Sekotak Jendela Impian

Bismillah, saya post lagi, semoga bermanfaat. Ini cerpen yang membawa banyak cerita buat saya, mengantarkan saya untuk jadi Mapres Bidang Kepenulisan tahun lalu. Selamat membaca.

***

langit pagi

Pagi. Bingkai jendela kamarku masih memotret lukisan itu lagi. Aku menyebutnya lukisan langit. Kamar ini pun kusebut sebagai Tetangga Langit. Biarlah, aku memang selalu jatuh cinta pada keindahan langit, apalagi yang terbingkai dalam jendela kamarku ini, yang tiap pagi menyapaku dengan kuning cahayanya atau terkadang bau genteng sisa hujan jika semalam rintik hujan menyapa bumi. Lihatlah, bingkai lukisan itu terlalu indah untuk kulewatkan setiap paginya. Kau boleh menyebutnya biasa saja, tapi bagiku selalu istimewa. Karena di sana, aku pernah berjanji pada langit. Pagi ini, langit menagihnya lagi. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Kepala masjid, dipadu dengan ‘pengantin’ hijau daun-daun kelapa yang menjuntai, dengan latar biru disertai gradasi langit dan mega-meganya.

  “Apa yang masih kaulihat dari sekotak jendela itu?” perempuan dua puluh tiga tahun masuk ke kamarku. Ia meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kecil yang kayunya hampir lapuk.

 Aku diam saja, setelah tadi sempat meliriknya.

 “Kau masih menganggap langit menagih janjimu?”

 Lagi-lagi, aku hanya diam. Perempuan ini selalu bertanya itu tiap pagi. Dan aku juga selalu menjawabnya dengan diam. Ia tak pernah menyerah. Sampai secangkir teh hangat itu dingin pun, ia tetap berdiri di belakangku, dan akan beranjak jika aku bersedia duduk dan meminum secangkir teh hangatnya (yang entah masih hangat atau tidak). Pagi ini, entah mengapa, aku tidak ingin melakukan itu. Aku ingin bicara. Ya, b-i-c-a-r-a. Bukankah itu yang dinantikan oleh perempuan ini selama delapan bulan aku hanya diam?

 “Kak..” kata itu yang akhirnya keluar. Kata yang aku tahu pasti dirindukannya, dan ternyata juga kurindukan.

 Ia tersenyum. Matanya berbinar, walaupun ekspresi mukanya ia paksakan biasa saja.

 “Apakah Kakak masih menulis impian-impian Kakak, dan mencoretnya jika terwujud? Lalu, menganggap daftar tulisan impian itu sebagai kontrak bermaterai untuk dirimu sendiri?”

 “Tentu saja.”

 “Walaupun impian-impian itu membuat Kakak sakit hati?”

 Dia menggeleng, “Kau sendiri yang menciptakan perasaan sakit hati itu.” Ia tersenyum lagi, wajah teduhnya membuatku menunduk.

 “Sejak Kakak mengajarkanku untuk menulis setiap impianku, aku selalu menulisnya. Diorama langit dalam bingkai jendela itu selalu menjadi saksi tiap pagi aku menulisnya. Tapi mengapa impian yang kutulis paling besar di setiap halaman bukuku, yang kubuat dengan lukisan langit di sekelilingnya, malah tidak berhasil kucoret?”

 “Kamu ingin menjadi robokop untuk negara ini bukan?”

 “Darimana Kakak tahu?”

 Dia melirik buku yang kugenggam, tempatku biasa menulis impian, atau membuat janji pada langit.

 “Menjadi robokop yang bijaksana, yang membela kebenaran, yang berjuang untuk orang banyak, bukan hanya dengan menjadi TNI, Karang. Kamu terlalu sempit untuk berpikir sep..”

 “Tidak, Kak. Ini bukan hanya tentang robokop itu. Ini tentang impian. Ah, kenapa Kakak tidak mengerti juga?” Aku cepat-cepat memotong kalimatnya. Tidak, aku tidak setuju dengan nasihat itu. Aku bosan. Aku sudah tahu. Hei, ini bukan hanya tentang robokop dengan segala sifatnya itu, tapi aku ingin menjadi robokop dengan cara menjadi TNI. TIDAKKAH MEREKA MENGERTI TENTANG INI?

 Perempuan itu menyeka ujung matanya. Lihatlah, aku membuatnya menangis lagi. Kalau sudah begini, maka aku hanya ingin diam.

 “Lalu kau ingin menyalahkan siapa?” ia akhirnya bicara lagi.

 Aku menunduk lagi.

 “Dirimu sendiri? Kakak? Langit? Atau menyalahkan Tuhan?”

