Kamu dan Keberuntungan

image

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.
Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.
“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”
Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.
Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”
Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”
Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.
“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa.

“Ternyata istriku ini kan dulunya banyak yang memperebutkan.” Lanjutmu sambil tertawa menggodaku.
Aku menutupi grogi sambil menjawab candaanmu dengan candaan pula, “Iya, bahkan dulu banyak yang nggak rela aku nikah.” Yang ini kepedean, biarin. Aku sengaja membuat majas hiperbola super hiper alias lebay. Siapa pula saya direbutin? Haha.
Kamu tertawa lagi. Gigi gingsulmu terlihat.
“Aneh ya, Mas. Kok bisa ya aku mau saja pas Mas dulu datang ya? Padahal kita nggak saling kenal. Dulu aku maunya sama mahasiswa IT%. Tapi dua kali Allah mendatangkan mahasiswa IT%, aku nggak bisa bilang iya.”
Kamu tersenyum. Aku sudah selesai mengepel.
“Siapa tahu nanti Mas jadi mahasiswa IT% yaa. Jadi nyata deh impianku. Hehehe.”
Kamu terus saja tersenyum, senyum yang selalu membuatku tenang menjalani setiap hari baruku. “Memang sudah begini Allah mengaturnya, Sayang.” Kamu menarikku untuk duduk di sampingmu.
“Iya, Mas. Dulu aku minta suami yang keras kepala, eh malah dikasih Allah yang sabaaaaarrr dan pengertiannya luar biasa. Allah baik banget ya sama aku.”
Kamu memeluk pundakku. Aku bersandar.
“Suatu saat kita mungkin akan mengalami kesalahpahaman. Akan ada kekurangan-kekurangan Mas yang mungkin membuatmu kesal dan sebagainya. Atau sebaliknya. Semoga kalau itu terjadi, kita tetap bisa mengatasi sama-sama ya.”
Aku mengagguk, “Aku ini susah jatuh cinta, Mas. Tapi sekali jatuh cinta, aku tak peduli lagi dia seperti apa. Hatiku akan begitu saja menerima kurang lebih orang yang kucintai.”
Aku belum selesai berbicara, kamu malah menggodaku, mencubit-cubit hidungku sampai geli.
“Ah, tadi kan mau ngomong serius, Mas. Hilang aah feelnya.” Aku pura-pura ngambek. Kamu malah tertawa. Tak lama kemudian, adzan maghrib menutup senja dengan manis.
Ada yang tidak kukatakan padamu saat itu…
Mas, akulah yang super beruntung diberi pendamping sepertimu. Akulah sang pemilik keberuntungan itu. Keberuntungan yang justru kusadari setelah aku menjalaninya. Keberuntungan yang sama sekali tidak ada di bayanganku sebelumnya. Banyak sekali hal-hal ajaib nan membahagiakan yang kujalani bersamamu, yang mungkin dulu sempat kuragukan sebelum ijab kabul terucap. Mungkin, tulisan ini terkesan sedikit sok melankolis atau terdengar lebay ya. Tapi percayalah, bukankah tidak ada yang terdengar lebay jika hati yang berbicara?

Untuk cinta yang selalu kautawarkan, yang kita belajar untuk bisa saling mengungkapkannya, aku tertegun. Kamulah cinta yang dulu kupilih karena aku mencintai Rabbku. Dan Rabbku menurunkan cinta yang begitu besar dari matamu. Aku beruntung.

Untuk kasih sayang yang kaupancarkan melalui kesabaranmu, atau pengertianmu, atau kejutanmu, atau kesetiaan dan kerja kerasmu, aku bahagia, Sayang. Aku beruntung.

Untuk rindu yang kaujejakkan saat kamu pergi, aku bersyukur karena rindu itu menciptakan rasa percaya yang menenteramkan. Aku beruntung.

Untuk telingamu yang setia mendengarkanku, aku lega selalu bisa bercerita apapun padamu setiap hari. Apapun yang kutonton, kudengar, kubaca, kubicarakan, kupikirkan, kuresahkan, apapun. Dan kamu selalu tahu kapan kamu hanya perlu mendengar atau berkata bahkan bertindak sesuatu. Aku beruntung.

Untuk sifat tenangmu saat kita berdiskusi banyak hal. Pendidikan anak kita kelak, perencanaan keuangan, atau diskusi sederhana semacam apa ya menu makan besok? Aku terkagum. Aku beruntung.

Dan masih banyak lainnya keberuntungan yang dititipkan Allah padaku melaluimu. Semoga sakinah mawaddah warahmah mengiringi cinta yang kita bangun sama-sama. Semoga rahman-Nya selalu ada dalam rumah sederhana kita. Semoga rindu selalu membuat kita saling percaya.
Terima kasih, suamiku.

Lupa ditulis tanggal berapa
Diedit ulang
15 Juni 2015, 23:25 WHH
Di Medan

Ps: Percakapan diatas tidak sama persis dengan kenyataannya. Diedit seperlunya, namun tidak mengubah esensi pembicaraan. Ditulis spesial untuk suami super keren. Mungkin saya lebay, tapi emang iya sih, nulisnya sambil mewek :p

Betewe, saya hutang 13 hari #NulisRandom2015 ya? Hehehe. Ampun. Tidak ada kuota, saya dirundung wabah tidak ingin pegang hp dan gadget, tapi tulisannya ada, tapi saya mikir ulang tiap mau post. Hehe. Tulisan ini pun sebenernya hampir tidak jadi saya post, karena pas dibaca ulang kok lebay ya. Tapi biarin, namanya juga random. Tulisan lainnya segera disusulkan pelan-pelan :’)

Advertisements

9 thoughts on “Kamu dan Keberuntungan

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s