Saya, Jatuh Cinta (Barangkali Ini Cerpen)

7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit).

Tapi jatuh cinta terkadang membuat kita pilih-pilih pepatah. Yang tepat dijadikan quote, yang tidak dibuang entah ke mana. Jatuh cinta tak peduli bahwa seseorang itu tak mungkin memiliki perasaan yang sama. Tak peduli. Jatuh cinta seperti punya alasan untuk selalu membela diri, bahwa probabilitas akan selalu ada untuk orang yang jatuh cinta. Begitulah. Ia seperti bunga yang terus mekar ketika gerimis membasahi akar-akarnya. Sapaan “ciye” dari teman-teman, pertemuan yang tidak sengaja, bahkan sekadar tanda ‘like’ di facebook atau ‘RT’ di twitter bisa menjadi pupuk mujarab yang menumbuhkan perasaan itu. Ya, jatuh cinta nyatanya mampu meningkatkan daya imajinasi kita. Berimajinasi bahwa dia juga jatuh cinta pada kita. Sehingga, apapun yang dia lakukan, yang sebenarnya amat biasa saja bisa jadi tidak biasa di mata orang yang sedang jatuh cinta. Saya sendiri sebenarnya lebih banyak berimajinasi bahwa dia sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama pada saya.

Ah, kenyataannya, hal-hal kecil yang sebenarnya wajar pun menjadi tidak wajar bagi saya. Di tengah berbagai kesibukan mengejar berbagai deadline, mempunyai perasaan jatuh cinta diam-diam itu terkadang menenteramkan. Hingga ketika kesibukan itu telah usai, saya baru menyadari bahwa namanya memenuhi nurani. Tak peduli dia sama sekali tak tampak di hadapanku. Hanya dia.

Sepi demi sepi. Keikhlasan pun mulai kembali dipertanyakan. Untuk dia atau untuk Allah?

Dan teman terbaik adalah mereka yang membawamu pada jalan yang baik, meskipun itu menyakitkan untukmu. Begitulah. Walaupun banyak “ciye” menemani, saya bersyukur masih punya teman yang marah karena sayang. Ia mengingatkan dengan caranya. Dengan wajah cerianya. Dengan candanya.

Well, bisa jadi perasaanmu justru menjadi penghalang untukmu bertemu dengan jodoh sejatimu,” katanya singkat. Saya diam.

“Bersihkanlah hatimu. Nanti, kalau Tuhan mempertemukanmu dengan jodoh sejatimu, kau bisa melihat semuanya dengan lebih jernih.”

“Aku tidak melarangmu jatuh cinta. Tapi jika jatuh cinta membuatmu terbang, berharap penuh angan, padahal semuanya sebenarnya biasa saja, lebih baik engkau kelola perasaanmu lagi. Tanyakan lagi, apa benar itu jatuh cinta, kagum yang berlebihan, atau apa? Sementara dia yang katanya kaujatuhi cinta sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu. Kembalilah. Jangan terbang terlalu tinggi.”

Sudah, sejak dua puluh empat hari yang lalu saya memutuskan untuk diam. Berhenti menulis. Karena begitulah caraku menjauh darinya. Bukankah dari huruf aku merasa jatuh cinta? Maka karena huruf pula aku bisa merenungkannya. Kamu pasti tak percaya, tapi perasaan berbunga-bunga tak karuan itu akhirnya lenyap. Hatipun kembali kosong dari imajinasi-imajinasi itu. Semudah itu. Hanya karena aku mau untuk membersihkan hati dari ingatan-ingatan tentangnya, sebelum terlalu jauh menyusup relung hati. Ya, karena aku mau. Jatuh cinta, sebenarnya amat bisa kaukelola. Membiarkannya ada, atau menjadikannya pelajaran. Biarkanlah ada bahkan terus ada jika komitmen sucimu pada Maha Cinta telah kau ucap bersamanya.

