Dear, Kamu

image

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.
Continue reading

Advertisements

Halaman Kosong

sumber gambar: allfictioninmyworld.wordpress.com

Tertawa sambil menangis secara bersamaan merupakan salah satu hal absurd yang aku tak bisa mendefinisikan bagaimana rasanya. Sungguh absurd. Seabsurd diam yang lebih mendominasi saat semua berlomba melengkungkan senyummu. Seabsurd rindu yang masih saja tak mau beradu sampai waktu mengizinkannya berpadu. Seabsurd halaman-halaman kosong yang kuharap sampai di ujung pensilmu, walau aku tak tahu bagaimana mengetahui kabar sampainya. Dan aku memilih untuk tidak tahu. Diam. Menikmati ketidakpastian. Ah, bukannya kesabaran membuat yang tidak pasti perlahan menjadi pasti? Pasti “iya” atau pasti “tidak”. Atau kadang keputusan lah yang menciptakan kepastian itu. Dan sebuah keputusan pun sering kali didapat melalui sebuah kesabaran yang kadang tak sebentar.

Ya, bersabar tetap menjadi pilihan yang manis. Biarkan saja terus begini. Tertawa bahagia atas lengkung senyummu, sambil menangis entah atas dasar apa. Biarkan aku diam. Tapi kata Dee hidup akan mengikis apa saja yang diam? Ah, aku sebenarnya tidak diam, aku hanya bahagia dipaksa mengikuti arus Tuhan yang penuh rahasia. Menulis di halaman kosong. Lalu, bersabar, menunggu halaman kosong lainnya bertemu ujung pensilmu.

Apa halaman kosong itu sudah bertemu dengan ujung pensilmu?

Pojok Biru 2

8 September 2012

23.13

*ditulis sambil berimajinasi nanya dan memohon pak satpam, haha, himsa konyol lagi.

 

 

 

(masih)

Burung kecil di pintu rumahku baru saja memberi tahu bahwa kamu datang. Dua kali kamu mengetuk pintu. Pukul 13.09. Tak ada jawaban. Satu menit kemudian, kamu mencoba mengetuknya lagi. Masih tak ada jawaban. Tentu saja tak ada, pintu rumah yang kamu ketuk itu ditinggal penghuninya.
Sekarang pukul 13.24. Burung kecil di depan rumah berkicau ketika aku sampai, mengatakan bahwa kamu datang. Aku hanya bisa terpatung dalam senyap. Kakiku mendadak kaku. Sudah lama sekali burung kecil itu tidak pernah memberi kabar tentang kamu. Siang ini, tanpa kuduga, dia mengatakan kamu datang. Bukan suratmu. Tapi kamu.
Ada apa? Aku hanya bertanya pelan dalam ruang sunyi kalbuku. Ingin bertanya pada burung yang memberitahuku, tapi urung. Kuhelakan nafas, ber-hmmmm panjang, mengikhlaskan waktu yang belum mempertemukan kita. Tak apa, aku selalu percaya, ada skenario yang lebih indah dari sekadar pertemuan. Mungkin, memang belum waktunya kita bicara.
Tok tok tok. Ada suara yang mengetuk pintuku lagi, kupikir itu kamu. Bukan.

090812
13.–

~bahwa tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan kita. Kadang ada yang meleset, tetapi skenario yang ada pasti lebih indah dari sekadar keinginan kita.