41014: Story About My Marriage

Keakraban dua jiwa yang ditakdirkan bersama terkadang terjalin begitu saja. Tanpa perlu waktu yang lama. Tanpa perlu debar kasmaran. Hanya ada yakin yang begitu saja menghampiri. Karena jiwa-jiwa yang disatukan oleh langit telah saling tarik menarik satu sama lain. Ketertarikan yang terkadang tak perlu penjelasan akal. Rasa tenang sebagaimana janji-Nya dalam Ar-Ruum:21 akan terasa begitu saja ada, jika cinta yang dilabuhkan di pernikahan berlandaskan cinta hakiki, karena Allah.

photo by: Whelix Photography

photo by: Whelix Photography

Bismillah, akhirnya ngeblog lagi, setelah entah sekian lama pojok biru ini jadi kusam karena penghuninya sok sibuk dengan berbagai ini itu. Ah, kebanyakan ngeles ya? Hehe. Ya sudah, berhubung suami sedang menjalankan tugas negara di ujung Indonesia dan saya nggak bisa tidur, lebih baik saya menulis. Ya, menulis untuk mengenang sebuah kisah penting dalam hidup saya. Sekaligus menunaikan janji menjawab pertanyaan ‘gimana ceritanya bisa nikah?’ dari teman-teman dan pembaca buku di berbagai chat, yang saat itu saya janjikan, ‘nanti ya tunggu di blog’. Hihi. Dan tak terasa, hari ini sudah sebulan sejak peristiwa peradaban itu terjadi di hidup saya. Siap-siap ya, agak panjang nih sekalian curhat :p. Yang pasti, semoga ada banyak hikmah yang bisa diambil. (Khususnya buat yang lagi galau soal jodoh).

Hmm, mengenang cerita ini mau tidak mau membuat ingatan saya berlari pada Oktober 2014. Bulan yang menjadi saksi bahwa impian dan doa itu benar-benar dicatat dan dikabulkan Allah dengan cara-Nya. Jadi, saya dulu punya mimpi yang saya beri judul ‘Mimpi Oktober 2014’. Sesungguhnya, itu hanya mimpi konyol saja. Mimpi bahwa saya ingin menikah atau bertemu jodoh saya di bulan Oktober 2014. Kenapa Oktober? Ini agak konyol juga sih, saya kan orangnya absurd. Saya ingin Oktober menjadi bulan spesial, bulan perantara yang menjembatani saya dan pasangan saya. Saya kan lahir November, nah saya punya mimpi konyol lagi, yaitu punya suami yang lahirnya bulan September. Jadi, nanti kita dipertemukan oleh Oktober. So sweet kan? (Padahal alay ya? Hahaha). Walaupun konyol, mimpi itu saya seriusin. Saya ingat, tidak ada doa yang tak didengar. Oktober 2013 saya punya mimpi ingin ke luar negeri, ternyata benar Allah mengizinkan saya ke Turki. Jadi, saya pikir, tak ada salahnya berani bermimpi (lagi).

Saya share mimpi itu di media sosial dan sempat jadi photo profile di whatsapp. Bahkan sempat jadi password juga di beberapa akun saya, biar nggak lupa punya mimpi itu. Jadi, tiap ngetik sandinya, saya berdoa gitu, ehehe. Banyak juga teman yang kemudian bertanya, “maksudnya mau ngapain itu pray for oct 2014?”. Saya jawab aja santai, “ada mimpi besar saya, doakan aja ya.” Dan banyak diaminkan loh. Lely, salah satu teman terdekat di kampus sampai nadzar mau bawain boneka Hello Kitty buat adek saya kalau benar ada peristiwa besar di Oktober 2014. Saya sih masih santai saja mengingat mimpi itu saya proklamirkan sekitar setahun sebelumnya. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Saya pun mulai fokus pada hal-hal lain, mulai dari skripsi, kerjaan, sampai mewujudkan mimpi besar saya lainnya: menerbitkan buku.

