya aku tertawa. Terakhir kamu menertawai tubuhku yang menurutmu bertambah gendut. Padahal jelas-jelas berat badanku turun 4 kilogram.

Kamu diam sejenak, menyeruput teh hangat yang tadi kuhidangkan. Langit Jakarta tampak masih terang walaupun jam digital di handphone-ku menampakkan angka 00.24.

“Aku ke sini untuk melihatmu tertawa, bukan menangis. Aku tak mau membahasnya.” katamu kemudian.

“Dia sama sekali nggak nyapa. Padahal jelas-jelas dia melewatiku, Jek.” aku ngotot melanjutkan kalimatku. Mataku menahan air yang siap tumpah kapan saja. Entah pada siapa lagi perasaan antah berantah ini kukeluarkan agar tak menyesaki dadaku. Jadi kumohon, dengarkan.

“Sudahlah, dia mungkin memang tak melihatmu. Kamu tak mengabarinya kan?”

Aku mengangguk. Kamu masih saja membelanya. Barangkali kamu benar. Kemudian aku tertawa, mengikuti alurmu, mengikuti anekdot-anekdot yang kamu tawarkan untuk tujuanmu ke sini: melihatku tertawa. Kamu bercerita tentang serunya menikahi jalanan Jakarta dini hari. Tak peduli kamu tak tahu arah alamat yang kutunjukkan sebagai penanda keberadaanku di kota penuh kamuflase ini. Kamu bercerita tentang Pizza Hut yang tak jadi kauhadiahkan—sudah tutup. Kamu bercerita tentang kehebohan dunia barumu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kamu bercerita dan mendengarku bercerita—asal bukan cerita soal kesedihanku hari ini.

“Bukannya kamu tadi bilang masih mengerjakan tugas dan besok kuliah pagi?”

“Hahaha. Tugas besok bisa datang lagi, tapi kehadiran sahabat baikku di kota ini tidak setiap hari bukan?”

Aku tertawa. Kamu konyol seperti biasanya. Demi melihatku tertawa. Demi melihat aku (yang mengaku sahabat baikmu) ini ada di kota ini.

Langit Jakarta masih terang walaupun jam digital di handphone-ku telah menampakkan angka 00.47.

“Dia jalan melewatiku. Tanpa menyapaku. Daaan,” aku tahu kamu akan protes lagi karena aku membahasnya lagi. Tapi demi resahku, kamu biarkan aku melanjutkan kalimatku, “daaan.. bersama perempuan itu.”

“Perempuan lain?” kamu kaget. Aku tak pernah bercerita sebelum ini. Bukankah saat menemaniku menangis di ruang maya, kamu pun tak pernah mendengarku bercerita apapun tentang dia? Dan kamu selalu memahami, mendengarku menangis tanpa pernah bertanya banyak hal. Sekali waktu entah di tangisku yang ke berapa kamu berujar, “laki-laki itu beruntung  hingga bisa membuat seorang perempuan seteguh dirimu menangis begitu hebat.” Continue reading

#GamusStory Mewarna di Jogja

IYC 2013 - UNY

Tak ada kata yang paling tepat untuk mewakili setiap perjalanan ini selain “subhanallah”. Akan ada banyak terima kasih di balik tawa ceria yang terlukis pada foto di atas. Barangkali benar, sejatinya kebetulan itu tak ada. Allah merangkai setiap frame kehidupan untuk melengkapi frame lainnya.

Cerita berawal di sebuah malam yang penuh kegalauan. Sederhana saja, semua berawal dari pertanyaan galau: “Apa yang sudah aku lakukan selama kuliah?”. Setelah itu, daftar mimpi yang saat itu belum kurapikan di blog ini dan kutempel di dinding kamar, memanggilku pelan-pelan. Ada beberapa daftar yang menunggu untuk dicapai. Kalau sudah seperti itu, aku biasanya melamun sebentar sambil browsing artikel atau kepo timeline apa aja, hehe. Saat itulah, di sebuah ruang tumblr, bertemulah Himsa dengan informasi itu: ada Call for Paper bertema Integrasi Nilai-Nilai Islam melalui Pendidikan. Tema yang tepat untuk mewujudkan mimpi kecil—yang bahkan belum sempat tertulis: mewarna bersama tim Kemuslimahan Gamus IM Telkom, berdakwah dengan prestasi.

Perjalanan ini pun dimulai. Bersama Haning dan Nadya, kami ikhtiar dengan bismillah, juga sedikit nekat karena sebenarnya dateline tidak lebih dari 14 hari tersisa. Kalau merenungi lagi kisahnya, kami selalu bilang: “Ya Rabb, Alhamdulillah Engkau mudahkan semua prosesnya”. Hari pertama berkumpul di perpustakaan, kami bertemu dengan Bu Eka. Kami menghadap beliau dan memohon beliau untuk menjadi pembimbing kami, namun rupanya saat itu beliau sibuk, “Gini aja, untuk tema paper kalian, saya punya teman yang bisa membimbing kalian, namanya Bu Yuda. Ada nomornya?” Kami lalu menghubungi Bu Yuda, kebetulan Bu Yuda juga merupakan salah satu pengisi rutin Keputrian tiap hari Jumat. Namun sayang, tidak diangkat. Tak berapa lama, beliau malah menelepon balik, memberikan dukungan dan semangat serta kesediaan untuk membimbing.

“Nggak apa, Dek, dateline udah dekat juga tak apa, dicoba dulu saja. Niatkan dakwah karena Allah. Minimal kalian mencoba dan belajar,” kata Bu Yuda, membuat kami semakin semangat.

