Komunikasi Digital dan Kenangan yang Tak Terlupakan

sumber gambar: dvanol.blogspot.com

sumber gambar: dvanol.blogspot.com

Bagi orang-orang melankolis, perkembangan komunikasi digital tentu sangat menyenangkan untuk bernostalgia. Melihat foto-foto masa lalu, lagu kenangan, atau video rekaman di suatu masa terkadang bisa membuat kita tersenyum bahkan menangis tergerus rindu pada masa yang telah lewat itu. Apalagi, adanya data dalam bentuk digital semakin memudahkan proses penyebaran data tersebut. Hal tersebut didukung pula dengan perkembangan new media. Mau tidak mau, kenangan yang ter-digitalisasi pun juga turut tersebar dalam media yang disebut new media ini. Tidak hanya menyenangkan, fenomena ini ternyata juga memiliki dampak psikologis terhadap pemilik kenangan itu sendiri.

Seperti kita tahu, dalam komunikasi digital digunakan teknologi berbasis sinyal elektrik komputer dan menggunakan sistem bilangan biner. Bilangan biner inilah yang akan membentuk kode-kode yang mempresentasikan suatu informasi tertentu, sehingga menyebabkan data digital memiliki beberapa sifat, seperti: mudah diubah dan diadaptasi, dapat disimpan dalam ruang fisik yang kecil, dapat dikompres saat diperlukan, dan tentu saja mudah dibagi dan dipertukarkan antara sejumlah besar pengguna secara simultan lintas batas ruang dan waktu.

Lalu, apa hubungannya dengan new media? New media atau yang bisa diartikan media baru, pada dasarnya merupakan sebuah istilah yang menggambarkan media yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan internet. Termasuk di dalamnya blog, social forum, social media, website, dan sebagainya. New media inilah yang kini menjadi media utama dalam penyebaran informasi digital.

Lihat saja, sharing atau sekadar bertukar informasi digital di era ini sudah lazim dilakukan. Foto-foto diunggah di facebook, twitter, instagram, bahkan juga blog seperti tumblr dan wordpress serta banyak akun sosial media lainnya. Siapa pun bisa melakukannya selama ia memiliki koneksi internet dan akun media tersebut. Menyenangkan memang ketika bisa berbagi foto, lagu, atau video di media-media yang disaksikan oleh orang banyak.

Tidak hanya itu, perkembangan komunikasi digital pelan-pelan juga bisa membuat manusia seakan berada dalam mesin waktu. Adanya fasilitas baru facebook yang disebut timeline semakin membuat orang-orang melankolis betah berlama-lama di depan gadget masing-masing untuk mengenang foto, video, atau sekadar status update di masa yang lalu. Cukup mengetik tahun dan bulan yang ingin dilihat, para pengguna facebook bisa menikmati koleksi foto, video, status, atau aktivitas lain di facebook yang diunggah di masa yang lalu. Sekali lagi, hal ini memang sering menyenangkan. Bahkan, secara singkat bisa disimpulkan bahwa perkembangan komunikasi digital ini sangat asyik untuk berbagi dan bernostalgia.

Namun, sayangnya, adanya hal ini juga bisa menjadikan kita bersedih bahkan dalam level yang cukup parah bisa menyebabkan trauma. Sadarkah kita penyebaran informasi digital di new media ini semakin berkembang dan semakin susah untuk dikendalikan?

Setiap orang bisa mengunggah foto, video, atau tulisan di akun masing-masing. Yang perlu diingat adalah, tidak semua hal yang diunggah terkadang kita sukai. Mari kita baca dulu cerita Zara berikut.

Zara terkaget ketika menyaksikan foto dirinya berbaju terbuka di-tag di akun facebooknya. Foto itu memang dirinya. Ia ingat betul, foto itu diambil dua tahun lalu ketika ia berlibur bersama teman-temannya di Bali. Ada wajah-wajah ceria di sana. Sesaat, ia mengenang perjalanan di sepanjang pantai Kuta itu. Tapi, wajahnya kini tak seceria dulu. Ia malu. Sungguh malu.

Zara dua tahun lalu dengan Zara yang sekarang sudah sangat berbeda. Sejak enam bulan lalu, ia mulai mengenakan kain di kepalanya. Ya, ia mulai berjilbab. Baju-bajunya yang terbuka sudah ia simpan di dalam kardus. Sangat rapat sekali ia menyimpannya, serapat ia menutup kenangan kelam masa lalunya. Walaupun ia tahu, ia ingin menjadikan semua kenangan itu sebagai sebuah pelajaran.

Tapi foto yang baru saja di-tag oleh seorang temannya tadi baginya memalukan. Semua orang yang terhubung dengan akun facebooknya tentu saja bisa melihat foto yang menampakkan keindahan tubuhnya itu. Zara menangis. Cepat-cepat ia menghapus foto tersebut. Ia tak ingin semua orang bisa menikmati keindahan tubuhnya lagi, walaupun hanya melalui sebuah foto.

Apakah foto Zara tersebut terhapus? Ya, fotonya di profil facebooknya memang terhapus, tapi fotonya di facebook temannya masih ada. Apalagi, jika foto tersebut sudah di-share. Semakin banyak share dan tag, tentu saja akan semakin susah penyebaran foto tersebut dikendalikan, apalagi dihapus. Belum lagi, search engine Google cepat sekali merekam foto-foto tersebut, dan sangat kecil kemungkinan foto tersebut akan terhapus dari mesin pencari ini. Zara mungkin akan terkaget ketika mengetik namanya di mesin pencari Google dan foto-foto tersebut akan keluar.

Ya, menghapus kenangan di era digital ini pun menjadi semakin sulit. Sebisa mungkin kita sudah menghapus foto-foto masa lalu yang menurut kita perlu dihapus, namun ternyata masih saja ada fotonya. Jika dulu, menghapus kenangan ditandai dengan membakar foto, maka di era digital persoalannya tak sesederhana itu. Foto dalam folder komputer pribadi sudah kita hapus, tapi bagaimana dengan yang di facebook? Facebook kita sudah dihapus, tapi bagaimana dengan facebook teman-teman kita? Bagaimana dengan yang di twitter, instagram, tumblr, wordpress, atau media lainnya? Komunikasi digital ini kemudian menjadikan kenangan-kenangan menjadi tidak bisa terlupakan. Dan hal ini, tentu saja tidak baik untuk seseorang yang ingin menutup trauma masa lalunya. Yang ada, ia bisa jadi semakin trauma.

Maka semudah apapun informasi digital tersebut disebarkan, akan lebih baik jika kita menyaring informasi digital apa yang akan kita komunikasikan secara luas di media, khususnya media internet yang tak terkendali. Bukankah kenangan merupakan masa kini yang kita lihat di masa depan? Ya, walaupun mengendalikan penyebaran informasi digital itu sulit sekali, setidaknya kita bisa mulai mengendalikannya dari diri kita sendiri, kan? Sebarkan informasi digital yang memang perlu disebarkan saja.

Memanfaatkan new media di era komunikasi digital ini memang tantangan. Kita harus bisa menyaring informasi yang kita dapat maupun yang kita unggah. Semua memiliki manfaat dan risikonya masing-masing.

***

Tulisan ini alhamdulillah jadi Juara I di lomba Artur BEM SKM IM Telkom 2012.
Sejak laptop rusak dan semua data hilang, saya mencoba kembali mengumpulkan tulisan-tulisan lama dan share ulang di blog. Selain agar tidak hilang dan mudah ditemukan, juga semoga menebar manfaat.
Selamat membaca 🙂

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s