Ini salah satu yang saya share di instagram: aahimsa

Ini salah satu yang saya share di instagram: aahimsa

ini tulisan di buku JIPN

ini tulisan di buku JIPN

Di tengah itu, saya dapat jarkom dari Teh Fu yang akan launching buku terbaru berjudul ‘Jodohku, Inilah Proposal Nikahku’. Entah kenapa, saya tertarik untuk ikut. Saya yakin, tidak ada yang kebetulan. Selain itu, ilmu ini rasanya penting untuk menunjang impian Oktober 2014 itu. Akhirnya, saya pun datang ke acara tersebut. Selain dapat banyak ilmu, serunya, di situ kita diajak ngisi titik-titik yang ada di buku, salah satunya lembaran tentang doa ingin menikah kapan dan dengan siapa. Ini tulisannya masih ada. Saya memilih tanggal 4-10-14, karena selain hari Sabtu, juga ada filosofinya lho. 4+10=14. Semoga hari itu bisa mempertemukan dua jiwa yang disatukan langit. Mengutuhkan dua jiwa yang berbeda. Tapi saya tidak berani menulis nama. Jujur saja, saat itu sama sekali nggak ada gambaran mau nikah sama siapa. Jadi saya tulis aja, dengan lelaki terbaik pilihan Allah. Dalam hati berdoa sih, semoga ada kejutan dari Allah 😉

Foto waktu mengikuti launching buku JIPN

Foto waktu mengikuti launching buku JIPN, read the caption 😛

Waktu pun terus berjalan. Skripsi selesai. Wisuda usai. Pindah ke Jakarta 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Banyak hal yang terjadi. Jujur, ada juga beberapa lelaki yang mendekat dan berniat menikah. Tapi entahlah, bukan karena mereka tidak baik, hanya hati saya tak bisa berkata ‘iya’ dan Abah pun tak juga memberikan ridlo. Saya punya prinsip, siapapun lelaki yang akan menikahi saya, harus dapat ridlo dari Abah dulu, barulah nanti saya memutuskan. Kalau dari awal Abah berkata tidak, maka walaupun saya ridlo terhadapnya, saya meyakini dia bukan jodoh saya. Karena bagi saya, sebelum menikah, seorang anak perempuan berada di bawah tanggung jawab ayahnya. Jadi, ya sudah, kalau semuanya belum sreg, saya tidak akan memaksakan diri. Terlebih ada pengalaman patah hati yang cukup jadi pelajaran besar buat saya.

Alhasil, gara-gara sering merasa tidak sreg setiap ada yang berniat serius, sampai ada teman yang mengingatkan begini, “katanya mau nikah bulan Oktober, tapi tiap ada yang mau serius, nggak pernah bilang iya. Ya kapan nikahnya kalau gitu?”. Saya sempat gentar, namun bagi saya, kalaupun bukan Oktober 2014, Allah telah mempersiapkan waktu terbaik untuk pertemuan itu. Siapapun yang datang, jika Abah dan hati saya belum ridlo, saya tidak mau memaksakan diri mengambil keputusan. Maka sudahlah, waktu kembali cepat berlalu sampai tidak terasa bulan September telah menyapa. Saya sempat teringat mimpi konyol itu, tapi sudahlah, saya ikhlaskan. Memang belum waktunya. Mungkin saya harus lebih memantaskan dan menyiapkan diri. Dan saya pun menyambut Oktober dengan hati yang tetap bahagia dan ceria seperti biasa.

Sampai tibalah hari itu, 4 Oktober 2014. Saya lupa kalau hari itu adalah tanggal istimewa yang pernah saya lingkari. Hari Sabtu yang sekilas tidak beda dengan hari-hari lainnya, saatnya bersantai. Saya ingat, hari itu saya asyik main dengan Kak Reni, teman kosan saya. Kami asyik sendiri menyiapkan Idul Adha sederhana kami, berencana akan menginap di Daarut Tauhid, solat di sana, jalan-jalan, dan lain-lain. Siapa yang menyangka rencana Allah, ternyata di tengah keasyikan itulah, takdir Allah ditunjukkan. Hmm, tarik nafas dulu, meregangkan jari ya, hehe..

