Inspirative Housewife Story

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, that’s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife. Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah daftar mimpi besar saya nomor 1-4. Rasanya terbahas semua sore itu. (No offense nomor 2, gue juga kagak tahu kalau urusan itu :p ) Baiklah, mukadimah ini akan terlalu panjang kalau saya lanjutkan.
image

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.ย 

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta ๐Ÿ˜›

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please,ย  housewife is the most presticiousย  career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi ๐Ÿ™‚ Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.

Rumah,
31 Juli 2013
00.29

Akhirnya kelar juga. Maaf tulisan ini agak lama post-nya. Saya mengalami krisis takut menulis kemarin-kemarin ini. Kumat. Hehe. Semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

Oh ya, di acara itu saya juga bertemu komunitas yang concern untuk mengajak wanita kembali pada kodratnya menjadi wanita seutuhnya, namanya komunitas @metamorfosis_id. Yang tertarik silahkan kepoin twitternya ๐Ÿ™‚

Salam,
Himsa. A housewife wanna be. Hehe.

Advertisements

242 thoughts on “Inspirative Housewife Story

  1. Bambang Mujiono says:

    Maaf, saya ingin ikut mengomentari tentang gelar, yang mana Ibu Septi & suaminya sepakat untuk tidak mencantumkannya walaupun harus bersilang pendapat dengan orang tua mereka. Dulu saya pun demikian, tidak peduli dengan gelar yang saya dapat sehingga saya tidak mencantumkannya dalam foto angkatan. Dan belakangan baru saya ketahui ternyata gelar itu sangat berarti bagi orang tua saya.
    Ketahuilah bahwa setiap orang tua pasti akan bangga pada anak-anaknya. Seperti halnya orang tua saya & orang tua Bu Septi merasa bangga karena anaknya telah memperoleh gelar sarjana. Pantas kah kita sebagai anak, menukar rasa bangga orang tua kita itu hanya untuk mengikuti pendirian kita sendiri ? Dan bukankah dalam catatan di atas Bu Septi merasa bangga atas semua yang diperoleh oleh putra / putrinya ? Kalau benar Bu Septi merasa bangga atas semua yang diperoleh oleh putra / putrinya, kenapa beliau tidak berkenan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada orang tua beliau ?
    Saya pernah membaca beberapa quote berikut :
    “Kita baru menyadari betapa besarnya jasa orang tua kepada kita di saat kita sudah menjadi orang tua, dan saat kita membalas jasanya, kadang semua itu sudah terlambat.”
    “Lebih baik mengajak orang tua makan bersama, walaupun hanya sekedar di warteg, sebab itu akan sangat berarti ketimbang membuatkan batu nisan yang paling indah sekalipun.”
    Mohon maaf bila tidak berkenan.

    • Saya setuju dengan quote tersebut. Terima kasih komentarnya ๐Ÿ™‚
      Saya belum menjadi orang tua, namun alangkah membahagiakan ketika bisa membanggakan orang tua dengan pemahaman yg lebih baik. Mungkin Bu Septi ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa tanpa gelar tersebut beliau tetap bisa membanggakan orang tua.

      Mohon maaf juga apabila ada yg kurang berkenan. Nuhun

    • sy hanya berfikir kalau tdk perlu gelar, untuk apa sekolah jauh sampai ke Singapura, apa yg dikejar sampai di sana ya?
      alhamdulillah, bila ke 3nya berhasil, namun sy penasaran dgn modal investasi utk ke 3 anak2 tsb, biasanya hal ini bs dicapai bila didukung dana yang besar dr keluarga. Bila tdk sy kira Omdo aja, khususnya utk memelihara seekor sapi atau mengutak atik sebuah robot… ๐Ÿ™‚

      • Menyedihkan sekali kalau kita berfikir sekolah jauh hanya utk mencari gelar ๐Ÿ™‚
        Byk hal yg didapat dg merantau selain gelar bu ๐Ÿ™‚
        Dana? Tuhan maha kaya bu. Mereka semua entrepreneur ๐Ÿ™‚
        Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan.. Tp sungguh tidak ada yg tidak mungkin di dunia ini selain ketidakmungkinan itu sendiri.

