snmptn

Hari ini adalah hikmah yang akan kita petik di suatu masa nanti.

image

mengenakan almameter sekarang di almameter impian πŸ˜€

snmptn.
Sengaja tidak kutulis dengan huruf kapital, walaupun itu sebuah akronim, singkatan, kependekan, atau apalah namanya itu. Karena snmptn, pada dasarnya bukanlah suatu akhir dari sebuah perjuangan, maka tak perlu dibesar-besarkan. Walaupun demikian, tetap saja, cerita tentang snmptn ini selalu menjadi besar bagi mereka yang pada masanya sedang menjalani masa-masa snmptn ini. Begitupun aku.

Mendengar lagi kabar bahagia tentang beberapa adik kelas yang berhasil masuk universitas impiannya, mau tidak mau membuat memoriku memutar kembali piringan cerita dua tahun silam. Malam yang sama, kurang lebih seperti ini kondisinya, hanya saja ketika itu tidak ada perbedaan antara snmptn undangan atau tertulis. Snmptn, ketika itu, menjadi jalur terakhir untuk masuk PTN.
“Himsaaa, makasih doanya, aku seneng banget. Farmasi UGM alhamdulillah.” sahabatku mengirim pesan. Aku tersenyum ketika itu. Ikut bahagia.
Tak lama kemudian.
“Makasih, Him. Matematika UI alhamdulillah. Seneng puoool aku.” satu lagi sahabatku mengirimkan pesan. Aku ingat sekali, kita pernah sama-sama berjanji mengenakan jaket kuning bersama.
Aku juga bahagia mendengar kabar itu. Sampai-sampai tanpa sadar pipiku membasah.
Lalu, beberapa kabar bahagia semakin berdatangan. UI, ITB, UGM, dan beberapa PTN impian sahabat-sahabatku mereka genggam. Pipiku semakin basah. Ada perasaan bahagia, tapi juga sesak yang membuncah. Aku menangis, bahkan terisak. Bukan karena iri dan dengki karena mereka berhasil, tapi karena menyesali, aku tak pernah mencoba satu jalur pun untuk meraih impianku. (Mungkin, bisa dibaca, “Ungkapan Hati untuk Ayah dan Ibu“)
Mungkin, kalian ada pula yang merasa hal yang sama itu malam ini. Mungkin, ada pula yang menyesalkan kegagalannya menembus jalur SNMPTN. Silahkan menangis, silahkan bersedih, karena itu manusiawi. Tapi, jangan pernah menyalahkan takdir yang membuat hasilnya demikian. Karena kita tidak pernah tahu, di suatu hari nanti, air mata kita justru membawa kristal yang memancarkan bongkahan cahaya senyum. We never know. Bangkit dan usahakan lagi mimpi itu, jika masih bisa. Relakan dan berjuanglah di manapun kamu berada jika mimpi itu lepas. Karena bahagia itu, bukan hanya tentang impian yang tercapai. Bahagia itu tentang pilihan. Maka, mulai dari sekarang, mari bersama membangun sumber mata air kebahagiaan pada diri kita masing-masing, agar kita bisa memilih bahagia, di manapun kita berada.
Percayalah, hari yang kita bilang menyedihkan ini adalah hikmah yang akan kita petik di suatu masa. Cepat atau lambat, tabir-tabir kebahagiaan akan terbuka. Hikmah-hikmah bercerita. Yang perlu kita lakukan hanya menerima, lalu berjuang lagi dengan keras, tanpa perlu menyesal apalagi mengumpat pada takdir.
Sekali lagi, untuk yang malam ini menangis karena snmptn, menangislah karena itu manusiawi.
Dua tahun sejak air mata itu, aku bahkan sudah tidak sanggup menghitung banyaknya hikmah atas jalan yang dipilihkan Allah ini. Semuanya membiru bersama senyum-senyum penerimaan. Aku bahkan mengunjungi kampus impian itu. Walau pun sempat dipenuhi lagi oleh hawa sesak, tapi aku tersenyum. Skenario Allah itu tetap yang terbaik. Entah hikmah apalagi yang akan kudapat di masa nanti. But, I will do the best wherever I am. Semoga diri ini bisa menjadi bermanfaat untuk orang banyak. Karena apalah gunanya jadi mahasiswa kalau tidak bisa bermanfaat untuk ummat, bangsa, dan negara.
Kamu, atau siapapun yang sekarang dibuat patah hati oleh snmptn, jangan lama-lama bersedih. Jangan seperti aku yang kelamaan sedihnya. La Tahzan, Innallaha Ma’anaa. Bersiaplah untuk menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya dalam hidup. Atau sini peluk aku, aku tahu persis bagaimana sesaknya.
Semangat, Kawan! πŸ™‚

Tulisan ini ditulis dengan sepenuh hati, dengan beberapa tetesan air mata karena mengingat sesaknya, dan didedikasikan untuk adik-adik yang merasa kecewa dengan hasil yang diraih. Sekali lagi, jangan sedih. Percayalah, snmptn bukan segalanya dalam hidup. Imanlah segalanya dalam hidup. Coba deh buka mushaf, berkomunikasilah dengan-Nya. Rasakan ketenangannya. : )

Pojok Biru 2.
26 Mei 2012
23.48 WHH

Advertisements

9 thoughts on “snmptn

  1. bagaimanapun, kuliah di tempat yg tidak kita inginkan terasa menyiksa ..

    tapi Allah tau yang terbaik, Dia yg mengirimku ke tempat ini. untuk menyalakan lilin di kegelapan malam πŸ™‚

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s