Mari mengenang. Sore itu, kita main ke Griya iseng-iseng ikut event Ward*h dan Great Muslimah, sambil cari-cari diskon. Lalu saya teringat dapat gratisan ayam KFC dari line, saya dan Kak Reni sepakat pergi ke KFC Merdeka buat mengambil ayam gratisan itu, haha. Sepanjang perjalanan, teman kosan saya ini terus saja bercerita soal kakak semata wayangnya. Sebenarnya, sebelumnya dia sudah cerita terus soal kakaknya. Sesekali dia juga iseng bilang, ‘Hims, lu gue jodohin deh sama kakak gue’. Tapi, saya hanya menanggapinya dengan tertawa karena saya pikir itu hanya bercanda biasa. Yang jelas, setiap mendengar cerita-cerita Kak Reni soal kakaknya, saya selalu kagum dan bergumam ‘Masih ada ya, jaman sekarang, lelaki yang begitu patuhnya sama ibunya? Salut sama kakaknya Kak Reni.’ Ya, saya tidak perlu bercerita apa yang diceritakan soal kakaknya, yang jelas, kalau kalian tahu ceritanya, pasti kalian sepakat dengan saya. Intinya, kakaknya itu sesosok lelaki yang sangat patuh dan menyayangi ibu. Bagi saya, pengorbanannya untuk ibunya sungguh luar biasa. Well, sampai saat itu, saya bahkan nggak tahu siapa nama kakaknya.

Masih di tanggal 4 Oktober 2014, kami memutuskan untuk menginap di DT agar esoknya bisa ikut Solat Ied di sana. Sepanjang perjalanan dari Jalan Suci sampai Gegerkalong, Kak Reni masih nggak berhenti cerita soal kakaknya. Anehnya, saya masih belum tahu namanya. Yang saya mulai tahu, ternyata kakaknya itu alumni IT 2006, dulu aktif di Lazis, hobinya ini itu dan bla bla bla lainnya.

“Beneran ya, Him, lu kenalan dulu ama Kakak. Kan kenalan aja. Siapa tau kan cocok. Kalau nggak cocok ya udah temenan aja, abis kalau liat kamu kayanya pas gitu sama yang dicari Kakak. Ibu juga nyarinya yang semacam kamu gitu.” Kurang lebih begitu katanya menggodaku. Aku tersenyum saja. Tetiba ada perasaan bingung.

“Tapi aku nggak biasa kenalan-kenalan gitu, Kak.”

“Ya udah sih dicoba. Ya, Him, ya?”

Sesampainya di DT, saya membuka handphone dan muncullah invitation di BBM dari Anggi Satriadi. Saat itulah saya baru tahu nama kakak yang dari tadi diceritakan adiknya. Ya sudah bismillah saya konfirmasi. Ceritanya saya masih lupa kalau itu tanggal 4 Oktober 2014.

Esok harinya, Kak Anggi yang sekarang saya panggil Mas Anggi menyampaikan niatnya untuk ta’aruf. Saya kaget luar biasa, Kawan. Saat itulah saya buka buku JIPN dan kalender. Dan baru ngeh bahwa pertama kali kami kenal adalah tanggal 4-10-14. Saya menarik nafas dalam-dalam. Apa Allah punya maksud di sini? Oke baiklah, harus tetap berpikir jernih, Himsa.

Malam itu, saya sampaikan ke Abah bahwa ada lelaki yang berniat ta’aruf. Saya ceritakan latar belakang Mas Anggi berdasarkan cerita Kak Reni. Tahu anaknya akan diambil orang, Abah jadi reserse dadakan. Entah gimana ceritanya, esok harinya Abah sudah mendapat banyak data tentang seseorang bernama Anggi Satriadi itu, termasuk keluarganya. Dan lebih amazing lagi, esoknya Abah telepon dan dengan tenang berkata, “Vi, Abah sudah lampu hijau, selanjutnya terserah kamu. Keputusan ada di kamu. Jalani prosesnya dengan baik. Abah percaya kamu udah tahu bagaimana harus menjaga diri dengan baik dalam proses ini.”

