Cerita Hamil #1: Garis Satu

IMG_20150718_133831

Medan waktu itu tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Namun untuk saya yang beradaptasi dari Bandung ke Medan, tetap saja kota itu terasa panas. Ah, bagaimanapun selama membersamai suami, kota manapun akan selalu terasa menenteramkan. Ya, seperti sekarang, walaupun kota kelahiran selalu menenteramkan dari dulu, tetap saja ada yang tidak mengutuhkan jiwa. Ah, maaf saya membelok ke mana-mana, mari kita kembali ke Medan beberapa waktu itu. Sekitar akhir Februari hingga Maret 2015.

Walaupun udara tidak terlalu mengganggu, entah kenapa tubuhku tetiba mudah sekali lelah. Lemas. Pening. Berhari-hari. Yang lebih aneh, saya tetiba mual parah apalagi jika melihat tempat jorok. Dan yang di luar nalar adalah sedih jika ditinggal suami. Suami kerja saja bisa nangis. Maunya ditemenin terus. Aneh.

Namun keanehan demi keanehan itu tidak kami hiraukan. Kami masih santai. Jalan-jalan seperti biasa. Hingga suatu ketika kami akan pergi menghadiri pernikahan teman kantor, keanehan terjadi lagi. Awalnya masih biasa saja. Walaupun badan terasa lemas, tapi saya masih ceria. Tetiba, ketika mau berangkat, perut terasa sakit sekali. Kram, seperti ditarik-tarik. Nyeri, seperti akan tiba periode haid. Tapi kami nekat pergi.

“Kamu nggak apa-apa?” Suami saya tampak khawatir melihat saya kesakitan sambil terkapar memegangi perut.

“Nggak papa, Mas. Kita berangkatnya agak telat ya. Biasa, paling mau haid.” Jawabku menepis keanehan.

“Beneran nggak apa kan? Kalau nggak kita pamit aja nggak jadi berangkat.”

“Jangan, kita berangkat aja pelan-pelan. Kan udah janji mau datang.”

Akhirnya kami pun tetap berangkat walaupun esok harinya harus saya bayar dengan tepar tidak kuat bangun. Saya masih ingat, di pagi yang cerah itu, saat saya terbangun, suami saya sudah siap dengan baju kantornya. Ah, saya bahkan tidak menyiapkan apapun. Yang lebih kaget, saya melihat jemuran sudah penuh dengan baju-baju yang sudah dicuci. Ah, suamiku. Tahukah kamu? Saat itu aku makin nggak mau ditinggal, walaupun cuma sebentar. Tapi pekerjaan mana bisa ditinggalkan dengan alasan istrinya manja, hehehe.

Usai suami berangkat, seperti biasa, hp mulai berdering, mulai dari Mbah, orang tua, mertua, dan saudara-saudara. Jeng-jeng, akhirnya ketahuan lah saya sakit. Dan semua berkomentar sama. “Wah, udah isi itu.” Saya hanya tersenyum dan masih mengelak, “Nggak, mau saatnya haid aja, biasa.” Yah, walaupun mau tidak mau akhirnya saya kepikiran juga. Memang benar ya saya hamil?

Sampai di suatu sore di atas motor.. saya lupa tanggal berapa, tapi saya ingat lokasinya di sekitar Bandara Polonia. Saat itu, kami baru pulang dari rumah salah seorang kawan kantor suami untuk menjenguk istrinya yang baru melahirkan bayi kembar.

“Mas, pelan-pelan aja ya bawa motornya.” Kataku.

“Iya..”

“Mas…”

“Hmm?”

“Menurut Mas aku hamil nggak?”

“Hmm.. kalau dilihat dari tanda-tandanya sih iya. Abis kamu beda sih, beberapa hari ini juga sering sakit kan?”

“Beda gimana? Lebih manja ya?”

“Iya..”

“Hmm..”

“Ya udah nanti kita cek aja ke dokter ya?”

“Ah, nggak mau, paling mau haid aja. Biasa kan jadi sensitif.”

