Remidi Cinta

image

Apa bedanya move on dan move up? Mungkin semacam tumbuh ke samping dan tumbuh ke atas. Eh, bukan iklan susu ya? Hehe. Tapi penjelasannya mirip. Setidaknya, dari ilmu yang  kudapat di seminar dan berbagai buku, kurang lebih kesimpulan versiku begini. Move on itu berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Sedangkan move up, berpindah dari satu hati ke Pemilik hati. Bedanya adalah, ketika kita memilih move on, artinya kita tetap bergantung lagi pada hati manusia, yang boleh jadi tetap membuat kita kecewa lagi. Tapi, ketika kita move up, kita mengisi hati dengan Dia dan niat karena Dia. Kalaupun akhirnya bertemu dia, hati tetap berpengharapan pada Dia. Dan meyakini, bahwa pertemuan dengan dia adalah jalan untuk semakin mendekat dengan Dia. Bukan sebaliknya, mendekati Dia supaya bisa segera menemukan dia. Seakan memantaskan diri, padahal untuk dia, lupa dengan Dia. Cek cek cek niat. Jika masih salah niat, jangan kaget kalau hasilnya kembali pada kekecewaan.

Nah,aku jadi ingat cerita sahabatku. Ini ada cerita dari seorang gadis nan heboh dan cerewet yang jatuh cinta. Jadi begini ceritanya.

Si gadis yang sebut saja namanya Bia, merupakan seorang gadis yang susah banget jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh, ya begitulah, ia akan menggenggamnya baik-baik. Ia nggak pernah pacaran, tapi pernah menunggu janji seorang lelaki yang katanya akan menemuinya lagi empat tahun kemudian. Empat tahun berlalu, eh yang ditunggu sudah sama yang lain. Si gadis yang udah kadung menjaga hati lantas patah hati. Sebenarnya kalau dianalisis niat di sini, udah salah ya niatnya? Masa menjaga hati buat dia, harusnya kan buat Dia. Nah  jadilah patah hati membuat si gadis tidak doyan makan. Tapi kabar baiknya, dari patah hati itu dia sadar selama ini niatnya salah. Jadilah dia ingin move on, namun setelah baca berbagai materi tentang move up, ia yakin memilih move up. Eh tapi, bukan hati namanya kalau tidak terus diuji keteguhannya.

“Ya gimana ya, dia menemukan lagi seseorang yang bisa menyembuhkan patah hatinya. Ya, gampangnya seseorang yang bisa dinyanyiin Lebih Indah-nya Adera,” begitulah cerita sahabat saya saat itu.

“Terus mereka ngapain? Tunggu-tungguan lagi?”

“Ya, nggak lah, komunikasi aja hampir nggak pernah. Dia cuma kagum diam-diam sama si cowok, semacam cidaha gitu deh.”

“Oh, terus si cowoknya tahu?”

“Ye, namanya juga cidaha, ya nggak tahu lah.”

“Ya, bagus dong, disimpan aja. Kalau ketemu juga ketemu, daripada dilanjut, patah hati lagi ntar”, aku yang master patah hati (pengalaman cuy) sok-sokan menasihati.

Aku pikir cerita sahabatku itu sudah selesai, ternyata oh ternyata, iman naik tingkat, godaan naik derajat. Ketika si gadis sudah mulai menata hati dan pengharapan untuk Allah, rasa cinta pada manusia yang katanya ia cintai diam-diam itu, menjadi ujian tersendiri. Ya, levelnya naik, lebih susah.

“Ya itu masalahnya, kalau ketemu itu, dia nggak bisa ngontrol dirinya. Wajahnya pasti merah. Nggak bisa ngomong. Bingung.”

Tentang hal itu, temanku yang satu menimpali, “itu wajar, manusia memiliki banyak hormon. Ada saat hormon itu tidak bisa dikendalikan. Pipi memerah misalnya, atau tingkah konyol lainnya. Apalagi kalau penyebabnya datang secara tiba-tiba.”

Temanku terdiam sebentar, lalu melanjutkan, “tapi kurasa, dia bukannya ujian naik level deh. Tapi remidi.”