Abah langsung bilang ‘iya’? Saya agak tidak percaya. Biasanya, Abah sangat ketat menyeleksi siapa saja yang berniat mendekati anaknya. Dan ini, dengan mudah bilang iya? Baiklah, apa rencana-Mu, Rabb?

Saya pun mulai berpikir. Saya ingat penulis favorit saya, Tereliye, pernah bilang, ‘lihatlah laki-laki dari caranya memperlakukan ibunya, karena begitulah ia akan memperlakukanmu’. Bismillah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengenal lelaki ini. Toh, dari cerita adiknya, dia lelaki yang baik.  Sayang banget lagi sama ibunya. Ajakan ta’aruf itu pun saya iyakan. Kami dibantu adiknya dalam proses ini.

Tiga hari kemudian, kami bertukar proposal yang berisi biodata hingga visi misi pernikahan. Belum pernah saya baca proposal dengan takjub seperti saat itu. Kaget saja. Deskripsinya mirip seperti yang saya inginkan. Bahkan ternyata dia juga lahir di bulan September, as my wish. 😀 Hanya saja, dia tipe penyabar, sedangkan saya dulu bermimpi punya suami yang keras kepala. Haha, aneh ya?

Dalam proses itu, kami diskusi ini itu tentang masa depan. Diskusinya cuma via BBM. Note ya, kita belum pernah ketemu sebelumnya. Sepanjang proses itu, saya selalu istikhoroh meminta petunjuk. Entahlah, yang saya rasakan semakin hari, semakin yakin. Seminggu setelah bertukar proposal, dia menyampaikan bahwa dia sudah yakin dan ingin melanjutkan proses yang lebih serius. Saya ingat, saat itu saya menjawab, “kalau sudah yakin ya bilangnya ke Abah.” Dan dia dengan tegas bilang, “iya, nanti Himsa main dulu ke Lampung ketemu Ibu, abis itu kita sekeluarga ke rumah Himsa.” Deg! Lemes sekaligus bahagia nyampur tidak jelas rasanya. Beneran ini Ya Allah? Saya buka Al-Qur’an berkali-kali dan selalu bertemu dengan ayat tentang ikuti takdir Allah, patuhi perintah Allah, tawakkal, dan sejenisnya. Maka, bismillah Ya Allah, semoga ini pilihan yang terbaik.

Sebelum cerita proses selanjutnya, izinkan saya flashback sebentar ya tentang bagaimana perjodohan ini bisa terjadi. Hmm, jadi sebenernya, dalang utama perjodohan ini adalah ibu mertua saya, alias ibunya Mas Anggi. Hehe. Kami pernah bertemu saat Kak Reni wisuda pada November 2013. Jadi begini Pemirsa, Agustus 2013, saya pindah kosan dan akhirnya satu kosan sama Kak Reni. Kami berteman biasa. Cukup dekat tapi nggak dekat banget. Maklum, saya jarang di kosan, keseringan di kampus dan nginep di temen, hehe. Tapi, pas Kak Reni wisuda, saya sempat salaman dengan orang tuanya.

“Himsa asli mana?”

“Dari Pati, Bu.”

“Ibu asli Kudus lho, deket dari Pati.”

“Wah iya, Bu? Deket dong ya?”

Bla bla sedikit, setelah itu saya berangkat ke kampus. Nggak ada yang istimewa kan? Katanya, saat itu ada Mas Anggi juga, tapi saya nggak ketemu. Ya sudah begitu saja ceritanya, nggak ada lanjutannya. Apalagi setelahnya saya pindah ke Jakarta dan jarang komunikasi juga sama Kak Reni. Hanya sesekali BBM tanya kabar dan dia cerita sudah pindah kosan. Saya sendiri masih sibuk cleansing nyembuhin patah hati, nulis, kerja, dan urusan-urusan lainnya.