Aku melunak. “Kak, bertahun-tahun aku memupuk impian ini. Aku ingin menjadi TNI. Aku tidak diam, Kak. Apakah Kakak tidak melihat semua usahaku selama ini? Tentu Kakak tahu semua perjuanganku itu. Karena dulu aku percaya, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi hamba-Nya. Itu juga kan yang Kakak katakan? Tapi, apa yang diberikan Tuhan? Selangkah lagi, selangkah saja menuju tercapainya impian itu, Tuhan merampas semuanya.”

“Jadi, kau menyalahkan kecelakaan itu?”

Sekarang, Kakak benar-benar membawaku pada kenangan buruk delapan bulan lalu. Kecelakazn yang kuanggap tidak pernah ada, yang selalu berusaha kulupakan walaupun masih saja menggema gaungnya hingga detik ini.

 “Kenapa? Kau tidak ingin membahasnya lagi? Kau ingin melupakannya? Tidak, aku tidak boleh membiarkanmu melupakannya. Kau harus berdamai dengan kenyataan itu, Karang.”

 Aku diam saja. Kejadian delapan bulan lalu itu terlalu menyakitkan bagiku. Saat langkahku tegap, siap menggapai impian itu, saat aku berangkat untuk mengikuti tes kesehatan, Tuhan mengambil sebelah mataku. Ya, kecelakaan itu, membuat mata kiriku buta, yang tentu saja, itu artinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang TNI. Tidak akan pernah. Mana ada seorang perwira negara dengan mata buta sebelah? Kecuali akan ada serial “si Buta dari TNI”.

“Tuhan itu masih sayang padamu, Karang. Kalau tidak, mungkin saja ia juga mengambil mata kananmu. Dan kau tidak akan pernah lagi punya kesempatan berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi dengan Indeks Prestasi 4 seperti sekarang.”

“Itu bukan sesuatu yang membanggakan.” jawabku ketus. Bagaimana membanggakan? Aku menjalaninya setengah hati. Itu bukan suatu usaha yang maksimal. Maka, jika nilai sempurna kudapatkan dari ilmu yang kugeluti sekarang, itu hanyalah buah dari nafsu intelektualku saja yang penuh ambisi, untuk melupakan semua mimpi-mimpi itu. Aku tidak pernah ingin menjadi Ahli Komunikasi. Itu hanya pilihan kesekian. Karena pilihan nomor satu, dua, tiga, empat, hingga tak terhingga dalam hidupku adalah menjadi seorang TNI. Titik. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI TENTANG INI.

Kakak berdiri, merangkul pundakku.

“Karang, Kakak tahu, kau akan berdiri kokoh seperti namamu. Kau akan tetap berdiri kokoh dan tegap walaupun tidak menjadi TNI.”

“Tidak.” aku memotongnya lagi. Aku paling tidak suka dinasihati seperti itu.

“Dengarkan Kakak dulu. Lihat tubuhmu sekarang. Kau masih Karang yang tinggi, gagah, ganteng lagi. Kau masih adik kakak yang Kakak banggakan. Sayang sekali, sudah delapan bulan, kau tidak pernah membiarkan hatimu terbuka untuk melihat sesuatu yang lain. Kau masih tenggelam dengan impianmu yang belum kaucoret itu.”

“Tidak, bukan belum. Sudah tidak ada kesempatan untuk mencoretnya.”

“Oke, kalau gitu, buka lagi lembaran yang lain, tulis lagi impianmu, yang masih mungkin bisa kaucoret.”

“Tidak, aku tidak mau sakit hati lagi.”

“Dan kau akan membiarkan hidupmu tanpa impian seperti itu?”

Aku diam, memilih untuk meminum secangkir teh yang dari tadi menemani pembicaraan tanpa canda ini.

“Sudah tidak hangat ya? Ah, kau selalu seperti itu.” Kakak menunjukkan ekspresi yang lucu, ekspresi kecewa seperti yang selalu ditunjukkannya ketika kalah bermain monopoli denganku semasa kecil dulu. Ekspresi itu, ternyata cukup untuk mencairkan suasana pagi ini.

“Lalu, aku harus menjadi apa menurut Kakak? Apa aku harus menjadi TNI bermata satu seperti pembajak laut?” sengaja kuucapkan dengan nada canda, walaupun menyakitkan. Biar, demi gigi kelinci Kakak yang terlihat jika ia tertawa. Lihatlah, ia benar-benar tertawa. Aku juga tidak bisa menahan tawa demi melihat gigi kelinci itu.

“Aku rindu kau tertawa seperti itu.” kata Kakak.

“Aku juga.” jawabku sambil menatap mata teduhnya. “Lalu aku harus jadi apa, Kak?”

“Jadi dirimu sendiri. Jadi yang kamu mau. Kalau kamu mengambil konsentrasi jurnalistik atau media, kamu bisa jadi pembaca berita. Ah, pasti kau akan menjadi pembaca berita yang hebat. Orang tidak akan tahu mata kirimu buta. Kautahu kenapa?”

