Biru

sama-sama biru namun memiliki cerita yang berbeda

sama-sama biru namun memiliki cerita yang berbeda

Bukan aku.

Bukan begitu? Ah, kamu bahkan berpura-pura tidak tahu. Bukankah seperti itu cara kerja rindu: diam-diam, lalu angin mengalirkannya ke dalam sanubari Sang Pemilik Rindu. Dan aku tahu, bukan aku pemilik sanubari itu. Ya, aku tahu dalam ketidaktahuanku. Rindu diam-diam itu senantiasa dialirkan angin secara perlahan, sedang aku hanya menyaksikannya lewat. Sementara rinduku pun meronta mengejar laju angin. Tak mampu.

Seperti malam ini, buku maya milikmu kembali menggoreskan lagi cerita-cerita birumu yang penuh metafora itu. Tentang angin yang lagi-lagi kausebut sebagai sahabat terbaikmu. Tentang air matamu yang kubaca dari baris-baris hurufmu. Tentang rindumu yang masih menyimpan sendu. Ah, kamu tidak tahu, di sini ada tentang aku yang diam-diam mengamati setiap sendumu, yang ingin sekadar mengatakan “Hei, jangan sedih, aku punya ratusan puisi balasan untuk setiap surat yang kautitipkan pada angin”, tapi tak pernah mampu. Bagaimana bisa? Bukan aku. Maka menyeduh kopi, menelan kembali semua puisi yang tercurah, adalah pilihan yang lagi-lagi kulakukan. Mungkin akan selamanya begitu, kalau saja malam ini kamu tidak menyebut namaku dalam akun twitter yang kamu punya. Continue reading

Novembiru ~ berakhir

image

November sebentar lagi meninggalkan langit. Bulan siap berganti dengan wajah barunya. Aku menutupnya dengan menari menerjang hujan. Menuju semangkuk indomie pedas bergulung gunungan keju. Ya, aku selalu merindukan keju seperti aku merindukanmu. Tapi November ini, biarlah keju tidak menganalogikan kamu. Cukup keju saja. Aku menyukainya. Amat.
Dan selain keju, menari di tengah hujan adalah hal yang benar-benar baru bagiku.

Continue reading

“Kamu itu Biru! Walaupun tanpaku”

image

“Kalau awan di utara masih cerah, berarak di antara birunya langit, itu tandanya kamu masih kuat. Kamu masih biru sebiru langit itu. Kalau awan di utara menghitam, bahkan gerimis, itu berarti kamu diminta langit untuk bersabar, sampai biru datang lagi. Kamu boleh menangis seperti rintik hujan itu. Tapi kamu tidak boleh berhenti. Karena biru pasti akan datang lagi, sebiru kamu.” katamu padaku, tanpa sedikit pun tersenyum. Apalagi tersenyum, menoleh kepadaku pun tidak.

Continue reading

Jika Tak Lagi Biru..

Mengapa? Aku tak tahu mengapa aku justru bertanya mengapa. Jika pada langit aku sudah jatuh cinta, maka bagaimana bila aku mengenal biru yang lain? Maka bagaimana jika aku berhenti menjadi bulan? Lalu aku menjadi pantai untuk birunya laut. Atau menjadi lebah untuk kelopak birunya mawar. Maka bagaimana pula bila bahkan aku mengenal selain biru? Yang menenteramkan hatiku. Yang menenangkan intuisi-intuisi negatifku tentang sebuah perjalanan. Continue reading