I Have a ‘Self Confidence Crisis’

IMAG0230

Kemarin, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sejak kenal dia ketika SMA, saya tahu sekali dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Cantik, jago olahraga, berprestasi, populer dan tentu saja cerdas. Ah, rasanya lengkap sekali. Tapi, ternyata saya tidak setahu yang saya kira. Dalam pertemuan kemarin—pertemuan pertama setelah hampir empat tahun masa SMA berakhir—dia bercerita banyak hal. Ada satu kalimat dia yang mengusik hati saya, “I have a self confidence crisis.” katanya jujur. Saya hampir tidak percaya.

Tidak perlu saya beberkan bentuk krisis kepercayaan diri seperti apa yang dialami oleh sahabat saya. Yang jelas, saat itu saya berpikir. Bagaimana pun seseorang terlihat sempurna di mata orang lain, seseorang itu tetaplah manusia. Selalu punya alasan untuk merasa kehilangan rasa percaya diri.

Saya kemudian mengingat cerita teman saya yang lainnya. Sama. Saya pun melihatnya sebagai sosok yang sempurna. Seorang gadis cantik, cerdas, berprestasi dan nomor satu di jurusannya. Tapi ia pun teryata sama—pernah memiliki rasa tidak percaya diri. Dan, kalau boleh jujur, tidak usah jauh-jauh, saya pun demikian. Banyak yang mengatakan bahwa seorang Himsa tidak perlu motivasi untuk punya rasa percaya diri. Bahkan banyak pula yang bertanya tips supaya bisa percaya diri. Tidak semanis yang terlihat kok.

Hmm, mungkin karena sesosok Himsa yang terlihat selama ini adalah sosok yang aktif, cerewet, dan terkesan santai di depan umum, sesosok Himsa yang adalah diri saya, tampak begitu percaya diri. Padahal, saya juga sama seperti teman-teman. Sama saja. Saya juga bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan, dalam titik tertentu ketika saya down, saya benar-benar tidak bisa mempercayai kemampuan saya—walaupun orang lain mengakuinya. Serius. Sampai suatu ketika, saya menemukan jawabannya. Semoga bisa jadi jawaban untuk siapapun yang pernah bertanya.

Ketika itu, saya akan menjalani sidang (seminar) proposal skripsi. Saya masih ingat sekali, H-3 sebelum sidang proposal dilaksanakan, saya down. Saya merasa skripsi saya tidak layak. Saya merasa dosen penguji yang memang terkenal killer, akan membantai saya dengan mudah. Terlebih saya belum pernah bertemu beliau di kelas. Saya merasa tidak mampu. Pokoknya, saya sudah berprasangka negatif terlebih dahulu terhadap apapun yang berhubungan dengan proposal skripsi. Namun, ketika saya cerita kepada teman-teman, mereka dengan santai menjawab, “ah, kalau Himsa mah bisa” dengan yakin. Mereka bahkan tidak percaya bahwa saya bisa kehilangan rasa percaya diri. Saya perlu motivasi. Di setiap Ibu saya telepon, saya selalu bilang, “saya nggak bisa, Bu.”

Sampai kemudian, H-1 sebelum sidang proposal, saya membaca tweet Teh Pewski tentang percaya diri. Jleb, saya menemukan jawabannya. Ternyata saya merasa tidak bisa karena saya menumpukan harapan pada kemampuan diri saya, bukan sama Allah. Ya, tenyata percaya diri saja tidak cukup, Kawan. Selama kita menggantungkan apapun pada manusia (termasuk diri kita sendiri), ya rasanya tidak mampu. Namun, kalau kita percaya DIA, maka tak ada yang tak mungkin. Bukankah Dia yang memampukan kita? Yang menjadikan apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Yang memegang kendali setiap hati manusia.

Tentang ketidakpercayadirian saya itu, Ayah saya menasihati dengan bijak. “Kamu takut sama penguji kamu? Ya titip sama Allah. Hati penguji kamu yang menggerakkan Allah. Sebagus apapun presentasi kamu, kalau Allah nggak mengizinkan kamu lulus, ya nggak. Titip sama Allah, usahakan yang terbaik. Nanti, kalau dari awal sudah kamu sandarkan sama Allah, mau hasilnya baik atau nggak, hati kamu ridlo. Karena yang kamu harapkan bukan hasil baik versi kamu, tapi ridlo Allah”.

Saya merenung setelahnya. Bismilllah, saya berdoa kepada Allah untuk semua kelancaran proses sidang. Saya pasrahkan semua hasilnya sama Allah. Semalaman saya istighfar. Paginya, saya pun memasuki ruang sidang dengan tenang, walaupun masih ada sisa gemetar dan deg-degan. Dan hasilnyaaa… Saya memohon ampun atas prasangka buruk saya pada Allah. Seminar proposal skripsi saya nyatanya berjalan sangat lancar. Dosen penguji yang saya takuti ternyata sangat ramah. Bahkan hasilnya pun melebihi ekspektasi saya.

Do you get the point? Mau ini urusan skripsi, kerja, bahkan menikah sekalipun, kuncinya adalah mendekat pada-Nya. Selama kita bisa ridlo kepada apapun ketentuan-Nya, kita siap menjalani semuanya dengan bahagia. Dan perjalanan untuk bisa ridlo itu tidak mudah. Saya pun masih terus berproses. Dan siaplah untuk terus diuji jika kita menginginkannya.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29 Al-Ankabut: 2)

Tentang percaya diri yang hilang, belum tumbuh, minder, merasa fisik tidak menunjang, merasa kemampuan sangat minimal, merasa apapun yang kurang, coba ingat deh surat At-Tin. Bukankah yang menciptakan kita saja mengatakan bahwa kita diciptakan dengan sebaik-baik bentuk? Lalu, mengapa kita merasa kurang? Jangan-jangan, terbaik yang inginkan itu terbaik versi kita bukan versi Allah? Kawan, kita percaya kebenaran kalam-Nya adalah kebenaran yang mutlak. Artinya, kita ini ya memang diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Kalau terlihat kurang, mungkin saja kita yang belum menjadikan diri kita sebagai umat terbaik. Bismillah, sama-sama belajar yaaa 🙂

Kereta

13.29

Ga tau di mana. Perjalanan Jkt-Smg

Tulisan ini ditulis untuk saya sendiri (sebagai pengingat) dan special untuk teman-teman yang akan seminar maupun sidang, jangan mengulangi kesalahan saya dalam berprasangka buruk sama Allah. Do your best and let Allah do the rest! Skripsi itu adalah masterpiece yang kamu kerjakan sendiri, tak perlu khawatir, tugas kamu sekarang adalah mempresentasikan apa yang kamu kerjakan. Caiyoo ikomers!

 

Latepost.

Advertisements

7 thoughts on “I Have a ‘Self Confidence Crisis’

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s