Surat (Terakhir) untuk Bulan

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala jenak-jenak rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas segala rindu bertumpuk yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bersyukurlah, rindu tak sempat memberdirikan kita di koordinat bernama pertemuan. Mungkin, itulah bentuk penjagaan-Nya. Continue reading

Bulan, Katakan Padanya #2

Ini kutulis lagi surat untukmu. Setelah sekian lama aku tak menatapmu. Setelah sekian lama perca-perca rindu yang tak berani sampai, tersimpan di sebelah wajahmu. Setelah sakit hati hampir membuatku tak percaya bahwa rindu-rindu itu benar masih ada. Setelah cerita demi ceritaku padamu dibaca berpasang-pasang mata. Setelah aku belajar membuat hilang cerita-cerita yang mengendap di purnamamu, namun selalu gagal. Setelah itu semua, kemarin malam aku menatapmu. Kubaca samar-samar ceritamu tentangnya, di balik mendung pula. Akan kuceritakan sesuatu padamu, Bulan. Aku janji. Tak akan ada air mata. Tapi kumohon, sampaikan untuknya. Untuk dia yang tengah diuji bermacam terpaan. Kumohon, benar-benar katakan padanya.
Bulan, jika benar dia tengah lelah akan berbagai ujian yang menerpanya, tunjukkan padanya QS. Al-Ankabut: 2-3 atau QS. Al-Baqarah: 214. Semoga ujian demi ujian itu menguatkan imannya.
Bulan, jika dia merasa resah, katakan padanya bahwa pertolongan Allah itu teramat dekat. Dia tak pernah sendiri, bukankah begitu yang diajarkan dalam penggalan At-Taubah: 40? Allah selalu bersamanya. Lepaskan air mata jika memang ingin mengalir, mengadulah pada-Nya. Biar lepas sedih yang dia punya.
Bulan? Apa dia masih begitu susah tersenyum? Ahai, katakan padanya, betapa selengkung senyumnya sebenarnya adalah pengurang setiap beban rasa.
Bulan, sampaikan maafku padanya. Aku tidak akan mengerti banyak, karena aku hanya manusia dengan sepaket keterbatasan, yang kadang hanya sok tau menerka segala kemungkinan. Tapi Allah mengerti semua detil perasaannya. Yang kau mengerti pasti bulan, kau tahu ada segurat sedihnya dalam wajahku, yang terlukis begitu saja. Maka kumohon katakan padanya, tersenyumlah. Tersenyumlah. Karena banyak doa memohon kebaikan mengalir untuknya. Walaupun aku mungkin tak melihat simpul senyum itu. Tak apa.
Continue reading

Senja Memerah

image

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.
Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini.
Tapi aku takut. Aku takut. Bahkan aku pun tak berani menjelaskan pada senja tentang rasa takut itu. Kecuali kamu datang, membawa malam yang dijanjikan langit.
Continue reading

Bulan, katakan padanya..

Aku janji dalam ceritaku malam ini tak akan ada air mata. Maka bersiaplah untuk tersenyum. Aku mau minta tolong padamu.
Bulan, kalau malam ini dia menatapmu, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, tersenyum ceria menikmati hikmah demi hikmah yang dijejakkan Allah di hidupku.
Kalau malam ini ia tengah tertawa lepas, bisikkan padanya, aku bahagia mengetahuinya.
Kalau malam ini dia mengeluh, katakan maafku padanya, aku tak akan ada untuk sekadar mendengar keluhnya, tapi Allah selalu ada untuk meluaskan hatinya.
Kalau malam ini ia tengah gundah oleh masalah-masalah duniawi, tegaskan padanya, pertolongan Allah itu amat dekat.
Kalau ia diam, cukup tatap ia. Tampakkan cahayamu, temani ia, sebagaimana cahaya menemaninya dalam namanya. Biarkan dia berpikir banyak sebagaimana sekarang aku tiba-tiba berpikir.
Kalau ia tak mengingatku atau tertawa oleh senyum selain senyumku, jangan marah, Bulan. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Katakan saja padanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Continue reading

Bulan, Aku Rindu..