Entah kenapa ada rasa takut menjalari pikiran saya. Bagaimana kalau ternyata saya tidak hamil dan hanya sakit biasa? Ah, saya tidak mau kecewa.

“Terus gimana dong?”

“Hmm.. ya udah. Kita beli testpack aja. Tapi hasilnya cuma kita aja yang tahu ya?”

Esoknya, saat belanja bulanan, kami memutuskan mampir ke Cent*ry untuk membeli testpack. Akibat pengaruh nonton Janji Suci Raffi-Gigi, saya ikut-ikutan beli dua merek. Hehe. Yang satu saya beli yang harganya mahal, kata pelayannya sih itu yang bagus. Yang satu saya beli merek abal-abal, tentu saja harganya murah. Serius, belinya aja deg-degan apalagi ngetes hasilnya. Tapi, sedeg-degan bagaimanapun, pagi harinya sebangun tidur, saya mencoba mengecek dengan testpack yang mahalan.

Hasilnya?

Garis satu. Negatif.

Youknowwhat? Memang saya agak lebay sih, tidak sadar air mata saya menetes. Ada kekecewaan campur sedih menjalar begitu saja. Suami saya hanya menatap saya, memeluk sebentar, dan mengatakan semua baik-baik saja.

“Berarti kamu harus banyak istirahat, Sayang. Badanmu lagi nggak fit. Jangan capek-capek ya. Nanti kita berdoa lagi. Santai saja, kan kita juga masih baru menikah.”

Ya, walaupun masih sedih, setidaknya itu menenangkan. Saya sudah tidak berminat mencoba testpack merek satunya.

Sejak kejadian ‘garis satu’ itu, saya jadi lebih santai dan kembali beraktivitas seperti biasa. Badan lemas dan pening masih terasa, tapi saya anggap sebagai sakit biasa karena lelah. Namun ternyata cerita belum usai sampai di situ.

Sekitar tiga minggu kemudian, tepatnya hari Senin, 23 Maret 2015, saya ikut suami puasa Senin-Kamis. Sejak pagi, sebenarnya saya sudah merasa mual, tapi saya abaikan saja, karena sebelum menikah pun saya sebenarnya sudah sering mengalami mual-mual. Jadi, daripada mem-PHP diri sendiri, saya menganggap semua keanehan yang terjadi hanyalah sakit biasa seperti yang saya alami sebelum menikah. Saya buang jauh-jauh pikiran tentang hamil. Walaupun ibu mertua saya entah kenapa yakin sekali saya sedang hamil.

Ya, seharian itu saya mencoba berpuasa. Memang, badan sempat terasa lebih lemas tidak seperti biasa, tapi mau batal rasanya sayang sekali. Alhamdulillah walau sedikit dipaksakan, akhirnya kuat menjalaninya sampai waktu berbuka tiba. Ah, saya ingat betapa lahapnya saat itu saya memakan ikan gurame untuk berbuka. Sayang sekali, usai solat maghrib, semua yang saya makan habis termuntahkan. Badan saya lemas selemas-lemasnya. Suami saya sampai khawatir. Saya benar-benar terkapar tanpa tenaga.

“Besok pagi kita ke dokter ya? Ke dokter umum aja. Setidaknya, kalau memang bukan hamil, sakit kamu bisa ditangani. Mas nggak tega lihat kamu kayak gitu.”

Aku menggeleng sambil berurai air mata, masih kesakitan, “nggak mau kecewa lagi. Paling mau haid, Mas. Sama maag aja, lambungnya nggak kuat tadi dipaksa.”

“Eh bukannya kamu belum haid ya?”

Saya teringat dalam setiap telepon, ibu mertua saya menanyakan apakah saya sudah haid apa belum dan saya selalu menjawab belum. Dan, ternyata saya sudah telat 10 hari. Harapan kecil itu tetiba muncul kembali.

“Ya udah, Mas. Besok pagi coba dipakai istirahat dulu ya.”

