Pencitraan?

Orang yang takut berekspresi karena takut dibilang pencitraan bukankah ia juga sedang pencitraan agar tidak dibilang pencitraan?

*Tetibakepikiranbegitu* *entah*

image

Tapi sejak istilah pencitraan itu fenomenal seperti sekarang, rasanya setiap kita mau berbagi sesuatu kok ada aja yang bakal komentar “ah, pencitraan”. Sedang saya mikir lagi, bukankah pencitraan itu sifat alami manusia? Kita secara otomatis menutup aib kita dan menampakkan hal baik yang bisa kita tampakkan. Bukankah begitu? Maka bersyukurlah kita, karena Allah masih menutup aib kita.

Bahkan ya, setahu saya selama belajar ilmu komunikasi, pencitraan itu penting.
Kita ingin dilihat seperti apa oleh orang lain itu tergantung pada bagaimana kita sendiri mengaturnya. Entah juga, kalian boleh tidak sependapat sama saya, tapi pencitraan menurut saya adalah bagian dari sifat alamiah manusia. Just simple, kalau hati kita ingin memberikan yang baik, ya berikan saja yang baik. Ketulusan hanya kita dan Allah yang tahu. Kalau kita masih takut dibilang pencitraan berarti memang kitanya sedang nggak tulus.

Kita berbuat apapun pasti akan ada yang berkomentar, minimal berkomentar dalam hatinya masing-masing. Dan itu jelas bukan wilayah kita untuk mengendalikannya. Maka sekali lagi, silakan pencitraan, tapi citrakan diri kita sesuai apa yang ada di hati kita. Citra yang memang ingin kita bangun bukan untuk membuat orang memuji kita, tapi memang begitulah pribadi yang ingin kita bangun menjadi karakter dalam diri kita. Kalau emang akhirnya kita dipuji, ya ucapkan alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Ingatkan diri kita bahwa sesungguhnya yang menerima pujian itu adalah Allah. Bukan kita. Titik.

Misalnya ya, kita ingin jadi pribadi bahagia. Alhasil, entah media sosial apapun yang kita punya membuat diri kita menjadi tampak bahagia. Di facebook statusnya happy terus, di instagram share foto lagi seneng-seneng, di twitter berbagi hal-hal positif. Tidak ada yang salah dengan itu walaupun dalam hatinya akan ada aja manusia yang komen “si ini nih sok-sokan banget kayak hidup punya dia sendiri aja, bahagia banget.” Berbahagialah, karena saat itu kita justru sedang berhasil menjadi pribadi bahagia seperti yang kita bangun.

Satu lagi, kita sering nggak sadar komenin orang, “ah dia pencitraan.” Padahal pencitraan bisa jadi sarana memaksimalkan potensi kita lho. Misal ada si A hobi menggambar, instagramnya isinya hasil karya dia semua, secara nggak sadar, dia sedang mencitrakan dirinya sebagai seseorang yang hobi menggambar. Akhirnya yang ada di benak teman-temannya adalah “oh si A ini lho pinter nggambar, kalau pingin pesen lukisan bisa ke dia.” Jadi potensi kan?

So, silakan lakukan pencitraan, rancang hal terbaik apa yang ingin kita tonjolkan sehingga menjadi potensi kuat yang ingin kita bangun. Stop mendengar mulut-mulut tidak bertanggung jawab yang sebenarnya hanya iri karena ia tidak bisa seperti kita. Atau mungkin dia ingin pencitraan juga tapi nggak mau dibilang pencitraan? Hehehehe.

Selama kita nggak melanggar orang lain, nggak menyakiti orang lain. Saya rasa tidak ada yang salah dengan pencitraan ini. Kalaupun misalnya ada orang yang iri atau sakit hati melihat kita yang tercitra bahagia di benaknya, ya itu urusan dia sendiri. Berarti hatinya memang sakit. Lihat orang bahagia kok sedih. Hehehehe.. :V

Baiklah, tulisan ini random. Tadinya mau jadi status di FB tapi kepanjangan. Kebiasaan kalau udah menulis ya ngalir ajaaa. Hehehe.

Rumah,
30 Oktober 2015

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s