Lalu, bagaimana dengan hati yang kosong? Isilah dengan cinta-Nya. Karena mencintai adalah kata kerja, jika kau tak bisa melakukan apa-apa untuk cintamu, maka diam dan bersabarlah. Tuhan mungkin masih memintamu menyiapkan diri sebelum kau bekerja untuk cinta.

Jatuh cinta. Sejatinya adalah perasaan yang amat wajar—manusiawi. Tetapi mengelolanya adalah pilihan. Saya, hari ini, entah tidak tahu jatuh cinta pada siapa. Tidak ada. Semoga Tuhan menjatuhkan cinta hanya kepada pemilik tulang rusuk yang digunakan untuk menciptakanku.

Rumah

2 April 2014

00.09 WLH

Randomisasi tingkat tinggi. Cerita di atas bisa jadi hanya fiktif belaka.

Cukup ambil hikmahnya.

Tapi memang benar, ujian terindah adalah ketika karya kita disukai oleh orang yang diam-diam amat kita kagumi. Maka banyakin istighfar.. Atau kalau kata teman saya banyakin hafalannya.. Agar tidak melayang-layang. Karena perasaan bahagia atas cinta diam-diam yang seakan tersambut itu wajar, tapi jiwa kita sejatinya amat bisa kita kendalikan, biar tidak melayang-layang, nanti jatuh, sakit. Kan masih ‘seakan’, belum pasti. Jangan GEER, nggak usah ngerasa di-PHP-in. Bisa jadi kita yang mem-PHP diri sendiri. Sandarkan pada Allah. :’)

Advertisements

23 thoughts on “Saya, Jatuh Cinta (Barangkali Ini Cerpen)

  1. ceritalangit25 says:

    Cerita di atas bisa jadi hanya fiktif belaka. “bisa jadi” hihi
    makasih teh, tulisannya mengingatkan :3

  2. seorang bijak berkata, “kau akan mati pada hal yang kau cintai.” padamu, sudah pernah kukatakan, pada kata-kata.
    duhai ahimsa, tak perlu membuat benteng pertahanan dengan menulis “barangkali cerpen” atau “bisa jadi fiksi”. yang kau cintai itu tak hanya membaca hurufmu, dia membaca hatimu.

  3. Nice post Himsaaa..
    Ingat quote teh pepew 😉
    “Kehadiranmu menguji ketaatanku, kehadiranku menguji keimananmu. Aku ujian bagimu, dan kamu ujian bagiku.” – Febrianti Almeera

  4. Nice post Himsaaa..
    Ingat quote teh pepew 😉
    “Kehadiranmu menguji ketaatanku, kehadiranku menguji keimananmu. Aku ujian bagimu, dan kamu ujian bagiku.” – Febrianti Almeera

    Izin reblog yaa.. 🙂

  5. Reblogged this on Fika Almira Firdaus and commented:
    Bismillah, bersihkan hati dari ingatan-ingatan tentangnya, sebelum terlalu jauh menyusup relung hati. Ya, karena aku mau. Jatuh cinta, sebenarnya amat bisa kaukelola. Membiarkannya ada, atau menjadikannya pelajaran. Biarkanlah ada bahkan terus ada jika komitmen sucimu pada Maha Cinta telah kau ucap bersamanya.

    Sesungguhnya, jatuh cinta itu fitrah manusia. Cinta tidak buta, terkadang hanya melumpuhkan logika. Dari sanalah kita mendapatkan banyak pembelajaran, yang mendewasakan. Memantapkan ayunan langkah menyambut tantangan kehidupan yang lebih besar.
    “Kehadiranmu menguji ketaatanku, kehadiranku menguji keimananmu. Aku ujian bagimu, dan kamu ujian bagiku.” – Febrianti Almeera

  6. Tanyakan lagi, apa benar itu jatuh cinta, kagum yang berlebihan, atau apa? Sementara dia yang katanya kaujatuhi cinta sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu. Kembalilah. Jangan terbang terlalu tinggi
    *ngenaa bangeeets… :’)

  7. Nida says:

    Aku mengalami hal yang sama..entahlah dikatakan apa tapi kalimat ini aku bangetttttt…hehe
    Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit).

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s