Semangkuk Indomie Keju

Sudah berapa hari saya menceracau seperti ini heh? Sesekali berteriak: “DIAM!”. Semacam ingin mengutarakan banyak hal, tetapi malas. Cukup Allah, cukup Allah. Maka diam saja, Himsa! Biarkan saja menumpuk seperti presipitasi-presipitasi, mengendap, nanti ada yang meluruhkannya. Tuliskan saja, seperti yang biasa kamu lakukan.

Aaarg..Sudah berapa hari saya menulis dan tidak pernah selesai? Semuanya mengambang, padahal ide-ide mengembang. Aaah, ide-ide itu bahkan menceracau terus mendesak ingin ditulis, sementara otak tidak pernah sinkron dengan ide-ide yang terus berdemo ini. Kenapa saya ini? Jika jenuh adalah suatu kewajaran, mengapa ini terlalu lama? INI GAK WAJAR!!!

Maka tulisan ini ditulis dengan penuh nada menggebu-gebu (emang gimana Hims bunyi nada menggebu-gebu itu?entahlah, saya cuma pengen menulis!!) tak peduli jam 9.00 harus sampai kampus dan sekarang pukul 8.31 saya belum mandi. Nanti dulu. Saya harus menulis, kalau tidak, ada yang meledak ini. Saya harus menulis!! Apapun! Walaupun bukan ide-ide yang terus berdemo, setidaknya, huruf-huruf ini bisa sedikit membantu otak saya yang sepertinya mengalami disfungsional pada bagian menulis (sok tau banget tentang otak, Hims. Sekali lagi, entahlah!)

ya, sudah berhari-hari saya menulis, sudah ada banyak judul, semuanya tiba-tiba sudah besok saja deadlinenya, padahal semuanya juga sudah kupersiapkan dari minggu-minggu yang lalu. Tapi, semua tulisan itu sampai detik ini belum selesai! Saya bahkan tidak bisa menulis, sementara–lagi-lagi– ada bagian dari diri saya terus berdemo, berteriak, meminta menulis. Menulis! Maaf ide dan huruf-huruf yang berorasi di dalam diriku, saya sedang memperbaiki diri, mencari celah bagaimana caranya menulis lagi. Ini salah satu caranya.

Aaaah, apalagi blog-blog keren itu, semakin membuat huruf dan ide itu berteriak semakin keras minta ditunaikan haknya. “Saya punya hak asasi!!!” Mungkin begitu teriakannya. Ayolah, Hims. Tuliskan semuanya, selesaikan. DIAM, tuliskan saja! Lihatlah, kamu setiap pagi mencari ilmu dari blog-blog keren itu, harusnya kamu sadar, Hims. Mereka terus beramal dengan menulis. Kamu? Dari tadi membaca, geregetan, tapi tidak bisa menulis. Ngapain begini. Himsaaaaaa..

Tulis!!!!!!

Zzzz, inikah yang namanya passion? aidonno dengan definisi kata sekeren passion itu. Yang jelas, saya rindu menulis (bukan hanya rindu sebenarnya, adakah kata semacam ingin sesuatu selain rindu?). Saya RINDU menulis bebas, seperti saya rindu makan indomie goreng ditemani semangkuk keju. Lezat. Ya, mungkin karena menulis itu lezat.

Pojok Biru 2,

Minggu, 29 April 2012

8.39 WHH

saran: kalau kamu hobi dengan menulis atau mempunyai kelezatan lain sebanding dengan lezatnya menulis yang saya rasakan, tetapi kamu kesulitan melakukannya (seperti tulisan geje saya di atas), all you can do is just do it. Nggak peduli hasilnya ngaco. Ibarat kerinduan yang harus dibayar dengan pertemuan, maka dengan melakukan sesuatu yang kamu anggap sulit itu adalah sebuah pertemuan. Sementara nanti mau ngapain, itu terserah nanti. Yang penting bertemu dulu, puaskan dulu kerinduan itu. Begitu pun dengan menulis, tak peduli ga jelas bin geje bin ngaco, tapi ini cukup untuk sedikit melepas hasrat ingin menulis ini. Nanti, kalau kamu kembali merasa bahwa menulis itu mudah, baru selesaikan tulisan-tulisan hebatmu lagi! Salam pena dari azaleav!

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s