(benci)

picture from: eykahamasuba.blogspot.com

picture from: eykahamasuba.blogspot.com

“Aku benci!”, ia melemparkan lagi sebuah batu ke danau di depannya. Mengagetkan beberapa ekor katak yang tengah tidur lelap di pinggiran danau.

“Apa yang kamu benci?”

“Episode cerita kita di sepertiga akhir tahun ini. Dia. Setengah kamu.”

“Setengah?”

“Setengahnya lagi begitu kucintai.”

“Maaf.”

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil menyeka satu bulir air mata yang akhirnya jatuh, padahal dari tadi ia tahan. Laki-laki di belakangnya, yang dari tadi ia kira imaji, yang dari tadi suaranya menjawab teriakannya, berdiri tepat di belakangnya. Itu kamu. Masih dengan tas ranselmu. Masih dengan selembar surat yang kamu genggam. Masih berdiri kaku. Kakimu tak berani melangkah satu jengkal lagi untuk menyejajari perempuan itu. Kamu diam, kemudian mendengarkan ceritanya selanjutnya.

“Untuk apa kamu menangis, Al? Kamu menangis kayak kamu nggak punya Allah aja.” Perempuan itu berbicara pada dirinya sendiri. Dan kamu masih diam di tempatmu berada.

Perempuan itu lalu bercerita banyak. Ia menulisnya di dalam kumpulan surat yang menunggu sampai. Dan pagi tadi, ia bercerita pada air danau dan katak-katak kecil. Terapi, menghilangkan benci agar tak jadi penyakit hati, katanya.

Katak-katak itu melompat ke danau, membentuk riak kecil di atasnya. Setelah semua kesal ia ceritakan, ia menarik nafas panjang, menemukan sebentuk aufklarung.

“Akan ada rencana Allah yang kita tidak tahu bagaimana caranya. Penyelesaian dari-Nya akan selalu ada. Dan akan ada satu waktu semua penat yang membebani itu hilang, tergantikan oleh episode cerita lainnya. Mungkin waktu itu esok, lusa, setahun lagi, dua tahun lagi, atau entah kapan. Tapi waktu itu pasti ada. Sungguh, Allah sudah membuat skenario. Bukankah aku dari dulu selalu bilang bahwa aku memasrahkan semua cerita ini pada skenario-Nya? Dan sakit ini jelas salah satu skenario-Nya. Tinggal aku bisa konsisten dengan kata yang pernah kuucapkan untuk pasrah pada skenario itu atau tidak. Allah jelas punya rencana. Allah jelas punya solusi, yang kadang-kadang logika kita pun tak mampu memikirkannya…” ia masih berbicara sendiri, kali ini nadanya lebih optimis.

“Benci? Ayolah berdiri. Mengisi waktu dengan menyimpan benci hanyalah mengotori hati. Sapu dengan mengingat-Nya. Sapu dengan dzikir. Sapu dan bakar semua benci itu sampai abunya pun tak bersisa. Redam semua emosi itu hingga hanya hawa tenang yang menyertaimu. Biar sakit itu memang ada. Biar sakit itu menjadi penggugur dosa. Biar Allah yang menilai. Dan biar Dia juga yang menolong. Hanya Dia. Hasbunallah. Bukankah yang menggerakkan hatimu dan hatiku, juga hatinya adalah Dia? Maka berdoa saja. Pegang janji-Nya baik-baik. Dia tidak akan meninggalkanku, apalagi menyakitiku. Sakit yang Dia kirim untukku adalah pengingat. Bukan begitu?” ia menasihati dirinya sendiri. Berkata seolah sedang berorasi. Ah, kamu pasti lebih jago soal orasi, tapi entah kenapa sampai kini kamu malah diam.

Ia berdiri, tersenyum pada beberapa ekor katak yang dari tadi memperhatikannya, “Hai, sampaikan maaf karena aku pernah membenci dia. Dia yang tak berani kusebut namanya karena selalu menyesakkan. Pagi ini saja. Dua jam saja. Setelahnya, aku janji tak lagi membencinya. Aku mau jalan-jalan jauh. Mau kembali ingat bahwa skenario-Nya itu indah dan terbaik. Aku mau jalan-jalan jauh. Maaf juga aku pernah membenci setengah kamu. Aku mau jalan-jalan jauh, membuang semua benci, lalu membiarkan hidupku berjalan sebagaimana mestinya. Aku mau menginstall ulang semuanya.”

Ia menoleh ke belakang sambil membawa senyumnya dan perasaan leganya. Hanya begitu saja ia melampiaskan setiap bencinya dan selanjutnya ia akan membersihkan hatinya dari semua perasaan itu. Hanya sesederhana itu ia melampiaskan amarah dan sakit hatinya. Hanya sesederhana itu. Ia hampir melangkah dan mendadak membekukan senyumnya ketika satu jengkal darinya berdiri, sesosok laki-laki yang ia sebut “kamu” berdiri sambil tersenyum juga.

“Maaf”, katamu lagi.

Aku tidak bisa mendeskripsikan ekspresi perempuan itu.

Pojok Biru 2,

24 Desember 2012

8.42 WLH

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s