  2. Wah ibu ya,
    Jadi keingat saat belajar saat di ‘aliyah dahulu bersama kepsek, beliau ngomong kira2 gini, “dibalik seorang anak yang hebat itu terdapat ibu yang luar biasa” dan tahu saja saya disuruh untuk memilih istri yang bagaiamna. hehe

    Dan mutusin gak make gelar, itu sip banget. Soal orang selalu memandang seseorang dari segi title sih, mereka gak tahu kalau Allah Ta’ala gak pernah memandang seseorang dari titel2 mereka tersebut. ๐Ÿ™‚

    Dan seorang ibu adalah pendidik pertama, bener dan bukannya di taman kanak-kanak mereka bertemu guru mereka yang pertama. Dn kita tahu bagaimana pendidikan TK di Indonesia rata2 gimana gitu. Saya pernah baca di Amerika kalau yang mengajar di TK itu rata2 pada sudah bertitel Doktor, kebayangkan bagaimana ana-anak TK disana bakal bisa jadi apa. Nah kalau ditambah lagi kalau ibunya pendidik luar biasa, pikir saja seberapa “luar biasa” anak mereka nantinya.

    Setelah baca ini, jadi harus obrak-abrik planning buat kedepan. Termasuk cari calon “ibu”nya. ๐Ÿ˜€

    nice post.

    -Pokoknya “full” keren dah cerita di atas, inspiring banget. ๐Ÿ™‚

  3. Purwa abdillah says:

    masyaAllah…kereeeen bangeettzz…sekail2 harus saya ajak siaran di radio nih… jazakillah…manfaat banget

  4. dedychandra says:

    Good inspirasi
    Tapi ingat bagi rekan rekan semua yang sudah pada berkeluarga
    Jangan sampai hal ini memperburuk hubungan dalam berkeluarga bagi yang tidak se visi
    Pasti ุงู„ู„ู‘ู‡ punya rencana lain dan dalam waktu yang tidak bisa ditentu
    Kalau semuanya perempuan perempuan seperti sang mentor maka siapa lagi yang melengkapi kekurangannya
    Sekian
    Mohon izin share nya

      • febry says:

        keren ๐Ÿ˜€

        tapi menurut saya pribadi, ada beberapa point yang tidak bisa di abaikan. pada pola pikir dan kemauan orang tua terhadap anak pada umum nya.

        1. sang orang tua umumnya ingin anak nya menuntut pendidikan setinggi mungkin.
        2. orang tua di negara kita masih berpikiran, pendidikan formal akan mengangkat taraf hidup mereka.
        3. dalam bidang pekerjaan, pendidikan sangatlah penting.
        dan beberapa point lainya (menurut saya pribadi)

        jadiiiii, bagaimana cara membuat pemahaman orang tua di negara kita menjadi lebih terbuka dan demokrasi, karna belum tentu semua orang tua mempunyai pemikiran ke arah ini.

        seperti orang tua saya pribadi, dari ke tiga anak nya (saya paling kecil) mereka di tuntut untuk meraih gelar sarjana agar, nantinya gelar tersebut bisa membuat kesejahteraan bagi diri anak nya dan keluarga nya.
        orang tua saya berpikir bahwa dengan mengikuti pendidkan formal sedari dini adalah harga mati. (harus sekolah ga boleh engga)

        tulisan ini sangat bermanfaat dan bagus untuk di baca, tapi bagaimana cara membuka pemikiran para orang tua agar mempunya sudut pandang yang bebedapada umum nya. mungkin pemikiran orang tua saya di atas cerminan dari pemikiran orang tua pada umum nya.

        buat mba azaleav : maju terus, semangat… keren tulisan nya.. di tunggu tulisan lain nya ๐Ÿ™‚
        buat ibu septi peni wulandari : semoga makin banyak kaum Hawa seperti anda ๐Ÿ™‚

