(Bukan) Ulang Tahun Online

adik-kakak“Mamaaaaa. Ada Dek Nadaaa.” Ayin tiba-tiba berhenti menumpuk buku-buku komik yang ia susun menjadi rumah-rumahan. Ia cepat berlari keluar toko. Lupa pula memakai sandalnya. Padahal baru kemarin mamanya memberikannya sepasang sandal berwarna biru. Kemarin ia kekeuh tidak mau mencopot sandal itu. Lihatlah, demi seseorang yang ia panggil “Dek Nada”, laki-laki kecil berusia empat tahun itu melupakan semua keasyikannya. Beberapa pembeli yang tengah memilih buku bahkan sampai menoleh kaget mendegar teriakan Ayin. Diani, salah seorang kasir yang dari tadi bersama Ayin juga kaget. Ia malah hampir mengejar Ayin, meninggalkan mesin penghitung, namun tercegah oleh lirikan seorang pembeli wanita paruh baya bergaya modis yang tengah membayar buku yang dibeli. Diani hanya melirik Ayin. Kaget. Takut Ayin lari ke jalan raya.

Apalagi Farikha. Ia kaget bukan main. Mendengar kata “Dek Nada” berarti akan ada pula seorang perempuan bernama Leni, sahabat lamanya. Temannya menggila, menangis, tertawa, bahkan bermimpi. Bersama Leni pula, toko buku “Tuman” dirintis dan sekarang sudah melampaui impiannya. Toko buku “Tuman” kini menjadi toko buku favorit di Bogor. Ia cepat mematikan kompornya dan membenarkan tali jilbabnya. Menarik roknya sedikit ke atas agar larinya tambah cepat. Diani tampak bingung menyaksikan mama dan anak berlarian.

“Buruan, Mbak. Jangan ngelamun.” Ibu-ibu itu akhirnya protes juga.

Diani kembali fokus. Ayin sudah sampai terlebih dahulu. Ia menggandeng gadis kecil berusia 3 tahun yang rambutnya dikuncir dua. Continue reading

BUMBU CEMBURU!

Bogor, Desember 2015

Razif terkejut ketika sampai rumah. Ruang tamu sederhana yang baru ditatanya bersama istrinya seminggu lalu berubah total. Sekilas memang tampak lebih rapi. Ia tersenyum sedikit, sempat terlintas “ada apa?” di pikirannya. Tapi ia tepis. Bukannya ini lebih manis?
“Dek?” ia memanggil istrinya, lupa pula belum sempat mengucap Assalamualaikum. (Sst, FYI, di bagian ini Ayin belum lahir, masih di perut 2 bulan).

Tak ada jawaban. Ia berjalan menuju kamarnya. Bukannya mendapati istrinya, ia malah tambah terkejut. Kamar itu juga tampak lebih manis. Kali ini ia tak dapat menepis lagi pertanyaan “ada apa?” di pikirannya. Bukankah pasangan muda ini baru menempati rumah ini seminggu yang lalu setelah enam bulan mereka tinggal bersama orang tua Razif? Bukannya baru kemarin mereka bahagia menata perabotan mereka yang belum banyak?

“Dek?” panggilnya lagi, kali ini dengan volum yang lebih keras.

“Iyaaaa.” terdengar suara dari dapur. Ia lega istrinya ada di rumah.

“Kamu masak apa sampai keringetan begitu?” tanyanya lembut pada istrinya.

Farikha hanya nyengir, sambil memindahkan ikan bakar ke cobek yang sudah terisi sambal.

“Kok kamu sudah pulang sih, Bang?”

“Ih nggak suka nih suaminya pulang cepet?”

Farikha nyengir lagi, memamerkan giginya yang tak pernah absen kelihatan kalau dirinya difoto.

“Seneng lah. Ini nanti kita makan malam spesial. Mama pernah ngajarin bikin ikan bakar penyet dua bulan lalu. Ini praktek deh. Hehe.”
Razif tersenyum lagi, ada suatu perasaan entah yang menyentuh sudut hatinya. Membuatnya melupakan urusan ruang tamu dan kamar yang tiba-tiba menjadi berbeda.

“Abang ada kabar gembira makanya pulang cepet. Jadi,..”

“Stop, pending dulu ya, Bang. Mau mandi dulu. Nanti cerita semuanya.”

image

Continue reading

Bingkai Impian dalam Tulisan

Di bingkai jendela rumahku pagi ini, aku bisa melihat Langit membiru. Jingga mentari sedikit sudah tampak. Mahkota masjid dibalut daun-daun pohon kelapa juga terbingkai indah dari jendela kamar yang kusebut Tetangga Langit ini. Semua itu mengingatkanku pada satu kata bernama impian. Mengingatkanku pada tulisan-tulisan yang urung kubagi kepada orang lain. Mengingatkanku pada setiap lembar harapan yang pernah kutuliskan.

