Apakah waktu bertanggung jawab?

Aku tahu ini terlalu klasik. Menjauh, menyerahkan pada waktu sebagai satu-satunya aktor untuk sebuah perjumpaan atau sekadar pembicaraan. Dan kita sama-sama tidak tahu kapan waktu itu ada. “Suatu waktu.” katamu. Bagaimana jika suatu waktu itu tidak ada? Apakah waktu juga yang akan bertanggung jawab pada sakit yang ditinggalkannya? Itu terlalu abstrak. Tapi, aku kemudian tahu, Tuhan pula yang memegang kendali pada waktu. Termasuk waktuku dan waktumu, jika memang benar ada dalam satu dimensi yang sama. Lalu kalau tidak?
Jeda. Itu yang kupilih. Sementara banyak yang lain memilih mendekat, mengurangi jeda denganmu. Dan aku justru setia pada jeda, tersenyum menikmatinya. Seperti kataku tadi, memasrahkan urusan ini pada waktu. Menunggu di balik alfabet. Merindu tanpa berkata. Terkadang menangis di sela hujan. Lalu bagaimana jika mereka berhasil merapat membuang jeda, sementara aku masih diam menagih janji waktu yang jelas-jelas kita tak tahu?
Biarkan udara pagi ini kuhela sedikit lebih panjang, untuk meyakinkan lagi bahwa Tuhan adalah Event Organizer Maha Dahsyat. Aku tahu menunggu apa yang bahkan kita tidak tahu itu menyesakkan, tapi aku bahkan tak tahu kenapa masih saja menunggu.

“Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.”

Pojok biru 2
24 September 2012
7.07 whh

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s