Aku melongo, bingung. Apanya yang remidi?

“Ya, remidi. Dia jatuh cinta sebelumnya empat tahun lalu kan? Sama si eta yang bikin patah hati bukan?”

Temanku yang bercerita tadi mengangguk.

“Nah, kalau sekarang ia gagap lagi saat jatuh cinta. Itu artinya ia remidi. Buat apa ia bisa mengendalikan hati saat patah hati, tapi ketika datang seseorang yang bisa buat dia jatuh cinta, dia masih tidak bisa mengontrol dirinya. Ya, tapi konsekuensi jatuh ya seperti itu, kadang membuat kita gemetar, sulit berdiri.”

“Jadi, kalau si eta yang dicinta nggak mengajak bangun dan berdiri—ya semacam membangun jalan cinta yang halal—berarti selamanya dia tetap akan jadi ujian ya?”

“Tepat!”

“Yah, udah terlambat dong. Si gadis tadi kan udah kelewat salah tingkah. Dia pasti kesel ya,” kataku sok menebak.

“Nggak sih, ya layaknya dia remidi, dia dapat kesempatan untuk memperbaiki diri lagi. Kabar baiknya, selama kita masih hidup, Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk remidi.”

“Tapi alangkah lebih baik, jika kita lulus ujian itu ya?”

“Yap. Tapi itu butuh dilatih. Kalau kita tidak mengalami kondisi itu, kita nggak pernah tahu kita udah lulus ujian itu atau belum”.

“Tapi kalau masalah cinta, teori seringkali mudah, hmmm, praktiknya almost zero.”

“Nggak apalah, sekarang zero, besok satu, dua, dan seterusnya, pasti meningkat terus. Asalkan ia terus mencari nasihat. Asal ia nggak tenggelam dalam ujian itu saja. Ya, gampangnya, ia boleh kehilangan kontrol di situasi yang amat mendadak, tapi di alam sadarnya, ia harus bisa kembali menata hati, move up!”

“Eh tapi bener juga ya? Kalau nggak ketemu si eta, dia mungkin nggak pernah tahu dia belum lulus ujian. Karena selama ini lempeng sih mereka nggak pernah ketemu dan komunikasi juga.”

“Nah betul, karena hati ini belum merdeka selama masih ada dalam jajahan harta, tahta, dan si eta.”

Aku kemudian teringat nasihat temanku yang lainnya lagi. Katanya, kita diuji dengan apa yang kita cintai. Itu ada hubungannya dengan cerita si gadis tadi ya? Terlihat indah, padahal itu ujian. Ujian banget. Dan, ya, benar, akhirnya aku sampai pada kesimpulan lagi. Ketika kita diuji dengan masalah yang terus sama, artinya kita belum lulus ujian itu. Dan kita punya pilihan: memperbaiki diri agar lulus ujian itu atau terus menikmati ujian dengan kemampuan yang sama?

Well now, itu pilihan. Butuh p.r.o.s.e.s. Saya sendiri punya tips untuk mereka yang jatuh cinta atau galau mendadak: Baca doa saja sambil istighfar, terus tidur. Yakin deh, pas bangun, ya ternyata tidak ada apa-apa yang terjadi. Everything’s okay. Bahkan, kita akan menertawakan segala kegalauan kita sebelumnya.

Let’s move up!

New room,

Bandung,

14 September 2014

08.43

Inspired by Seminar Great Muslimah Show tentang Kemerdekaan Hati dan percakapan whatsapp dengan teman seperjalanan menulis. Selebihnya, hanya berusaha mencari hikmah yang terserak.

Advertisements

7 thoughts on “Remidi Cinta

  1. umil says:

    kalau jatuh cintanya tiap menit, berarti tidur mulu dong mba..hehehe..eh,iya. mba juga pernah denger dari salah satu ustad kondang. beliau bilang “gimana cara agar kamu tau, kamu tuh udah naik derajat di hadapan-Nya apa belum?”. “lihat aja ujianmu. masih sama enggak. kalau masih sama2 aja berarti…..(sama mawon)”.

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s