Kakak

Kak, gerimis senja tadi sore masih mengurai namamu
Denting jam menuju pukul sebelas masih mengarah padamu
Bisik nasihat Ibu berkali-kali membahasmu

Kak, ada huruf-huruf bersembunyi di rumah kedua
Ada gambar-gambar bercerita pada mereka
Ada simponi alam bertanya-tanya

Kak, kakak, kakak.. Apa kabar?
Masihkah kamu terbersit rindu
pada kepolosan adik kecilmu
pada tawa tanpa pretensi
pada tangis yang katamu cengeng
pada keluh yang katamu manja
pada kata-kata yang katamu ‘geje’
pada suara seraknya
juga pada kicau rindunya

Kak,
Adik kecilmu rindu pada choki-choki yang kauselipkan di kotak pensil
pada diammu yang menenangkan tangisnya
pada gambar-gambar yang kaukirim
pada telingamu yang mendengar keluhnya
pada matamu yang meneduhkan jiwanya
pada lidahmu yang mengurai cerita
pada hatimu yang tertaut pada-Nya

Kak,
Pernahkah kau bertanya pula?
Tentang adikmu yang belajar mendewasa
Tentang adikmu yang belajar menulis nonfiksi
Tentang adikmu yang terus mengurai benang impian.

Kak,
Kudengar kau makin mengudara
Langit mana lagi yang kaujejali?

Kak,
Masihkah kau ingin pulang?
Adikmu masih menunggu.

Rumah
13 Juni 2013
23.41
Untuk Kakak yang amat dirindui adiknya.

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s