      • Setuju mbak. Memang harus pelan2. Menurut saya utk membentuk kesepahaman dg ortu itu yg penting ada buktinya. Hehe. Semangat juga mbak. Salam kenal ๐Ÿ˜‰

  5. Yuana says:

    sampe nangis bacanya.. Semoga walau dengan posisi yang berbeda tetap dapat melahirkan dan membentuk anak2 yang KEREN di Mata Allah tentu nya .. inspiratip. Semoga jadi ladang pahala buat yang nulis aamiin

  6. serius keren banget ibunya.satu hal yang menjadi catatan bahwa jika seorang wanita telah memproklamasikan bahwa dia akan menjadi full time mother,konsekuensinya adalah dia harus siap bahwa segala ilmu pengetahuan untuk anaknya sudah siap..salam blogwalking

      • Klo gitu kita gak perlu dokter wanita? astronot wanita? dokter hewan wanita? aktivis lingkungan wanita? pilot wanita? tukang pecel wanita? operator ponsel wanita? penulis buku wanita? tukang loundry wanita? pelukis wanita? senator wanita? menteri wanita? kepala dinas wanita? asisten rumah tangga wanita? = bukankah semua adalah bentuk-bentuk karir?

        Hm, nampaknya anak-anak ibu tadi akan berkarir loh, secara anak pertama kan finance analyst, anak kedua pengusaha sapi dan anak ketiga calon pemilik perusahaan robot. Bukankah ketiganya awal dari karir cemerlang dimasa depan? apakah lantas semua kecemerlangan itu akan dilepas saat ketiganya menikah? lantas siapa yang kelak mengerjakannya? karyawan? nah, apakah semua karyawan pria?

  7. Wah keren banget mbak, very inspiratif. Insya Allah saya juga ingin menjadi housewife, bertahap dan berproses, insya Allah secepatnya melepas atribut karyawan dan masuk universitas kehidupan. I will follow that super mom, menjadikan Nabi muhammad SAW role model, subhanallah.
    ijin share di blog saya ya bu.
    Barakallah.

  8. Santi says:

    Ibu Septi sangat menginspirasi sekali. Saya juga sepakat bahwa pekerjaan ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan karir. Namun, ada 2 hal yg selalu saya pikirkan berkaitan dengan hal ini:

    1. Bagaimana keberlanjutan karir ini di dalam keluarga. Apakah anak2 perempuan juga diajarkan tentang hebatnya menjadi ibu rumah tangga? Dalam keluarga Ibu Septi misalnya, apakah Enes dan Ara juga ingin seperti Ibu Septi jika mereka menikah nanti?

    2. Jika semua perempuan memilih seperti Ibu Septi, siapa yg akan menjadi dokter wanita, guru TK, dan profesi2 lain yg memang lebih bagus dipegang oleh wanita?

  9. erlina_damayanti@yahoo.com says:

    Subhanalah..tulisannya ok banget… terasa inspiring-nya bu septi, walaupun kita tdk dengar ataupun lihat langsung. November bu Septi mau diundang dimana? tanggal?

  10. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa…

    Hebat sekali, boleh tahu sis….bgaiman caranya bisa sampai mengelola 5000ekor sapi bukankan itu modal yang besar, bahkan lebih besar dr biaya pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi..Mungkin dijelaskan oleh Ibu septi…

    • karena waktu itu waktunya mepet, bu septi tidak cerita detil, yg jelas itu melibatkan orang banyak untuk bekerja bersama2 mbak, dan di situlah kemampuan ara, yakni dapat berkomunikasi dg baik kepada banyak orang ๐Ÿ™‚

  11. ุนุงูŠุฏุฉ ุงุณุญุงู‚ says:

    ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู
    Really2 inspired for parents.
    Pembekalan buat smuay. Nice be parent
    Izin share mba/ibu.
    Syukran

  12. Baca kisah ini buat saya merinding… Subhanallah, konsep keluarga yang patut ditiru… Makasiih banyak Mba sudah di bagi disini kisah inspirative ini… KEREN!!!

