Dongeng Sebelum Tidur (Seharusnya Perempuan Itu..)

Sejak Ipank meninggal, saya sering berbicara sendiri pada ruang kosong bernama line. Di sana, saya asyik berbicara dengan seseorang yang saya tahu pasti tak akan mengaktifkan akun line miliknya. Well, sometimes, that’s so interesting. 😀 Kadang, saya juga mendongeng tidak jelas kepada Upin, Pinu, atau kepada diri saya sendiri. Malam ini, saya ingin mendongengi diri sendiri. Tentang rangkuman nasihat dari Abah, Ibu, dan lainnya. Nasihat untuk perempuan. Akan kubagi untukmu, Cantik. 🙂
Tadi sore, Abah menelepon santai seperti biasanya. Tapi pembicaraan beliau, bagiku sangat serius. Berikut percakapan kami.
Abah: Lagi ngapain, Vi? Libur asyik nih tidur seharian.
Himsa: Maunya sih gitu, Bah. Tapi seharian ini di kampus. Ada little project must be done. Doakan nggih.
Abah: as always. Selalu didoakan. Semoga magangnya juga lancar. Banyak memberi, nanti diberi kemudahan sama Allah.
Himsa: Okay, di rumah okay kan, Bah? Ibu mana?
Abah: (manggil Ibu). (Ibu belum muncul) Rumah baik-baik aja. Doakan aja lah. Nggak usah dipikirin berbagai masalah kemarin. Abah sama Ibu lagi saling mengisi, saling menguatkan mental.
Himsa: hmm.. (dalam hati: kok so sweet?)
Abah: Jadi, gini, Vi. Perempuan itu pegang peranan penting untuk laki-laki. Ia bisa jadi sumber surga, bisa juga jadi sumber neraka. Gini nih, kamu ini calon ibu, Abah kasih tahu sesuatu.
Himsa: (mulai seksama)
Abah: seorang suami bisa jadi emosi karena sulut api dari pendampingnya alias istrinya. Tapi hebatnya juga, seorang suami bisa meredam emosi dengan baik juga karena istrinya. Makanya nanti kamu juga harus gitu, harus bisa ngemong suamimu. Begitupun sebaliknya. Harus saling mengisi. Itu yang dilakukan Abah Ibu dalam menghadapi berbagai permasalahan akhir-akhir ini. Saling mengisi, saling menguatkan, saling mengingatkan.
Himsa: Iya, Bah. Bener. Kayak Pak Habibie ya, Bah?
Abah: Iyaap, kayak Pak Habibie da Ibu Ainun. Nanti malem nonton di RCTI jam sepuluh. Jadi emang bener, di balik laki-laki sukses itu selalu ada wanita hebat yang menemani.
Himsa: di samping, Bah.
Abah: Ah, iya. Di samping laki-laki sukses, selalu ada wanita hebat. Dan kamu harus bisa jadi wanita itu. Ini Ibu mau ngomong.

Setelah itu, saya ngobrol sama Ibu dan agak ngelamun. Teringat percakapan dengan Ibu beberapa waktu lalu.

“Vi, bagaimana pun keraskepalanya laki-laki, kamu sebagai wanita harus bisa ngemong, harus bisa mengendalikannya. Begitulah salah satu tugas penting seorang istri.”

Well, saya jadi ingat sebuah buku tulisan Sitta Karina berjudul “Rumah Cokelat”, insyaAllah akan saya bahas dalam part sendiri. 🙂

Sekian dulu dongeng sebelum tidur, semoga kamu bisa mengambil ibrahnya. Minimal, belajar untuk meruntuhkan ego pribadi, Girls. Tugas kita selanjutnya akan banyak. Ingat, perempuan juga sekolah pertama lho bagi generasi bangsa ini. 😉
Hmm.. Semoga juga bisa jadi pembelajaran buat saya.
Ah iya satu lagi nasihat dari bundanya Kak Puput.
“Kalau laki-laki itu mendua, maka yang perlu dilihat adalah perempuannya.” Jadi Girls, mari kita simpulkan sendiri seharusnya bagaimana kita menjadi perempuan yang baik. Hamasah!!! 😉

Pojok Biru 2,
24 Januari 2013
22.21

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s