(membenci) hujan

Pagi. Sebelum bertemu kembali dengan tawa adik-adik dan hiruk pikuk UAS, aku ingin kembali bercengkerama dulu dengan huruf-huruf. Tentang langit dan hujan (lagi).
Di sini, saat aku menulis ini, di depanku masih tidak hujan. Tapi aku sedang berusaha membenci hujan. Sedang berusaha mendiamkan hujan. Tanpa mengerjap senang ketika ia datang. Tanpa memerah ketika ia menjamah tanah-tanah kering. Tapi lihatlah, aku bahkan mengingat dan menulis tentang hujan, saat ia tak datang sekalipun. Huftt.

Memang, sudah selayaknya aku tidak bisa membenci hujan. Bukankah aku juga bagian dari langit? Bukankah hujan memang sering kali menenteramkan dan meninggalkan banyak sekali endapan memori? Meski belum tentu. Meski cerah juga begitu. Tapi hujan menyakitiku. Saat aku bahagia ia datang, aku pernah memberanikan diri menjamah hujan yang biasanya hanya kutatap dari balkon. Aku bernyanyi senang melawan hujan. Tak peduli kata orang bahwa mendekati hujan akan menimbulkan penyakit. Yang kutahu, hujan itu menenteramkan.
Tapi, hujan malah pergi. Pergi. Tak sedikit pun menyambutku yang siap menjamahnya. Hujan, kamu bahkan tak menyadari bahwa kamu menyakitiku. Kamu, akhir-akhir ini datang menyapaku. Aku (seperti biasa) menatapmu dari balkon. Masih tersenyum menatapmu. Karena hadirmu yang begitu saja, tetap menenteramkan.
Aku pernah menutup kamar biruku, tak mau menatap hujan. Kamu masih bergerimis, hujan. Masih. Suara rintikmu, yang tak kulihat saja, masih menenteramkan. Tapi, aku sedang sakit untuk sekadar melihatmu, walaupun kamu masih menenteramkan. Tapi mengapa, aku tak pernah bisa berlama-lama menutup pintu kamarku. Aku harus membukanya, kembali menatap rintikmu, seperti biasa.
Hujan, mengapa aku tak bisa membencimu? Benarkah memang rintik hujan yang akhirnya akan menulis cerita? Tapi bukankah masih ada semi, di mana bunga-bunga bermekaran. Atau gugur ketika semuanya menggugur. Atau rintik salju yang manis? Bukankah itu semua tak kalah indah dari rintik hujan?
Tapi bukankah itu semua tak ada dalam musimmu?
Entahlah, kalau memang rintik hujan yang akhirnya bercerita. Kumohon, jangan hanya biarkanku melihat dari balkon.

Pojok Biru 2,
10 Juni 2012
8.18

*sedang absurd dan undefined lagi. Semoga yang membaca tetap bisa mengambil makna. šŸ˜€ Semoga tidak merepresentasikan huruf-huruf ini dalam praduga-praduga. :p

Advertisements

One thought on “(membenci) hujan

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s