Tanpa saya rencanakan, bulan Juli saya resign dari Jakarta karena sakit, pulang ke rumah, dan awal September memutuskan untuk kembali ke Bandung karena suntuk di rumah. Entahlah, saat itu saya bahkan nggak tahu ke Bandung mau ngapain. Satu-satunya agenda saya saat itu adalah memenuhi undangan dari Kemuslimahan Al Fath untuk mengisi Training Kepenulisan. Ya sudah, undangan itu saya jadikan alasan untuk kembali ke Bandung. Saya punya tekad harus menyelesaikan buku saya di Bandung. Nekat banget saat itu. Nggak punya kosan, uang saku pas-pasan, nggak jelas juga mau ngapain di Bandung. Alhamdulillah sampai Bandung banyak dibantuin Lisa (kawan kosan lama), dan sempat beberapa hari nebeng di kosannya. Hingga entah kenapa, saya tergerak untuk menelepon Kak Reni. Saya inget dia pernah BBM udah pindah kosan di daerah Suci. Eh ternyata alhamdulillah ada kamar kosong. Saya pun ngekos di Suci. Di sana, tiap malam saya nulis sampai jam 3 subuh dengan sebuah tekad buku saya harus terbit tahun 2014. Gila pokoknya. Hihi.

Usut punya usut, ternyata Kak Reni cerita ke ibunya kalau dia punya temen kosan baru dari Pati yang bernama Himsa. Dan Ibu ternyata masih ingat padaku. Setelah nanya ini itu ke Kak Reni tentang seperti apa sih Himsa itu, Ibu pun meminta Kak Reni memperkenalkanku pada Kakak. Yang bagian ini saya baru tahu dari cerita bumer kemarin. Hehehe. Nggak nyangka semudah itu. Sejak itu, Kak Reni mulai rajin cerita soal kakaknya. Dan saya nggak ngeh kalau saat itu saya mau dijodohkan :p

Begitulah, saya pun akhirnya kembali bertemu ibu di Bandar Lampung, tak lama setelah Mas Anggi menyampaikan niat seriusnya. Tak hanya Ibu, saya juga bertemu dengan keluarga Mas Anggi yang lain, termasuk tetangga-tetangganya. Eh, saya malah belum ketemu si doinya lho. Mas Anggi saat itu masih di Medan karena memang dinasnya di sana. Aneh ya? Saya sudah kenal dan akrab sama keluarganya padahal tatap muka dengan suami (saat itu masih calon) saya saja belum pernah. Hehehe.

Tiga hari di Bandar Lampung, saya akhirnya pulang diantar sama keluarganya Mas Anggi. Sesuai janjinya, Mas Anggi dan keluarganya akan ke rumah menemui keluarga saya di Pati. Perjalanan panjang pun dimulai. Dari Lampung, destinasi pertama kita adalah Bandung. Kami kembali mengantar Kak Reni dan menjemput Mas Anggi yang terbang dari Medan langsung ke Bandung. Di Bandung itulah, kami pertama bertemu dan langsung dilanjutkan dengan perjalanan menuju rumah saya di Pati. Kaget? Iya. Rasanya? Campur aduk. Kayak mimpi.

Khitbah, dikenakan cincin oleh Bumer sebagai tanda ikatan, 291014

Khitbah, dikenakan cincin oleh Bumer sebagai tanda ikatan, 291014

Sesampainya di Pati, ternyata saya langsung dikhitbah dan diberi cincin sebagai tanda ikatan. Kedua keluarga pun langsung membicarakan tanggal dan tempat pernikahan. Hari itu juga, 29 Oktober 2014, diputuskan bahwa pernikahan Anggi Satriadi dan Novi Ahimsa Rosikha akan dilaksanakan di rumah mempelai wanita pada tanggal 7 Februari 2015. Saya ingin pingsan rasanya. Dari dulu suka dan ngekhayal pas dengerin ‘Marry Your Daughter’ Bryan McKnight dan ini beneran dibuat nyata sama Allah. Fabiayyi a la i rabbikuma tukadziban. Kicep.

Keluarganya Mas Anggi pun kembali ke Kudus dulu sebelum ke Bandar Lampung, sementara saya stay di rumah beberapa hari. Hari-hari berikutnya, kami mulai disibukkan dengan berbagai persiapan.

