Memaknai Euphoria Hari Kartini

Kartini

Kartini

Terlepas dari pertanyaan, “Mengapa ada hari Kartini tapi tidak ada Hari Dewi Sartika atau Hari Cut Nyak Dien? Toh mereka punya perannya masing-masing yang tak kalah menakjubkan?”, saya mencoba untuk masuk ke dalam euphoria Hari Kartini yang bahkan menjadi TTWW di twitter hari ini. Ya, saya mencoba memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh tiap tanggal 21 April. Bukan, saya tidak akan ikut protes soal siapa tokohnya, tapi pada esensi Hari Kartini yang kerap kali dimaknai sebagai hari lahirnya emansipasi wanita di negeri ini. Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Kartini?

Tak bisa dipungkiri, surat-surat RA. Kartini memang memiliki andil sehingga perempuan-perempuan masa kini memperoleh hak untuk bersekolah dan merasakan pendidikan. Suara-suara RA. Kartini yang tertuang dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” kemudian menjadi pembenaran atas maraknya emansipasi wanita dan kampanye kesetaraan gender serta isu-isu feminis lainnya yang kini ramai diperbincangkan.

Emansipasi wanita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Sayangnya, emansipasi kini menjadi topeng bagi para wanita untuk menuntut kesamaan hak dengan laki-laki dalam berbagai aspek. Mereka seakan-akan bersaing dengan laki-laki dalam bidang apapun. Tanpa disadari bahwa bagaimana pun laki-laki dan perempuan memanglah berbeda. Ya, secara kedudukan mereka memang sama dan setara, tapi Tuhan sudah membekali laki-laki dan perempuan dengan keistimewaan masing-masing, sepaket dengan hak dan kewajiban masing-masing yang—lagi-lagi—tidak bisa disamaratakan.

Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh RA. Kartini? Berikut salah satu kutipan surat beliau dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat RA. Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Nah, silahkan simpulkan sendiri. RA. Kartini ingin agar kaum perempuan belajar lebih banyak agar ia mahir dalam menjalankan kewajibannya, yaitu kewajiban kodrati seorang perempuan: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama, bukan menjadi pesaing laki-laki. Bukankah begitu juga yang diatur dalam Islam? 🙂

“Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Semoga realitas emansipasi wanita yang kini berjalan tidak membuat RA. Kartini menjadi sedih. Seharusnya momen ini bisa menjadi pengingat bagi kita, kaum wanita, untuk lebih menyadari peran dan tanggung jawab kita. Saya sendiri memaknai Hari Kartini dengan mencoba menumbuhkan kesadaran bahwa segala keleluasaan yang didapat perempuan sekarang ini adalah untuk memaksimalkan peran kita sebagai perempuan: menjadi Ibu, sekolah pertama generasi emas.

Bagaimana denganmu? 🙂

Pendapat saya tentang emansipasi wanita bisa dibaca di sini. Mohon koreksi jika ada kesalahan. Selamat berkarya, Muslimah 🙂

Berbahagialah Wahai Muslimah, tak perlulah engkau risau untuk menjadi sama dengan kaum Adam, engkau itu istimewa.

Islam begitu menghormati wanita, untuk itulah ada perintah berhijab. Wanita itu mahal sehingga Islam terlalu sayang jika keindahan tubuh mereka dapat disaksikan oleh siapa pun secara cuma-cuma. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena Allah menganugerahkan sifat penyayang yang lebih untuk kaum mereka. Bahkan, seorang wanita yang sholihah itu lebih baik dari seribu lelaki sholeh. Bahkan dalam suatu hadist Nabi disebutkan, “Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.” Allah juga memberikan jalan yang begitu indah untuk para wanita agar bisa menggapai surga. “Wanita yang taat dan berkhidmat pada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga.” Ya, sebegitu istimewanya seorang wanita dalam islam.

 

Pojok Biru 2,

21 April 2013

19.34 Waktu Bagian Cinta Muslimah

(Kalau boleh menjawab mengapa ada Hari Kartini tapi tidak ada Hari lain-lain? Mungkin saja karena Kartini menulis, sedang kita tahu apa yang ditulis akan terkenang dan apa yang terucap saja akan hilang)

Advertisements

One thought on “Memaknai Euphoria Hari Kartini

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s