Definisi Bahagia

bahagia

Saya teringat tulisan saya tentang kisah ibu rumah tangga inspiratif. Tentu saja, di balik banyaknya  tanggapan positif tentang kisah itu, banyak juga yang mempertanyakan kisah tersebut. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading

Advertisements

Bahagianya Membuat Bahagia!

Kamu tahu rasanya bahagia ketika kita ingin membuat orang lain bahagia dan dia benar-benar bahagia dengan itu? Amazing! Kebahagian itu rasanya tidak hanya berlipat, tapi berpangkat-pangkat. -azaleav-

semoga dia memang menangis karena bahagia

Aku bahkan menangis ketika sahabatku ini menangis melihat video yang kami buat untuknya. Ya, dia menangis, aku pun menangis. Tapi tidak ada yang tahu aku menangis :p Continue reading

Gagal?? Lihat Faktor X!!

renunganSering sekali kita mengeluh, menangis, meratap karena kecewa atas hasil yang kita raih. Di saat seperti itu, takjarang kita menyalahkan diri sendiri, menyalahkan usaha yang kurang maksimal, menyalahkan kejadian-kejadian, menyalahkan waktu, menyalahkan apa saja. Pada tingkat paling parah, kita bahkan menyalahkan Tuhan. Astaghfirullah, naudzubillah…

Sadar atau tidak, pada kenyataannya di dunia ini memang ada yang namanya faktor X. Apakah X di sini? Kita boleh saja menyebutnya X, Y, Z, #, +, atau simbol apa saja. X hanyalah sebuah variabel, untuk sesuatu yang jarang kita pikirkan. Faktor X bukanlah penentu keberhasilan, tapi ia ikut menentukan. Continue reading