Eits, jangan bahagia dulu. Ijab kabul belum terjadi. Ternyata syaitan belum menyerah, Pemirsa. Katanya, pernikahan adalah peristiwa yang dibenci syaitan. Peristiwa ini menghalalkan yang haram, menjadikan pahala apa yang dulunya dosa, dan tentu saja menyempurnakan ibadah. Karena itu cobaannya banyaaaaak banget. Ada yang cobaannya berupa tidak sadar diri bahwa kedua calon mempelai belum halal dan menjadi terlalu dekat. Ada juga yang justru sebaliknya, merasa pasangannya tidak cocok atau munculnya orang lain yang seakan-akan lebih baik.

Saya sendiri diuji dengan yang kedua. Mulai dari adanya seseorang yang dulu pernah kita harapkan menjadi jodoh kita, hingga perasaan sensitif yang menimbulkan rasa takut yang luar biasa. Takut nggak cocok lah, takut nggak bisa dimengerti lah, takut nggak bisa saling sayang lah karena baru kenal, dan sebagainya. Belum lagi ditambah dengan riwehnya mempersiapkan walimah. Alhamdulillah, saya punya suami (saat itu masih calon) yang sabarnya luar biasa dalam membimbing saya. Sangat dewasa dan bijak menghadapi kelabilan saya. Kesabarannya itulah yang akhirnya membuat saya yakin bahwa lelaki inilah yang terbaik yang telah diberikan Allah untuk saya—sebagaimana doa saya di buku JIPN. Abah saya saat itu menasihati seperti ini.

“Vi, sakinah, mawaddah, warahmah itu tidak akan kamu dapatkan sebelum pernikahan. Rasa tenteram, tenang, sayang, itu akan kamu dapatkan setelah ijab kabul. Allah yang mempertemukan kalian. Allah juga yang akan bertanggung jawab menurunkan rahman dan Rahim-Nya setelah kalian resmi menikah nanti. Bukan sekarang, Vi. Justru, kalau kalian sudah saling sayang padahal belum menikah, Abah malah nggak ridlo. Jadi, tenang. Niatkan karena Allah. Allah yang bertanggung jawab. Buktikan saja nanti, Vi.”

Saya pegang benar-benar kalimat itu. Saya istighfar berkali-kali. Saat itu, komunikasi saya dan suami memang jarang dan lebih sering pada hal-hal penting saja, jadi wajar jika banyak salah paham. Belum lagi kesibukan mempersiapkan hari H meningkatkan sensitivitas saya. Saya menilai dia a,b,c,d yang akhirnya membuat saya takut sendiri. Saya juga takut apakah dia bisa menerima saya yang masih begitu. Sekali lagi, alhamdulillah suami saya sabarnya luar biasa. Dan itu pula yang membuat saya luluh. Kriteria yang tidak saya tulis di proposal—sabar—ternyata yang membuat keyakinan saya menguat. Sebuah bonus besar dari Allah.

Alhamdulillah, cobaan itu terlewati dan pernikahan itu pun terlaksana dengan khidmat dan lancar. Peristiwa besar itu terjadi. Seorang lelaki telah berjanji akan bertanggung jawab dalam kehidupan saya, menggantikan peran Abah. Ar-Rasy bergetar, begitupun jiwa saya. Entah dari mana datangnya, perasaan asing itu menyapa begitu saja usai ijab kabul. Perasaan debar yang entah apa namanya. Ada rasa yang tidak bisa saya definisikan ketika pertama kali kulit kami bersentuhan usai ijab kabul. Saat saya mencium tangannya. Ketenteraman yang dijanjikan Allah itu nyata adanya. Sungguh, bukan cinta yang memilihnya, Allah lah yang memilihkannya untuk kucintai.