    Salam Kenal Mba ๐Ÿ™‚

  13. ya, menjadi ibu rumah tangga yang hebat itu pasti keren. Tetapi, dalam masyarakat yang sulit ini tentu menjadi seorang guru yang PNS juga keren, atau perempuan yang bekerja di NGO juga keren, atau perempuan astronot juga keren. Mungkin, porsinya saja perlu diterapkan sesuai kesanggupan masing-masing keluarga. Saya kira, anak-anak bu Kartini tadi, dengan kemampuannya yang hebat, kelak nggak mungkin tumbuh hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Sebab ketika ia menjadi pemimpin perusahaan maka ia menjadi pebisnis, dan ia akan punya karyawan yang juga mungkin perempuan. Nah, apakah mungkin setiap perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga 100%? saya pikir tidak, karena banyak urusan publik yang membutuhkan keahlian perempuan. Jika setiap ibu seperti bu kartini jadi ibu rumah tangga sejati, lantas siapa yang menjadi karyawan di perusahaan anak-anak ibu kartini? apakah laki-laki semua? itu mustahil. ya, hidup itu perlu keseimbangan.

  14. R.Dian Rosdiana says:

    Sungguh luarbiasa …kita kaum wanita harus bangga ,harus pintar,cerdas,gesit sbg ibu rumah tangga utk dpt mengimbangi zaman dan kebutuhan anak-anak kita agar dapt menjadi anak y mandiri,beriman dan sukses

  15. Subhanallah. Menjadi ibu rumahtangga seperti ini adalah idaman saya. Tapi sering kali orangtua/keluarga akan menentang pada awalnya, krn kita sering dianggap melanggar ‘aturan’ yaitu membiarkan anak tdk sekolah.

  16. enak sekali cemilan pagi ini.. sangat renyah dan gurih, akan ku sajikan buat istri tercintakuโ€ฆ mudah2 an bisa bermanfaat bagi keluargakuโ€ฆ terimakasih mbakโ€ฆ

  17. Melani says:

    Saya beberapa kali ikut Kuliah Online nya,memang kereeen sekeren kerennya.. ..Pernah juga chatting dengan beliau. Tapi untuk kehidupan detailnya, saya baru tahu dari tulisan ini..Great job Mbak.!!!!. Makasih ya..Inspiring banget!!!.

  18. Awis says:

    …anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah.
    Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah.

    3 paragraph di atas sedikit ada pertentangan. Opini saya pada akhirnya sekolah dilingkungan formal dan gelar tetap dibutuhkan.
    Satu lagi tanpa ijazah bisa masuk kuliah S1 di luar negri? agak membingungkan, karena biasanya sekolah dimanapun akan mensyaratkan hal tersebut.
    apabila ini benar, Insya Allah akan memangkas metoda bersekolah yang membuang banyak waktu.
    Sukses buat bu Septi…

  19. Reblogged this on . . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . . and commented:
    Teringat pertanyaan seorang teman KKN di Sampang (Madura) dulu, di sela aktivitas bersih-bersih rumah, tiba-tiba ada yang menyeletuk menanyakan apa cita-cita saya setelah lulus nanti.. dan dengan santai saya menjawab, “ibu rumah tangga” :mrgreen: hehe… audiens langsung berseru “heaaa”
    Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda :โ€œSetiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.โ€ (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).
    * * *
    Kalau ditanya keinginan lain pasca kampus,,, ๐Ÿ˜€ insyaAllah saya ingin melakukan usaha-usaha agar bisa lanjut kuliah S2, mengajar, dan tentunya menyelesaikan hafalan Al-Quran hingga 30 Juz ๐Ÿ˜‰

  20. Mila says:

    Mantap….. Jadi berkaca diri nic… Insya Allah anak2 ku cukup merdeka, karena ga terlalu banyak larangan. Selalu memberi pemahaman ke anak bahwa salah itu manusiawi, karena manusia t4 ny salah, jd ga perlu takut salah. Setelah itu mereview knp bs salah, dan coba mencari solusiny.