Aku menggeleng. Menjadi pembaca berita? Aku tidak pernah terpikir untuk itu. Memang, kata teman-teman SMAku, aku memiliki keahlian dalam hal berbicara di depan umum. Itu pula yang menjadi satu-satunya alasanku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi setelah kecelakaan itu.

“Karena kamu ganteng. Haha, lihatlah. Para gadis pasti akan terperangah kalau kamu membacakan berita.” gigi kelinci Kakak terlihat lagi.

Aku tersenyum. Hatiku masih belum bisa menerima.

“Langit masih menagih janjimu. Apa yang kaucari dengan terus menjalani kuliahmu sekarang seperempat hati seperti itu?”

“Jangan tanya kenapa aku menyebutnya seperempat, karena setengah masih terlalu kebanyakan untukmu. Lihatlah, kaujadi orang yang sangat menyebalkan delapan bulan ini. Hidupmu habis untuk kuliah saja. Kau tidak peduli arti kehidupan lain selain melupakan mimpi-mimpimu dan kenangan burukmu. Pasti teman-temanmu juga sebal dengan sikapmu itu, kan?” Kakak, kali ini, cepat memotong pembicaraan, sebelum aku protes.

“Sakit sekali, Kak.”

“Masih banyak yang lebih menyakitkan dari itu.”

Aku diam lagi. Kakakku ini memang ada benarnya. Hanya saja, hatiku masih bebal untuk menerima semua itu.

“Kau harus ingat, Karang. Ada andil Tuhan di setiap mimpimu. Dia mengambil sebelah matamu, bukan untuk merampas impianmu. Dia mungkin akan memberikan hadiah atas semua perjuanganmu. Kau juga harus ingat, bahwa impian bukan hanya serta merta soal doa dan usaha saja, tapi juga tentang penerimaan atas hasil dari doa dan usahamu itu. Kau tidak boleh terus memberikan hatimu untuk impianmu yang sudah tidak mungkin kau raih. Kau harus menerima. Dan kau harus berdamai dengan kenyataan.”

Aku diam saja, otakku mulai menerima, namun hatiku masih bebal.

“Kau mungkin belum menerima. Biar, nanti juga kau akan menerima seiring waktu. Biar waktu yang menjadi obat atas sakit hati yang kaurasakan.”

“Apakah Kakak pernah memiliki impian yang tidak bisa kaucoret?”

“Banyak.”

“Apa Kakak pernah sakit hati atas itu?”

“Tidak, karena aku memilih bahagia dan menjalani apa yang masih bisa kuraih sekarang sepenuh hati.” Ia menekankan kata “sepenuh hati”.

“Bayangan TNI masih terus menggangguku, Kak.”

“Kau ini, ada-ada saja, Karang. Tenggelamkan dirimu dengan aktivitas-aktivitas lain yang membuatmu semangat. Hai, kau masih bisa menjadi robokop bukan? Ayolah, kau tidak bisa terus-terusan melihat impian dari sekotak jendela ini.” ia memperlihatkan ekspresi memohon yang lucu, kali ini sama dengan ketika ia meminta mengocok dadu lagi dalam permainan monopoli ketika angkanya tidak sesuai keinginannya.

Aku diam saja. Sekotak jendela itu masih menampakkan lukisan itu. Kepala masjid, dipadu dengan ‘pengantin’ hijau daun-daun kelapa yang menjuntai, dengan latar biru disertai gradasi langit dan mega-meganya. Hatiku masih bebal. Tapi setidaknya aku mulai mengenal dua kata baru pagi ini, ketika aku memutuskan untuk bicara. Penerimaan dan berdamai. Ini akan berat. Maka biarkan saja aku seperti ini dulu, mungkin nanti waktu benar-benar menjadi obat. Yang jelas, aku harus melihat impian lebih luas lagi, tidak hanya dalam sekotak jendela ini saja. Bukankah bentangan langit masih begitu luasnya?

“Hai, Karang. Mungkin karena kau terlalu indah menulis impianmu, maka sayang jika dicoret. Atau mungkin Tuhan ingin mencoretnya dengan cara yang lain. Selamat menulis impianmu lagi.”

Perempuan itu menepuk bahuku. Tepukan yang begitu berarti. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi aku harus keluar dari bingkai jendela ini. Kali ini, aku mengikuti langkah perempuan itu keluar, membawa sebuah cangkir kosong yang pagi ini tehnya kuseduh habis.

-selesai

 

Tetangga Langit,

10 Februari 2012

10.43 WHH

Alhamdulillah, cerpen ini menjadi Juara II dalam Lomba Cerpen Ewa Book Store tingkat Nasional.

Ditulis spesial untuk Sahabat semuanya yang pernah sakit hati oleh impian. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Sekotak Jendela Impian

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s