#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? πŸ˜€
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe.
Alhamdulillah udah terlalu lama sendiri sih sebelum nikah, jadi ditinggal pun nggak yang takut atau gimana gitu di rumah sendirian. Tapi, the problem is, saya nggak suka sepi. Dan saya juga bukan yang hobi keluar rumah (apalagi selama di Medan nggak diizinin suami keluar sendiri, agak ngeri di jalannya hehe). Paling sesekali main ke rumah tetangga. Selebihnya, ya baca buku atau beberes atau masak atau nelponin semua keluarga dan kawan gantian.
Biasanya suami pergi paling lama tiga hari. Ya, walaupun sepi, alhamdulillah masih bisa teratasi. Sampai suatu ketika, suami pergi lebih lama dari jadwal. Di jadwal seharusnya, suami saya hanya pergi tiga hari. Namun karena berbagai kendala dan kondisi lapangan, sampai empat hari suami saya belum pulang juga. Aneh, hari itu saya tetiba mual dan pusing parah. Tertebak kenapa? Secara psikologis ada yang salah. Ada harapan dalam diri saya yang tidak terpenuhi. Saya sudah merencanakan a, b, c, d kalau suami pulang hari Sabtu. Tetapi saya tunggu, tidak ada tanda bahwa doi akan pulang hari itu. Padahal itu sudah empat hari. Entah, aneh saja rasanya. Saya tidak berani tanya dia di mana. Yang ada di pikiran saya adalah berharap dia nelpon minta bukain pintu rumah. Eh, yang ada, jam 9 malam, dia telepon bilang masih di Langsa (Aceh). Saya menangis tiba-tiba. Eits, tentu saja doi nggak tahu kalau saya nangis. Saya saja nggak sadar kalau saya nangis. Hahaha. Agak lebay sih memang bagian ini. Tapi sabar dulu, bagian alay dan lebay dari diri kita juga menyimpan hikmah kok πŸ™‚ Jadi, ikuti dulu lanjutan ceritanya ya.
Habis itu, saya seperti orang galau gitu ngelamun memandangi hape. Masih alay ya? Ya bisa dibilang itu kali pertama saya pisah sama suami lebih dari tiga hari. Apalagi di rumah sepi. Dan saya tidak suka sepi. Aneh memang, padahal dulu nggak kenal sama sekali sama suami, eh setelah menikah, perasaan berubah begitu saja ya, ditinggal bentar aja sepi banget :’). Jadi, kalau nonton di tivi Gigi nangis ditinggal Raffi umroh, sebagai sesama pengantin baru, saya cukup bisa memaklumi. Haha, ini ketahuan saya diam-diam jadi RANS ya πŸ˜›
Nah, ya sudah, setelah itu, saya sadar dan istighfar nggak boleh galau lama-lama. Akhirnya saya bangun, ngelirik cucian piring di dapur, beberes, nyapu, dan ngepel (tetep ya). Setelah itu saya tidur. Alhamdulillah jam 2 malam ada suara mobil yang ternyataaaa, suami datang. Habis telpon saya, ternyata doi langsung beberes dan pulang, tapi sengaja nggak bilang ke saya. Fuh! Mana udah nangis diem-diem kan? Tapi tetep aja seneng.
Itu cerita pertama. Nah, saya lanjutkan ke cerita kedua ya. Dua minggu setelah hari itu, tepatnya hari Jumat sore kemarin, kabar dinas datang lagi. Tidak tanggung-tanggung, kali ini langsung enam hari. Uwoooww. Pelajaran ditinggal sebelumnya saya pegang baik-baik. Saya menangkap bahwa kemarin saya galau karena harapan saya sendiri. Saya harusnya tahu bahwa pekerjaan di lapangan itu unpredictable. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Tapi harapan saya sudah kuat bahwa suami bisa pulang lebih cepat. Maka, ketika kenyataan tidak sesuai harapan, galaulah saya. Tidak mau mengulang kegalauan yang sama, saya memutuskan untuk kembali menerapkan pelajaran berharga bernama manajemen harapan. Konon, perempuan adalah makhluk kepastian walaupun kenyataannya kaum ini lebih suka ditarik ulur. Tidak semua sih, tapi begitulah menurut definisi umum. Dan menurut saya, definisi umum tersebut dapat kita patahkan dengan menjadi perempuan yang pandai memanajemen harapan.
Apa sih manajemen harapan? Sederhana saja. Intinya, kita mengelola harapan kita, bukan berharap pada pasangan ataupun seseorang ataupun keadaan, tapi pada Allah semata. Ketika kita berharap pada Allah, saya yakin, apapun yang terjadi kita ikhlas, karena kita tahu hal tersebut sudah menjadi kehendak Allah.
Bismillah.. Ketika suami mendapat tugas dinas enam hari, saya sudah tidak berberat hati lagi. Saya juga sudah siap kalaupun ternyata kondisi lapangan membuatnya pergi lebih lama dari jadwal. Saya yakin Allah pasti sudah mengatur semuanya. Ya pasti namanya sepi dan kangen tetap ada. Tapi karena saya menyadari hal tersebut, saya pun menyiapkan diri untuk menjaga hati agar tidak galau. Saya mulai merancang aktivitas apa saja yang akan saya lakukan selama suami pergi. Mulai dari urusan beberes rumah, masak, sampai memutuskan kembali menekuni hobi menulis. Dan lahirlah project #NulisRandom2015. Haha, memang ya, kegalauan jika disikapi dengan positif akan menghasilkan kreativitas.
Alhamdulillah, manajemen harapan membuat saya lebih tenang. Dan benar saja, ketika ikhlas akan ketentuan Allah, justru Allah lah yang malah memberi surprise. Tadi sore, saat saya sedang mengantuk parah, suami kirim wa minta dibukain pintu abis maghrib. Wow! Saya langsung melek. Ternyata ada yang pulang lebih cepat. Hehehe. Alhamdulillaaah.. Malam ini nggak makan sendirian lagi.
Jadi begitulah cerita dari perempuan yang sedang belajar jadi istri yang baik ini. Saya akui saya juga sama dengan ciri perempuan yang ada di definisi umum itu. Kadang-kadang berharapnya berlebihan, pas jatuh kecewa sendiri nyari alasan-alasan di luar diri kita. Padahal, sejatinya, kita sendirilah yang tidak memanajemen harapan itu dengan baik.
Sekian randomisasi hari ini. Semoga ada hikmah yang terpetik. Mari jadi perempuan kuat!

Medan,
Rumah Random
2 Juni 2015
22:24 WHH

PS: Ide menulis bisa datang dari mana saja kan kalau dipaksa? πŸ™‚ Terima kasih suami untuk surprisenya.

Advertisements

5 thoughts on “#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

  1. Hai mba, salam kenal. Sebagai newlywed saya merasa banget itu susahnya manajemen harapan, antara keinginan dan ga mau memberatkan suami itu nyeimbanginnya susah huhhhuhuhuhu. *eaa curhat*

  2. noeroelfaizah says:

    Wuaaaaa… Saya jg sering nangis mbak..saat harapan tudak sesuai dg kenyataan . dan mencoba memanage nya dengan tidak terlalu berharap… Salahkah mbak?,😊

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s