Ternyata, sepanjang esok harinya, mualnya masih terasa, sepaket dengan lemas dan pening. Orang tua dan mertua yang tahu saya sakit langsung kompak menyarankan agar segera ke dokter. Awalnya saya nggak ngaku kalau sakit, tapi suara lemas saya nyatanya tidak bisa membohongi mereka.

“Mas, apa kita ke dokter aja ya?” Kataku malam harinya.

“Ya udah besok coba kita cek ya?”

“Eh jangan dulu ah. Kan kita masih ada satu testpack lagi yang merek abal-abal. Kita coba dulu cek sendiri ya? Kalau garis dua, besok kita pergi ke dokter kandungan, kalau garis satu, kita pergi ke dokter umum.”

“Ya udah iya..”

Pagi itu kembali diwarnai dengan rasa deg-degan. Setelah saya cek ternyataaaaa.. Garis dua! Positif!

Lagi-lagi respon saya hanya air mata dan suami saya memeluk sambil senyum-senyum.

“Nanti kita pastikan ke dokter kandungan ya..”  Aku mengangguk.

Siang hari, saat jam istirahat kantor, suami saya menjemput saya untuk cek ke dokter. Ternyata suami saya sudah melakukan survei di mana dokter terbaik di Medan untuk periksa kehamilan. Mulai dari googling hingga rekomendasi kawan. Dan akhirnya kita memilih RSIA Stella Maris.

Setelah antri lumayan panjang, dokter Rahma yang ramah mendengarkan cerita saya, dan segera mengecek serta melakukan pemeriksaan USG.

“Iya, ini ada kantong hamilnya. Perkiraan usia kehamilan 5-6 minggu ya. Janinnya masih sangat kecil. Dijaga baik-baik ya soalnya ini kandungan pertama masih rawan.”

Saya sudah tidak bisa menangis lagi. Hanya tersenyum dan berdecak syukur dalam hati. Aku akan jadi ibu? Pertanyaan itu mulai mengiang. Suami saya sendiri pun menunjukkan ekspresi yang sama walaupun air mukanya jelas menunjukkan raut bahagia.

“Tapi, Dok. Tiga minggu lalu saya cek kok negatif ya?” Tanyaku masih penasaran.

“Itu kan masih kecil, belum terdeteksi ada janin.”

Kami pun pamit setelah dokter Rahma memberikan berbagai wejangan dan selembar resep vitamin.

Apa kesimpulannya dari kejadian ini? Ternyata testpack yang mahal nggak akurat, jadi kalau beli yang murah-murah aja, biar nggak rugi. Haha. Bercanda. Tapi ada benarnya sih, karena ketika saya tanya pengalaman dari teman-teman lain ternyata serupa juga. Analisis lebih tepatnya sih jangan terlalu dini mengecek kehamilan dengan testpack, tunggu saja sampai masa haid terlewat dan memang tak kunjung henti. Jangan terlena dengan tulisan di kemasan testpack tentang pengecekan usia seminggu kehamilan sudah bisa dilakukan. Nyatanya saat itu hasilnya negatif padahal menurut perhitungan dokter, saya harusnya sudah hamil saat itu. Oh ya, telat haid bukan indikator pasti, tapi setidaknya bisa menjadi pertanda agar kita segera memastikan. Semoga bermanfaat.

***bersambung***

Cerita ini saya persembahkan untuk buah hati kami. Betapa beginilah kami menunggu kehadirannya. Semoga tetap ada hikmah yang bisa diambil. Dan sama sekali tak ada yang perlu diirikan dari isi cerita ini, karena setiap kita punya porsi bahagia masing-masing.

11 September 2015

22.58 WHH

Rumah

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Hamil #1: Garis Satu

    • Aamiin 😉
      Itu teh merek yg ada iklannya hahaha..
      Harus bgt nih disebut. Yg penting yg mau beli mending beli yg murah ajaa. Sisa duitnya buat beli makanan klo ngidam :p

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s