“Tapi kita belum bisa ketemu, saudara saya sakit di Garut, jadi mesti ke Garut dulu, nanti by email saja yah,” lanjut beliau. Tak masalah buat kami, beliau bersedia pun kami sangat bahagia.

Kami pun semakin semangat, beberapa judul kami rumuskan, dan kami sepakat untuk mengambil tema khusus tentang youth community yang terintegrasi nilai Islam. Awalnya, kami akan mengangkat Ngabrink Community, salah satu komunitas positif Bandung yang menurut kami berbeda karena terselip nilai Islam yang ditanamkan di anggotanya. Seminggu berlalu, founder komunitas tersebut sulit dihubungi. Dateline makin dekat. Kami hampir menyerah. Continue reading

Kakak #2

Kak, sedang apa engkau ditempatmu?
Masihkah mematut layar tabletmu
Membuka ruang whatsapp
Membalas huruf-huruf ocehanku
Mengetik panjang-panjang
Demi kata “give me words” yang kulontarkan

Kak, sudahkah engkau tertidur?
Ada deretan huruf yang tak tampak di layarmu
Ada sebongkah rasa yang mengkristal dalam senyumku
Ada dolphinmu yang berkicau di dinding biruku
Ada gigimu yang berjajar rapi menertawaiku
Ada frase “Terima Kasih” yang mengurai
Atas “words” yang selalu kauberi
Atas kesediaanmu kupanggil “Kakak”
Atas caramu mengingatkanku
Atas Septembermu yang membawaku ke kota impian
Atas sahabat-sahabatmu yang merangkulku
Atas pelajaran organisasi yang kauteladankan
Atas sop dan tumis tahu yang kauhidangkan
Atas perjalanan Bandung-Depok-Jakarta-Cibinong yang penuh makna
Atas voice note “Happy Birthday Himsa” dan nasihat manisnya yang masih sering terputar
Atas khutbah Jumat
Atas apapun. Terlalu banyak.
Kak,
Kau bukan sahabat
Kau bukan keluarga
Kau kombinasi dari semua itu.

Kak,
Jangan lupa hadang jalan raya saat hari bahagiaku nanti ya.
Kak, sudahlah.
Awalnya aku ingin menulis puisi tapi rasanya tulisan ini tak ada puitis-puitisnya. Jadi biarlah.
Aki hanya sedang tersenyum atas nasihatmu (lagi) malam (atau pagi?) ini. :’)

Pojok Biru 2,
16 Juni 2013
00.12

Untuk seorang Kakak yang amat mencintai adik-adiknya, walaupun secara biologis, ia anak tunggal. Untuk seorang Kakak yang selalu mengingatkan. Semoga yang terbaik untukmu 🙂

Ruang Nostalgia (Part of Presipitasi)

rain nostalgy

“Jadi kamu tidak mengundangnya?” suara Mama yang terdengar di speaker handphone-ku membuatku terdiam beberapa detik.

“Ma, tadi launching bukunya lancar lho. Alhamdulillah banyak yang antusias dan beli bukuku.” Biasa. Tips paling ampuh untuk hal-hal yang tidak mampu kita jawab adalah mengalihkan pembicaraan pada topik lain.

“Bukan itu, Farikha. Mama tahu soal launching bukumu. Tadi adikmu sudah nunjukin foto-foto yang masuk di twittermu. Mama tanya tentang Razif. Tadi dia tidak datang? Di acara wisudamu dua hari lagi juga dia tidak datang?” Ah, rupanya jurus itu tak mempan untuk Mama.

“Belum bisa, Ma. Mungkin dia sibuk. Mama tahu kan siapa Razif di kampusnya?”

“Iya, tapi launching bukumu kan di kampusnya, harusnya dia bisa datang barang sebentar. Kamu tidak menghubunginya lagi ya?”

“Ma, ini temen-temen dari Bandung udah jemput, nanti pas udah sampai Farikha kabarin yah. Jangan lupa pakai gamis paling cantik buat wisudaanku dua hari lagi, ya. Sampai ketemu di Bandung.”

Klik. Mama menutup telepon begitu saja. Aku tahu Mama marah. Sejak Mama tahu tentang cerita kita setahun lalu, pembicaraan tentangmu mengiang dalam setiap obrolan telepon. Mama berharap banyak di saat aku dan kamu seperti ini: sekadar bersapa atau berkomunikasi pun tidak. Aku tidak mungkin tak memberitahumu soal peluncuran buku ini. Bukankah kamu orang yang empat tahun lalu mengingatkanku tentang mimpiku ini? Yang dengan semangat rajin bertanya, “Hai, sudah sampai bab berapa novelnya?” Entahlah. Nomormu tiba-tiba tidak aktif, last seen di whatsappmu seminggu yang lalu, dan apalagi twitter dan facebook, entah kapan kamu terakhir log in. Memberitahumu secara langsung? Bagaimana caranya? Sementara otak kita mungkin sudah lupa kapan dan bagaimana kita terakhir bertemu. Ya, kamu tiba-tiba saja menghilang dan aku tak berani sekadar bertanya pada teman-temanmu. Memang salahku. Gengsi. Ah, biarlah.

“Farikhaaaa!” seseorang yang amat kukenal suaranya, sahabat baikku selama hampir empat tahun susah senang di Bandung, menghentikan kecamuk pikiranku. Dia menghambur memelukku.

“L parah banget nggak datang tadi. Huaaa.” Aku merajuk sambil melepaskan pelukannya.

“Nggak apa, yang penting lancar kan tadi? Sorry, tadi gue harus mengurus banyak hal di Bandung. Yang penting bisa jemput kan? Gue bawa kabar baik, Say. Kabar 85%!”

“Ha? Kabar 85% teh naon?”

“Haha. Yuk masuk ke mobil dulu.” Continue reading