Ayin, Hanami, dan Ultraman Jepang

Kichijoji Tokyu Inn
Taman Inokashira (Kota Musashino)
5 April 201#

Ayin bahagia sekali pagi ini. Kalau biasanya yang dihirup ketika bangun tidur adalah udara Bogor, pagi ini Ia menghirup udara pagi sebuah kota yang baru pertama kali dijamahnya. Bukan di Indonesia, tapi di Jepang. Ia berada di daerah Tokyo sekarang. Bagaimana ia tidak bahagia? Ia berada di negara Ultraman, robot yang sangat disayanginya itu. Bahkan, ia bangun lebih pagi dari mama dan abinya. Lihatlah, si kecil berusia 3,5 tahun itu sudah menggeliat dan membangunkan mama dan abinya. Ia tidak sabar menikmati musim semi di negeri matahari terbit itu. (Walaupun sebenarnya Ayin juga belum tahu sih apa itu musim semi :p )
“Abiiii, banguuun. Abiiiiii.” Continue reading

Balon-Balon Sabun untuk Fatiha

Desember 2018

 

Hari ini, Abi ingin memberikan kejutan rahasia untuk Fatiha. Ah, sebenarnya Abi memang sedikit konyol, Adek Fath kan masih berumur bulan, mana tahu dia soal kejutan. Tapi Abi hanya sedikit ketularan oleh kekonyolan Mama. Abi tidak tahu apa kejutan yang ingin diberikannya. Ia, sekali lagi, hanya mengikuti kekonyolan Mama. Toh bagi Abi, tak ada salahnya, sekali-kali membiarkan Mama bahagia dengan kekonyolannya. Ayin, lagi-lagi sok dewasa. “Abi itu aneh. Mending kejutannya untuk Ayin. Ayin kan mau dibeliin Robokop.” gerutunya sambil mengelus kepala Adek Fath yang ada di pangkuannya. Ia duduk di belakang. Mama di depan menemani Abi nyetir. Tadi Ayin sengaja meminta Adek Fath menemaninya duduk di belakang. Ah, Ayin juga aneh. Sok dewasa sekali. Bocah empat tahun itu memang lucu, kadang-kadang membuat Abi dan Mama geleng-geleng sendiri. Continue reading

Pertanyaan Ayin

November 2018

Ayin melambai-lambaikan pesawat kertas kecil. Mama, seperti biasa masih mengomel, meminta pesawat kertas Ayin. Ayin tak peduli, sengaja sekali menerbangkannya ke sana ke mari. Adek Fath sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu. Tapi Ayin malah asyik membuka kotak di meja rias Mama. Menemukan pesawat kertas itu.

“Ayiiin, jangan bandel deh. Nanti Mama bilangin Abi ya..”

“Abi kan belum pulang, Ma. Haha.”

Saat itu, Abi justru datang, “Mainan apa sih, Sayang?”

“Pesawat, Abi.” sahut Mama sambil sedikit manyun.

“Masa Mama nggak ngebolehin aku main pesawat ini.” Ayin melempar lagi pesawat kecilnya.

Abi menangkap pesawat kertas itu, melempar lagi pada Ayin, berkedip ke arah Mama. Lalu mendekati perempuan yang sedikit mendengus sebal itu. “Biarin aja, mana kertas?” Abi duduk di sebelah Mama.

“Buat apa kertas?” Mama masih sedikit jutek. Continue reading

Saatnya Ayin Ceritaaa (Ayin dan Adek Fath)

Oktober 2018

Halooo. Aku Ayin. Aku anaknya Mama dan Abi. Kalau ada yang tanya siapa nama Mama dan Abiku aku nggak bakal jawab. Pokoknya, Mama dan Abi itu cuma satu. Haghaghag.. Mama tertawa kalau aku bilang seperti itu. Apanya yang lucu coba? Huuuh. Tapi kalau ditanya nama lengkapku aku bakal jawab. Namaku Muhammad Raghib Farin. Kata Abi, namaku artinya laki-laki yang berprinsip. Tau deh apa itu prinsip. Tapi aku dipanggil Ayin. Tau nggak kenapa? Karena aku dulu nggak bisa bilang “Farin”. Tapi kalau udah gede, aku mau sok keren, berubah nama lagi jadi Farin. Hahahaa. Sekarang aku udah nggak pelo lagi. Aku minta mama ngetikin apa yang aku omongin. Aku mau cerita.. Awas kalau nggak dibaca!! Continue reading

Mama, Abi, dan Ayin #2

Boleh dibaca dulu yang sebelumnya Mama, Abi, dan Ayin #1 . Ini udah lama, tapi baru inget kalau ternyata udah kulanjutkan.. 🙂

Ayin sudah kelelahan. Ia puas berteriak dan tertawa usai dituruti oleh abinya naik kuda. Mamanya hanya tersenyum menyaksikan dua lelaki yang sangat dicintainya ‘berpacu’ di atas kuda. Dua lelaki itu turun. Abi menggendong Ayin yang masih tekekeh. Azan Asar menggema entah dari masjid mana. Mamanya berlari merengkuh Ayin, merebutnya dari gendongan Abinya.

“Ayo sayang, istirahat dulu, sudah azan.”

Ayin justru tak mau digendong. Ia turun dari gendongan Abinya, berdiri di tengah, menggenggam tangan Abinya dulu, kemudian tangan kirinya menggandeng tangan sang Mama. “Mama, tudanya baik banet. Asiiit banet naik tudanya.”

“Iya sayang, kok nggak mau digendong Mama?” Continue reading

Mama, Abi, dan Ayin

Suatu hari pada Februari 2017

Liburan akhir pekan. Keluarga kecil mengendarai sebuah mobil sederhana tapi elegan menuju sebuah vila eksotik di kawasan Ciwangun, Bandung. Anak lelaki dua tahunan langsung berlari ke arah tanaman selada yang terhampar di depan vila. Ibunya yang masih muda sedikit mengejar sambil mengomel, sesekali berusaha membenarkan jilbabnya yang sedikit merat-merot akibat ulah si kecilnya yang ‘kreatif’. Perempuan muda itu mengejar anaknya sebelum si kecilnya terlalu kreatif merusak tanaman-tanaman selada yang menghijau muda.

“Ayiiin.. Jangan lari, Sayang. Di situ ada kodoknya gede lhu.. Sini sini sama mama, nanti naik kuda.” Continue reading