    Mslhny saya masih orang kantoran, jadi waktu lebih banyak di kantor. Alhmdulilah, Insya Allah Oktober ini sudah mulai kerja d rumah, semoga bs melakukan komunikasi yg intens ke 2 putri ku.

    • subhanalloh …. membaca comment mbak mila tiba2 saya menitikkan air mata… bismillah semoga berkah ya mbak..buat semua cita2 dan harapan mbak untuk keluarga dan ke 2 putrinya.. saya baru kurang lebih 10 bulan ini memilih berkarir di rumah dan memutuskan off dari kerja kantoran. dan baru dalam proses mengatur strategi untuk memulihkan sikap putri saya yang keras dan sedikit terlalu aktif secara sikap dan perkataan hehehe mungkin karena kelalaian saya kurang pintar dalam membagi waktu saat saya masih bekerja dulu..dan di tambah lagi karena kelengahan saya kurang selektif dalam memilihkan dia” teman” ( korban dari salah pilih “embak” yang dulu jagain dia saat saya di kantor)
      anyway… dari membaca postingan di atas dan teruatama comment mbak mila saya jadi tambah semangat lagi..!!!! dan untuk 12 thn ini waktu yang tepat buat saya adalah bersama putra putriku…bismillah semoga berkah

      • Saya juga terharu membaca komen teman2. Semakin semangat utk menjadi ibu rumah tangga. Harus mencari bekal dulu kalau saya. Semangat semuanyaaa ๐Ÿ™‚

  21. nia says:

    Izin Share yah..mudah2an bisa menjadi pertimbangan saya,,karena saya ibu yg bekerja dan semakin hari semakin merasa bimbang kalau meninggalkan anak dirumah.karena semakin hari semakin pintar..itu yang membuat berat terkadang kekantor..

  22. mba,,, ijin share bolehkaah? mau aku posting di blogku,,, stlh bebrapa kali di “kemplang” pake dalil atau ceramah ttg kodrat wanita sbg ibu RT,, kok justru artikel inni ya yg paling berasa ngemplangg nya… makasih mbaaa

  23. Husnul_Aini says:

    Reblogged this on Ai's Blog and commented:
    TUlisan ini menginspirasi bgt, Alhamdulillaah diberi petunjuk untuk menguatkan tekad menjadi ibu rumah tangga sejati…perbanyak ilmu dulu, sambil nunggu waktu action ๐Ÿ˜€

  24. ashrien says:

    Bagus banget sangat menginspirasi. Terjawab sudah pertanyaan saya selama ini. Saya IRT sejati yg sudah mulai jenuh dgn rutinitas sehari2 tapi utk memulai usaha rasanya tdk mungkin krn anak2 masih kecil masih membutuhkan ibunya meskipun katanya usaha bisa dirumah sambil ngurus anak tp tetep aja harus bisa fokus dua2nya sedangkan saya ga bisa fokus pd 2 hal berbeda, saya tiap hari berfikir apa yg harus saya lakukan supaya saya ga jenuh sbg IRT tp tdk harus memiliki usaha tp bermanfaat bagi keluarga, akhirnya ya saya tetep jd IRT berusaha menjadi ibu yg terbaik bagi anak2 ngurus anak dan suami tp tetap perasaan saya masih hampa masih belom puas utk menjadi IRT yg profesional dan berkwalitas. Dan setelah membaca artikel ini saya jd lebih tau dan mengerti perlahan2 apa yg harus dilakukan sbg IRT hehehhee……sekian bismillah

  25. Ga sengaja mampir disini dari artikel yang di share temen di FB. Artikel ini dah membesarkan hatiku. Sejak aku melahirkan 4 bln yang lalu aku keluar dari kerjaan dan memutuskan untuk jadi full IRT. tapi kadang masih merasa “minder” karena mereka menatapku gimana gitu ketika aku bilang aku sekarang di rumah. bahkan ada yang bilang “sayang ma ijazahnya ya mbak”. tapi ya ini cita2ku dari dulu … artikel ini menambah semangatku. makasih yaa

