Pergilah, Rindu

Pada tampias hujan, kamu datang sebagai percikan. Pada sisa-sisa parutan keju, kamu menyisip di sela lubang-lubang parut. Pada suara decit pintu kamarku yang rusak, terdengar suaramu ikut berdecit. Kamu membersamai ruas-ruas jariku. Juga mengalir di sepanjang arteriku. Kamu datang walau isi kepalaku menghalang. Mampir di sela apapun yang tak kuduga. Aku bisa apa? Hei, Kamu! Namamu rindu bukan? Jika iya, jangan datang lagi. Sebab namaku sepi. Sesepi layar putih temuan Bill Gates yang sudah 47 menit kutatap. Aku mencoba mengeja huruf di sana, tapi kesusahan memadunya menjadi kata. Sebab lagi-lagi cuma kamu yang tereja. Rindu. Bagaimanalah.. Logikaku mulai kewalahan memenjarakanmu. Ah, rindu, berdamailah sedikit dengan rasa.

Pojok Biru 2,
19 Januari 2013
18.57 WHH

Untuk rindu, Ibu, Abah, Farkha, Nidul, Amiq, mbah, sc8.. Bebaskanlah rindu dari penjaranya. Izinkanlah dia meramu rasa dalam cangkir hangatmu.. Biarkanlah hangatnya seduhan itu mengaliri cawan penuh asa.

Untuk Squalus, temukanlah sebungkus cerita dari Sephia. Berjudul rindu, sebungkus cerita itu mengapung di laut mati. Maka kejarlah. Urailah tali bungkusan itu. Sebab Sephia kehilangan ceritanya. Ia bahkan tak bisa mengeja rindunya. Sementara bongkahan huruf menyesakkannya. Aih, bagaimanalah, maafkanlah cumi-cumi kecil itu, Squalus. Ia cuma rindu. Itu saja..

secuil bongkahan yang akhirnya runtuh dalam beberapa baris kata, semoga bongkahan lainnya segera roboh.

Advertisements

4 thoughts on “Pergilah, Rindu

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s