Hari ini, saat menulis tulisan ini, saya sudah berada di Medan, hidup berdua dengan seseorang yang baru saya kenal, jauh dari keluarga dan teman dekat. Di sinilah, semua dimulai. Saatnya mewujudkan apa yang sudah kami visikan bersama di proposal kami. Hari ini, saya bersyukur berkali-kali. Betapa jika kita sudah mengikhlaskan semua kisah kepada Sang Penulisnya, Dia pulalah yang memberikan semua yang terbaik. Ketakutan-ketakutan yang dulu sempat menghantui menjelang pernikahan ternyata tidak terjadi. Entahlah, saya tidak tahu bagaimana jadinya, hidup berdua saja seperti ini jika suami saya bukan Mas Anggi, suami super sabar yang baiknya pakai banget. Yang kadang tak perlu banyak berbicara, tetapi selalu bertindak. Yang lembut perangainya, tapi tegas sikapnya. Yang tak harus keras seperti yang dulu kuinginkan, tapi kuat komitmennya. Yang ternyata sama anehnya sama saya, yang entah banyak sekali baiknya. Semoga setiap membaca cerita ini, kita senantiasa kembali bersyukur, dipertemukan Allah dengan cara seindah ini.

Alhamdulillah, mohon doa semuanya yang baca tulisan ini ya. Semoga rumah tangga kami senantiasa dilimpahi rahman dan rahim-Nya. Semoga kisah ini bisa menjadi sarana untuk mengingat kebesaran Allah. Semoga kisah ini bisa menambah keyakinan dan keimanan kita. Bahwa hanya dengan berharap pada-Nya lah, hati akan menjadi tenang. Dan semogaaaa, yang patah hati segera move up, yang belum ketemu jodoh dipertemukan jodohnya di waktu yang tepat. Terus berdoa! Ini semua pun adalah jawaban dari doa-doa. Kisah ini juga inspirasi utama saya untuk memasukkan ending cerita ‘Frekuensi’ di buku ‘Ephemera’ 🙂

PROVEN!

PROVEN!

Beberapa huruf untuk suami

Dear, Mas

Seperti gigi kita yang selalu muncul saat difoto, seperti itulah kebahagiaan saat kita dipersatukan.

Seperti aku yang suka makan semangka campur sayur bayam, atau kamu yang suka makan pisang dicampur nasi, seperti itulah keanehan kita dipadukan. Aku bahagia selalu menjadi diri sendiri saat bersamamu.

Seperti rona bahagiamu setiap mencoba hasil eksperimen masakanku yang enak, atau caramu tetap riang menghabiskan masakanku yang kadang keasinan, seperti itulah kita akan saling menerima.

 

Dear, Mas..

Seperti janji-Nya yang menciptakan sepasang manusia untuk saling merasa tenteram, aku hanya ingin bilang, aku sungguh tenteram bersamamu.

Ridloi aku. Karena ridlomu adalah ridlo-Nya yang insya Allah mampu mengantarku ke surga-Nya.

 

Di rumah, sendirian.

Medan,

Last edited 6 Maret 2015

14.36 WLH

NB: Lely beneran beliin boneka buat adek saya, dan beneran dibawa ke Pati ketika saya menikah. 😀

 

Advertisements

14 thoughts on “41014: Story About My Marriage

  1. hebat!
    Salah satu motivasi untuk mewujudkan mimpi memang kita harus share. Kata teman saya, kalau pengen punya mobil, pajang gambar mobil di kamar dan tulisbesar-besar di sana: Aku akn punya ini pada tanggal 10 agustus 2015. Hal itu akan memicu syaraf RAS, ibaratnya RAS adalah nuklir yang akan mengejar target dengan sendirinya.
    Sisanya biar keajaiban yang bekerja.
    Proven!

    Good luck ya!

  2. ahmadsaktia says:

    Wahaaa! Inspiratif, sepertinya saya kudu buat mimpi juga, “target”. hehe. But, before that barakallahu laka wa baarakallaahu ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair kak himsa. Telat ngucapinnya. Sama halnya saya telat belum beli Ephemera, terlalu banyak list yang pengin dibeli. Dan semoga masih ada stoknya.

  3. Dian Yuliana Khoiriah says:

    Sangat menginspirasi mb novi, smoga allah bisa mempertemukan jodoh saya sperti kisahmu….hehe
    langgeng slalu ya…..amiinnn

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s