  26. Diana says:

    Sangat inspiratif…..patut menjadi contoh bagi kita,terutama utk org tua yg punya mindset konservative ttg pendidikan. Izin share ya Mbak… Trima ksh.. ๐Ÿ˜€

  27. Fenny N says:

    baca ini jadi terharu bgt, ijin share di blog ku ya, biar bisa sering2 baca dan mengingatkan diri sendiri soal parenting. Memang dilema sih kalo buat ibu2 bekerja, parenting banyak diserahkan begitu saja ke pihak sekolah ๐Ÿ˜ฆ #berkaca ke diri sendiri

  28. Menurut saya, selain bu Septi memang hebat, saya salut dengan suamnya.pasti suaminya sangat mengapresiasinya.
    banyak ibu yg sedih atau berat ‘hanya’ menjadi ibu RT kran suaminya sendiri menganggap sepele.
    apakah suami pulangmenanyakan apa yg kau ajarkan pada anak kita g hari ini?
    anak kita bertambah pintar apa dalam didikanmu? lalu memuji dan menghargai
    mengajak membahas hal hal besaaar.
    anak kita mau dibentuk jadi apa, caranya bagaimana, apa kontribusi ibu, apa kontribusi ayah.
    kalau tidak dicuekinn atayang ada ayah bekerja sendiri. sok penting sendiri, ibu dicuekin capek di rumah.
    Kalau pun ditanya:
    kok cucian masihnumpuk?
    yang ditanyakan bukan hal yg menghargai ibu.
    wajaar kalau ibu senang dihargai di sektor publik.
    walau dalam hatinya pasti senang banget kalau diajak membahas anaknya, mendidiknya.

  29. Bagus sekali tulisan tadi dan saya sangat terinspirasi. Semoga para ibu-ibu juga terinspirasi. Harapan saya tulisan ini banyak dibaca oleh para wanita. Baik yg sudah menikah atau akan menikah. Terima kasih

  30. yuliarahmi says:

    Kereeen abissss,,kembali ke fitrahnya wanita…saya setuju bgt mba azaleav, soalnya sy sgt mrasakan rasanya ditodong pertanyaan, dulu kuliah dimana??di blabla buk,,waaah hebat ya??sekarang kerja dimana??ga kerja buk, jadi Ibu rumah tangga aja,,,waaah sayang sekali, udah jauh2 kuliah kok ga kerja??

    Pikiran yg seperti ini yg harus di ubah di rata2 orang di negeri kita…apakah kuliah itu mutlak harus jd pegawai??tidak kan?? bukankah dg sekolah tinggi wawasan kita terbuka luas??ilmu kita bertambah,,,plus kl kita kuliah di negeri orang kita punya pengalaman hidup tersendiri yg kita dapatkan,,saya kebetulan sudah menikah dg 2 orang krucil,,,sangat merasakan betapa beratnya tugas seorang ibu dalam MENDIDIK anak2 nya,,,dalam mendidik anak2 dibutuhkan Ilmu,,,apalagi u zaman sekarang ini,,,jujur walaupun sy sarjana, tp tdk bs dipungkiri kalau sy msh harus bnyk mencari ilmu u bs mendidik anak2 saya,,terutama “ilmu lingkungan”,,,tidak terbayangkan jika saya bekerja diluar sana,,anak2 sama siapa??dr mana saya tau dia berteman dg siapa??dia bermain dg siapa??bagaiamana perkembangannya,,,saya tidak ingin menyusahkan orang tua saya(neneknya anak2)…bukankah beliau dahulu telah membesarkan saya??haruskah beliau berjibaku kembali dg mengasuh anak2 saya???kasihan kan?? beliau sudah tua, sy ingin beliau menikmati hari tuanya dg ibadah, menimati apa yg ingin beliau kerjakan,,tidak ingin melihat beliau harus tertatih2 menggendong cucu2nya,,,ooowh,,rasanya sy anak durhaka,,,,hiks,,,,maaf kalo ada kata2 yg tdk berkenan,,,ini cuma pengalaman saya saja,,,mohon dimaafkan,,,oiya,,maaf juga tulisannya acakadul,,,

  31. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    Saya juga suka sekali berdiskusi sama keluarga esp bapak. Semoga ke depan bisa menjadi anak yang lebih baik lagi juga bisa menguatkan ikatan keluarga dengan lebih baik lagi. They are the only humans I can trust.

