Mencemburui Masa Lalu

image

Suatu kali saya pernah memiliki pertanyaan, “apakah setiap orang pernah mencemburui masa lalu pasangannya?”. Saya, jujur saja, pernah. Lalu, pikiran saya terbang menuju berbagai situasi lampau di mana seandainya pada masa lalu itu, saya lah yang ada di sebelah pasangan saya, bukan orang lain. Tapi pikiran saya yang lain seperti membunyikan alarm sendiri. Hei, bukankah di masa yang sama yang telah lampau itu, saya pun juga memiliki kisah sendiri? Adil. Bukankah kita dibersamakan sepaket dengan masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan? Saya terdiam lagi.

Continue reading

Aku Pernah Cemburu pada..

Aku pernah cemburu pada sebuah kertas yang tahu isi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kaupercaya daripada aku. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kautafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita di sebuah tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada bingkai foto yang melukis tawa lepasmu—sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kautulis diam-diam di samping gambar-gambarmu. Terlebih pada gambar-gambarmu, aku bahkan sangat cemburu.

Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya.

Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas tuts-tuts hitam, karena aku tidak bisa menggambar sepertimu. Hey, apa kamu juga pernah cemburu pada tuts-tuts ini?

Aku pernah tersenyum menyaksikan tawa mereka melebur dalam tawamu. Aku bahkan pernah ingin menjadi mereka, agar tak perlu ada kekakuan saat tiba-tiba kita harus sekadar saling bersapa “Apa kabar?” tanpa temu. Aku juga pernah ingin menjadi angin yang menjadi perantara di setiap bisikmu atau menjadi udara yang menguapkan keluhmu.

Tapi, lama aku mematut diri, untuk saat ini, aku ingin menjadi bagian dari doamu saja.

 

🙂

Pojok Biru 2,

28 Oktober 2012

22.13

BUMBU CEMBURU!

Bogor, Desember 2015

Razif terkejut ketika sampai rumah. Ruang tamu sederhana yang baru ditatanya bersama istrinya seminggu lalu berubah total. Sekilas memang tampak lebih rapi. Ia tersenyum sedikit, sempat terlintas “ada apa?” di pikirannya. Tapi ia tepis. Bukannya ini lebih manis?
“Dek?” ia memanggil istrinya, lupa pula belum sempat mengucap Assalamualaikum. (Sst, FYI, di bagian ini Ayin belum lahir, masih di perut 2 bulan).

Tak ada jawaban. Ia berjalan menuju kamarnya. Bukannya mendapati istrinya, ia malah tambah terkejut. Kamar itu juga tampak lebih manis. Kali ini ia tak dapat menepis lagi pertanyaan “ada apa?” di pikirannya. Bukankah pasangan muda ini baru menempati rumah ini seminggu yang lalu setelah enam bulan mereka tinggal bersama orang tua Razif? Bukannya baru kemarin mereka bahagia menata perabotan mereka yang belum banyak?

“Dek?” panggilnya lagi, kali ini dengan volum yang lebih keras.

“Iyaaaa.” terdengar suara dari dapur. Ia lega istrinya ada di rumah.

“Kamu masak apa sampai keringetan begitu?” tanyanya lembut pada istrinya.

Farikha hanya nyengir, sambil memindahkan ikan bakar ke cobek yang sudah terisi sambal.

“Kok kamu sudah pulang sih, Bang?”

“Ih nggak suka nih suaminya pulang cepet?”

Farikha nyengir lagi, memamerkan giginya yang tak pernah absen kelihatan kalau dirinya difoto.

“Seneng lah. Ini nanti kita makan malam spesial. Mama pernah ngajarin bikin ikan bakar penyet dua bulan lalu. Ini praktek deh. Hehe.”
Razif tersenyum lagi, ada suatu perasaan entah yang menyentuh sudut hatinya. Membuatnya melupakan urusan ruang tamu dan kamar yang tiba-tiba menjadi berbeda.

“Abang ada kabar gembira makanya pulang cepet. Jadi,..”

“Stop, pending dulu ya, Bang. Mau mandi dulu. Nanti cerita semuanya.”

image

Continue reading

Dialog Langit (Jangan Pernah Cemburu pada Bintang, Bulan!)

Bedebaaamm, bedebuuumm. Suara itu terdengar keras sekali. Di mana? Di mana? Kau tidak akan menemukannya. Bedebaaaamm, bedebummm, kemudian bergoyang. Ah, ini tidak hanya bergoyang, tapi berguncang. Dddaamm ddduuummm. Di mana sumber suara itu?

Mungkinkah langit tahu jawabannya? Malam belum kunjung datang ketika itu. Cahaya matahari masih sangat terangnya hingga kilau bulan dan percikan bintang-bintang tiada terasa oleh langit. Bulan hanya sedang gelisah. Menanti malam yang dijanjikan indah oleh langit.

*** Continue reading