Pagi ini, saat bingkai jendela kamarku kembali memotret keindahan langit, aku ingin berbagi lagi. Continue reading

Ayin, Hanami, dan Ultraman Jepang

Kichijoji Tokyu Inn
Taman Inokashira (Kota Musashino)
5 April 201#

Ayin bahagia sekali pagi ini. Kalau biasanya yang dihirup ketika bangun tidur adalah udara Bogor, pagi ini Ia menghirup udara pagi sebuah kota yang baru pertama kali dijamahnya. Bukan di Indonesia, tapi di Jepang. Ia berada di daerah Tokyo sekarang. Bagaimana ia tidak bahagia? Ia berada di negara Ultraman, robot yang sangat disayanginya itu. Bahkan, ia bangun lebih pagi dari mama dan abinya. Lihatlah, si kecil berusia 3,5 tahun itu sudah menggeliat dan membangunkan mama dan abinya. Ia tidak sabar menikmati musim semi di negeri matahari terbit itu. (Walaupun sebenarnya Ayin juga belum tahu sih apa itu musim semi :p )
“Abiiii, banguuun. Abiiiiii.” Continue reading

Balon-Balon Sabun untuk Fatiha

Desember 2018

 

Hari ini, Abi ingin memberikan kejutan rahasia untuk Fatiha. Ah, sebenarnya Abi memang sedikit konyol, Adek Fath kan masih berumur bulan, mana tahu dia soal kejutan. Tapi Abi hanya sedikit ketularan oleh kekonyolan Mama. Abi tidak tahu apa kejutan yang ingin diberikannya. Ia, sekali lagi, hanya mengikuti kekonyolan Mama. Toh bagi Abi, tak ada salahnya, sekali-kali membiarkan Mama bahagia dengan kekonyolannya. Ayin, lagi-lagi sok dewasa. “Abi itu aneh. Mending kejutannya untuk Ayin. Ayin kan mau dibeliin Robokop.” gerutunya sambil mengelus kepala Adek Fath yang ada di pangkuannya. Ia duduk di belakang. Mama di depan menemani Abi nyetir. Tadi Ayin sengaja meminta Adek Fath menemaninya duduk di belakang. Ah, Ayin juga aneh. Sok dewasa sekali. Bocah empat tahun itu memang lucu, kadang-kadang membuat Abi dan Mama geleng-geleng sendiri. Continue reading

Pertanyaan Ayin

November 2018

Ayin melambai-lambaikan pesawat kertas kecil. Mama, seperti biasa masih mengomel, meminta pesawat kertas Ayin. Ayin tak peduli, sengaja sekali menerbangkannya ke sana ke mari. Adek Fath sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu. Tapi Ayin malah asyik membuka kotak di meja rias Mama. Menemukan pesawat kertas itu.

“Ayiiin, jangan bandel deh. Nanti Mama bilangin Abi ya..”

“Abi kan belum pulang, Ma. Haha.”

Saat itu, Abi justru datang, “Mainan apa sih, Sayang?”

“Pesawat, Abi.” sahut Mama sambil sedikit manyun.

“Masa Mama nggak ngebolehin aku main pesawat ini.” Ayin melempar lagi pesawat kecilnya.

Abi menangkap pesawat kertas itu, melempar lagi pada Ayin, berkedip ke arah Mama. Lalu mendekati perempuan yang sedikit mendengus sebal itu. “Biarin aja, mana kertas?” Abi duduk di sebelah Mama.

“Buat apa kertas?” Mama masih sedikit jutek. Continue reading

Saatnya Ayin Ceritaaa (Ayin dan Adek Fath)

Oktober 2018

Halooo. Aku Ayin. Aku anaknya Mama dan Abi. Kalau ada yang tanya siapa nama Mama dan Abiku aku nggak bakal jawab. Pokoknya, Mama dan Abi itu cuma satu. Haghaghag.. Mama tertawa kalau aku bilang seperti itu. Apanya yang lucu coba? Huuuh. Tapi kalau ditanya nama lengkapku aku bakal jawab. Namaku Muhammad Raghib Farin. Kata Abi, namaku artinya laki-laki yang berprinsip. Tau deh apa itu prinsip. Tapi aku dipanggil Ayin. Tau nggak kenapa? Karena aku dulu nggak bisa bilang “Farin”. Tapi kalau udah gede, aku mau sok keren, berubah nama lagi jadi Farin. Hahahaa. Sekarang aku udah nggak pelo lagi. Aku minta mama ngetikin apa yang aku omongin. Aku mau cerita.. Awas kalau nggak dibaca!! Continue reading