  32. Ophet says:

    Keren sekali!!! Inspiratif!!

    saya ijin share tulisan ini utk istri saya via facebook ya, boleh ya mbak?

    makasih.. ๐Ÿ™‚

    btw, aamiin utk doanya..

  33. Weh.. Mirip sma visi yg pernah saya rancang dan ingin sya terapkan ke istri saya.. hhe

    Alhamdulillah ada yg bs jd inspirasi..

    Izin share mba.. Reviewnya mntap..

    Jangan jawab “silahkan pak/mangga pak” ya mba..
    Wlaupun sdh beristri, tp masih bru aja umur 21.. (hha.. krn g suka dipanggil pak)

    oke.. thanks mba

  34. liahrp says:

    himsaaaa kamu ikutan SPN yaa ๐Ÿ™‚ salah satu pengisi nya teh patra, beliau jg penggiat homeschooling, ketua motherhood itb.. insyaAllah sama keren nya sm teh septi ๐Ÿ˜€

  35. arin says:

    Subhanallah…keren banget ya Bu Septi…
    dan Ba Hamsa juga makasih udah nulis dan meneruskan menginspirasi hehe…. boleh dong di sy share lg ke yang lain

  36. sangat menginspirasi. PNS bukanlah segalanya, saya sangat bangga kepada mereka yang tidak sekedar mengandalkan gelar, tetapi berani mengambil tanggung jawab berkontribusi untuk negeri dengan kemampuan yang kita miliki… saya sendiri setelah menikah baru menyadari belajar itu long life learning… dan belajar itu mengasyikkan dimana, kapanpun dan dengan siapapun kita bisa belajar.. agar bisa membagi kemanfaatan u sebanyak2 manusia, thx sist.. salam kenal.ijin share jugaa yaa

  37. Subhanallah.. Islam itu memuliakan wanita, makanya wanita diperintahkan untuk tetap berkarir di rumah, karena kalo berkarir di luar rumah rawan terkena stress, menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya berkutat dengan tugas-tugas yg sudah didesign Allah sedemikian rupa,, menjadi pendidik anak-anaknya karena Ibu adalah pendidik trbaik bahkan jauh lebih baik dari guru yg bergelar Doktor sekalipun, krn Ibu mengajar dengan tulus tanpa pamrih (tidak bermaksud menyudutkan profesi guru ya). Kisah nyata isnpiratif ini bnr2 menguatkan tekadku untuk menjadi housewife yg lbh baik lagi.. Big hug untuk anak-anakku trcinta..

  38. sampe nangis ๐Ÿ˜ฅ
    subhanAllah.. lagi2 Allah menunjukan kbesaranx
    sesuatu yg TIDAK MUNGKIN, sesuatu yang MUSTAHIL, sesuatu yg GAK MUNGKIN BISA JADI NYATA bagi manusia, adalah hal kecil utk Allah untuk menjadikan “sesuatu” itu menjadi NYATA dengan KUN FAYAKUN ๐Ÿ™‚
    izin share yah di blog ku ukhty ๐Ÿ™‚

  39. Reblogged this on Mujahid Kecil and commented:
    Ilmu adalah petunjuk. Dengannya Allah karuniakan inspirasi, komitmen. Dengannya Allah mudahkan kesabaran, dan lapangkan hidayah kepada siapa saja yang Allah kehendaki termasuk pada seorang ibu yang berkomitmen dalam membina dan membangun peradaban. Apa itu peradaban? Teman-teman bisa cek di tulisan saya sebelumnya. Lalu salah satu implementasi konkretnya dalam kehidupan kita adalah seperti paparan artikel ini. Selamat membaca..

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s