Inspirasi (lagi) di Seminar IYMC (H #4 IMSS)

Rabu, 18 Juli 2012. Hari terakhir IMSS. Sungguh cepat sekali, Kawan. Aku belum mengenal semua orang di sini. Aku belum sempat berbincang lebih banyak lagi. Forum silaturahmi ini selesai hari ini. Semoga saja, semangatnya tidak selesai hari ini, jalinannya juga. Sudah tidak ada sekolah LDK, Islamic Fair juga sudah ditutup.

Masih seperti kemarin, kami berkumpul lagi pukul 07.00 WIB di Taman Ganesha, sebelah Masjid Salman ITB, lalu makan pagi bersama. Bedanya, kami tidak menunggu instruksi panitia lagi harus ke mana. Kami langsung menuju Aula Barat ITB untuk mengikuti seminar IYMC, yang kebetulan salah seorang panitianya juga sahabat Gamus.

semiar IYMC di aula barat ITB

Apa itu IYMC? IYMC merupakan kependekan dari Indonesian Youth Moslem Creation. IYMC ini merupakan ajang penghargaan kepada para mahasiswa Indonesia yang memiliki prestasi karya dan sudah diseleksi oleh tim juri. Karya yang dimaksud dibagi kedalam tiga kategori, yakni Entrepreneurship, Inovasi dan Teknologi, serta Pemberdayaan Masyarakat. Masing-masing pemuda yang terpilih akan mendapatkan IYMC Awards dan uang tunai senilai Rp 3000.000,00 serta bingkisan dari sponsor.

Membuka seminar ini, peserta dihibur dengan penampilan dari Tashiru, tim nasyid yang juga sempat menghibur peserta pada opening IMSS, 15 Juli lalu di auditorium Sabuga.

Seminar IYMC ini domoderatori oleh Kang Ibam, mahasiswa MBTI Institut Manajemen Telkom angkatan 2007, yang juga koordinator Forum Indonesia Muda. Pembicara pertama dalam seminar IYMC ini adalah Kang Goris Mustaqim, alumni ITB yang menggagas Indonesian Change Makers, juga entrepreneur yang meraih penghargaan nasional, maupun internasional. Menurut Kang Goris, masa depan Indonesia ada di daerah, karena pemerataan pembangunan di Indonesia masih belum merata. Oleh karena itu, kita para muda, sudah sebaiknya mengoptimalkan potensi daerah.

Kang Goris juga menjelaskan konsep social enterprise, social business, dan social entrepreneur. Beliau mencontohkan tentang gagasannya di daerah asalnya, Garut, dengan membuat Asgar (Asal Garut) untuk mengoptimalkan potensi masyarakat Garut. Sungguh, paparannya inspiratif. Meskipun sudah melanglang buana di mana-mana, Kang Goris tetap kembali ke daerah untuk memajukan daerahnya.

Masih bercerita tentang Garut, peraih IYMC Award untuk ketegori Pemberdayaan Masyarakat diberikan kepada Kang Anton, seorang lulusan STAN asal Garut yang kini sudah bekerja sebagai salah seorang pegawai di Dirjen Pajak. Meskipun sudah tinggal di ibukota, setiap sabtu dan minggu kang Anton pulang ke Garut untuk mengembangkan sosial bisnisnya bersama para remaja masjid di daerahnya. Kang Anton memanfaatkan tanah yang rusak akibat eksploitasi batu bara di daerah Sindang Sari dengan menggunakan metode argoforestry. Sungguh luar biasa, kang Anton, yang sehari-hari belajar akuntansi pun benar-benar survey, tanya sana-sini untuk mengembangkan sociopreneur ini. Maka tak heran, jika apa yang dilakukannya ini telah mendapatkan beberapa penghargaan sebelumnya, di antaranya dari British Council dalam E-idea Competition.

Menutup presentasinya, Kang Anton berujar, “Indonesia ini gudangnya masalah. Carilah satu masalah terkecil yang bisa kamu temukan solusinya dan atasi.” Super!

Presentasi Kang Goris dan Kang Anton ini membuat saya bertanya-tanya, apa kabar Pati? Bukankah daerahku ini juga harus dikembangkan? (hanya celoteh yg semoga tidak sekadar celoteh)

Peraih IYMC Awards selanjutnya adalah teh Nisa, alumni Farmasi ITB, yang meraih penghargaan di bidang Inovasi dan Teknologi, karena membuat gel pencegah kantuk. Unik memang. Idenya sederhana, tapi realistis. Gel ini kini sedang dikembangkan supaya nantinya bisa dipasarkan dan benar-benar bermanfaat untuk ummat, khususnya pelajar dan mahasiswa (*lho?). Menurut Teh Nisa, selagi masih muda, setiap ada kesempatan, ambillah kesempatan itu, dan terus mencoba.

Peraih IYMC Awards yang terakhir, yakni kategori entrepreneurship jatuh kepada Kang Musa, seorang mahasiswa Universitas Terbuka sekaligus pegawai Satpol PP di DKI Jakarta. Beliau membuat bisnis aksesoris, dengan membuat puzzle yang bercerita tentang budaya bangsa, mainan, aksesoris hias, dan lain-lain. Nantinya, beliau juga akan membuat puzzle edisi anak sholeh untuk dipasarkan. Sungguh luar biasa, berawal dari bisnis rumahan yang tidak terlalu besar, kini toko aksesoris kang Musa, menjadi pemasok utama di Trans Studio Bandung dan Makassar. Prinsip hidup beliau adalah berpikir, action, berbagi, sukses!

suasana Aula Barat ITB yang penuh dengan jilbab putih saat seminar IYMC

Acara seminar IYMC ini pun ditutup dengan penyerahan hadiah untuk para peraih penghargaan. Acara berakhir seiring gema adzan Dzuhur. Namun masih menyisakan pertanyaan. Apa yang akan saya lakukan untuk daerah saya? Menyisakan tanya, apa prestasi kita, sahabat? Ya, semua orang memiliki panggungnya sendiri, tergantung mau atau tidak kita meraihnya.

Taman Ganesha

Bandung, 18 Juli 2012

Advertisements

2 thoughts on “Inspirasi (lagi) di Seminar IYMC (H #4 IMSS)

  1. ketemu kang Goris ya ? pengen banget ketemu beliau.
    hahahah btw soal Pati, sama seharapan. ayok sama sama melakukan untuk Pati biar gak gini gini aja, gitu gitu doang 😀

    • alhamdulillah mbak.,iya inspiratif bgt kang goris euy 🙂 semoga lain waktu bisa ketemu..

      ayoo, makanya aku ajak kamu kemarin, we need to do something for our PATI 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s