image

Bulan, apa kabar kamu? Hujan sudah lama membuatmu tidak tampak. Terlebih sudah dua purnamamu aku hilang. Dia juga. Maaf, dua purnama ini terlalu menyakitkan untuk sekadar menatapmu. Tapi, malam ini, aku akan bercerita lagi. Walaupun wajahmu masih bersembunyi. Dengarkan baik-baik seperti purnama-purnamamu sebelumnya yang menjadi teman baikku menahan rindu.
Bulan, aku rindu saat seseorang menatapmu dari sudut kota yang berbeda, sambil bercerita keluh kesahnya, lalu kamu, cukup dengan kutatap dan kusenyumi, akan menceritakan semua padaku. Terlebih jika ia bercerita tentang rindu, aku pasti akan tersenyum lebih lama padamu. Bulan, aku rindu saat aku dan dia sama-sama menyimpan rindu di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia luruh dalam diam, hanya rasa hati yang terlukis di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia, hanya tentang aku dan dia saja. Dan wajahmu tersenyum menatap balik wajah kami yang tersipu atau mendiam menahan sesak rindu.
Bulan, adakah doa-doa masih terpanjat dalam diam? Adakah rindu masih beradu di balik amarahku yang berpadu?
Maaf, di balik hujan yang merintik menutupimu malam ini, kukabarkan pada wajahmu tentang kesedihan dan amarah. Kupamerkan pula wajahku yang mengalirkan air, entah air hujan, atau air mata. Aku tak dapat membedakannya. Maka, demi air yang membasahi wajahku, kumohon jangan bercerita apa-apa selain tentang aku dan dia. Jangan bawa dia-dia lainnya, atau tiadakan saja cerita selainnya. Biar memang tidak ada cerita selain tentang aku dan dia. Aku dan dia, yang diam-diam menitipkan rindu dan doa padamu. Yang diam-diam menunggu satu waktu untuk menatapmu dari satu bingkai jendela yang sama. Ya, aku dan dia saja. Kamu pasti mengerti.
Hei, Bulan, kamu baik-baik saja kan? Kutunggu wajahmu tampak manis tanpa rintik hujan atau hitam awan. Karena sebelum purnamamu yang ketiga datang, aku ingin mendengar lagi celotehnya padamu sebagaimana ia berceloteh sebelas purnama lalu. Saat dia berbisik, “Bulan, aku merindukan seseorang yang menatapmu di kota lain”. Saat wajahmu masih menjadi saksi rindu diam-diam kita. Kita. Hanya aku dan dia. Tak ada lagi lainnya.
Bulan, aku rindu. Itu saja. Oh ya tentang aku dan dia. Saja.

Pojok biru 2,
15 Desember 2012
23.53 WHH

*Would you like to draw me a moon?

Selarik Cahaya Bulan untuk Langit

Apa yang terjadi?

Mengapa engkau tampak begitu resah, langit?

Adakah yang mengusik tarian awanmu?

Ataukah berbagai ujian membuatmu merasa berat?

Ah, engkau, kutahu engkau selalu kuat

dalam diam, walaupun hujan mungkin akan kau turunkan

ah, aku selalu ingin di sampingmu

mendengarkan keluh setiap mendungmu

menjadi cahaya atas tarian awan hitammu

tapi haruskah aku menyinari

sementara malam belum waktunya datang

wahai langit,

tetaplah membentang biru

izinkan aku mengumpulkan cahaya menanti malam

dan izinkan pula aku berguru pada mentari di siangmu

aku ingin mencahayai gelapmu dengan sempurna

tetaplah membentang biru

karena bulan ingin selalu setia untuk malam

Pojok Biru 2,

23 Januari 2012

10.35

Dialog Langit (Jangan Pernah Cemburu pada Bintang, Bulan!)

Bedebaaamm, bedebuuumm. Suara itu terdengar keras sekali. Di mana? Di mana? Kau tidak akan menemukannya. Bedebaaaamm, bedebummm, kemudian bergoyang. Ah, ini tidak hanya bergoyang, tapi berguncang. Dddaamm ddduuummm. Di mana sumber suara itu?

Mungkinkah langit tahu jawabannya? Malam belum kunjung datang ketika itu. Cahaya matahari masih sangat terangnya hingga kilau bulan dan percikan bintang-bintang tiada terasa oleh langit. Bulan hanya sedang gelisah. Menanti malam yang dijanjikan indah oleh langit.

*** Continue reading